Problematika Korporasi dalam Kolaborasi Program Gandeng Gendong
HERJUNA RASYID, Dr. Krisdyatmiko, S.Sos., M.Si
2022 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANKemiskinan dan tingkat ketimpangan di Kota Yogyakarta merupakan salah satu persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian sekaligus penanganan. Program Gandeng Gendong hadir pada tahun 2018 sebagai salah satu manifestasi upaya pengentasan kemiskinan di Kota Yogyakarta. Program ini mendorong kolaborasi antar stakeholder pembangunan di Kota Yogyakarta yang dikenal dengan elemen 5K, yaitu: Kota, Kampus, Korporasi, Kampung dan Komunitas. Akan tetapi, pada tahun 2019-2020 tingkat ketimpangan di DIY mengalami peningkatan. Provinsi DIY menduduki peringkat tertinggi dengan tingkat ketimpangan Kota Yogyakarta berada di poin 0,421. Pada tahun 2020 dilakukan penelitian yang menunjukkan peran korporasi dan kampus belum optimal dalam Program Gandeng Gendong di Kelurahan Cokrodiningratan. Padahal pertumbuhan perusahaan di Kota Yogyakarta pada tahun 2018 sejumlah 1.689 dan korporasi yang beroperasi di Kelurahan Cokrodiningratan terdiri dari lima hotel berbintang dan satu perusahaan daerah air minum (PDAM) Kota Yogyakarta. Ketidakoptimalan peran korporasi tercermin pada minimnya peran dari korporasi di Kelurahan Cokrodiningratan. Program CSR yang diberikan oleh salah satu korporasi di Kelurahan Cokrodiningratan, dinilai tidak memuaskan karena program yang diberikan merupakan tidak mengarah kepada perbaikan ekonomi melalui perekrutan pekerja sekaligus program jangka pendek sehingga tidak ditemukannya program pemberdayaan yang berkelanjutan. Penelitian ini berlokasi di Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Konsep CSR dan pendekatan perspektif collaborative governance menjadi pisau analisis penelitian. Metode atau teknik pengumpulan data meminjam teknik pengumpulan data pada penelitian kuantitatif, yaitu purposive sampling dan dikombinasikan dengan snowball sampling serta studi pustaka. Informan dari penelitian ini, meliputi komponen: pemerintah, swasta, masyarakat dan kampus dengan jumlah informan sebanyak 15 orang. Proses pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan studi kepustakaan. Metode uji keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi data. Collaborative governance pada kolaborasi antara korporasi dan pemerintah masih utopis. Tidak optimalnya peran korporasi dalam kolaborasi Program Gandeng Gendong di Kelurahan Cokrodiningratan bukan dikarenakan tidak adanya peran yang dilakukan oleh korporasi. Tipe pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh korporasi-korporasi di Kelurahan Cokrodiningratan sebagian besar tergolong community relations karena mayoritas programnya bersifat charity. Selain itu, ketidakoptimalan peran korporasi ditambah dengan rendahnya pelaporan pengungkapan kegiatan CSR oleh perusahaan di Kelurahan Cokrodiningratan. Pengungkapan pertanggungjawaban kegiatan CSR di Kelurahan Cokrodiningratan tidak dipengaruhi oleh tipe industri. Sehingga aspek pengungkapan pertanggungjawaban kegiatan CSR merupakan hal yang harus mendapat perhatian lebih dari korporasi maupun pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu, terdapat delapan prinsip utama kolaborasi yang belum sepenuhnya dipenuhi dalam kolaborasi, sehingga menunjukkan kolaborasi yang tidak optimal. Peningkatan implementasi kolaborasi Program Gandeng Gendong di Kelurahan Cokrodiningratan pada tahun 2022 adalah adanya peranan kampus yang sejalan dengan konsep Program Gandeng Gendong, yaitu melakukan peningkatan kapasitas SDM untuk usaha mikro dan kecil yang dilakukan oleh Tim KKN-PPM UGM di RW 5-7 Kelurahan Cokrodiningratan.
Poverty and inequality in the city of Yogyakarta are of social problems that need attention and handling. The Gandeng Gendong program was presented in 2018 as a manifestation of poverty alleviation efforts in the city of Yogyakarta. The program encourages collaboration between stakeholders and development in the City of Yogyakarta which is known as the 5K elements, namely: City, Campus, Corporation, Village, and Community. However, in 2019-2020 the inequality level in DIY increased. The province of DIY is ranked highest with the level of inequality in the City of Yogyakarta at 0.421 points. In 2020, research was carried out which showed that the role of corporations and campuses was not optimal in the Collaborative Gandeng Gendong Program in Cokrodiningratan Village. Even though the growth of companies in the City of Yogyakarta in 2018 was 1,689, the corporations operating in the Cokrodiningratan Village consisted of five-star hotels and one regional drinking water company (PDAM) in the City of Yogyakarta. The non-optimum role of corporations is reflected in the minimal role of corporations in Cokrodiningratan Village. The CSR program provided by a corporation in the Cokrodiningratan Village was considered unsatisfactory because the program provided did not lead to economic improvement through the recruitment of workers as well as short-term programs so sustainable empowerment programs were not found. This research is located in Cokrodiningratan Village, Jetis Kemantren, Yogyakarta City. This study uses a descriptive qualitative research method. CSR concept and perspective approach collaborative governance be a knife of research analysis. Data collection methods or techniques borrow data collection techniques in quantitative research, namely purposive sampling and combined with snowball sampling as well as literature studies. The informants from this study included components: government, private sectors, community, and campus with a total of 15 informants. The data collection process was obtained through interviews, observation, documentation, and literature study. The data validity test method in this study uses data triangulation. Collaborative governance on collaboration between corporations and governments is still utopian. The non-optimal role of corporations in the collaboration of the Gandeng Gendong Program in Cokrodiningratan Village is not due to the absence of a role played by corporations. The type of implementation of the CSR program carried out by corporations in the Cokrodiningratan Village is mostly classified as community relations because the majority of the program is charity. In addition, the suboptimal role of the corporation is coupled with the low reporting of disclosure of CSR activities by companies in Cokrodiningratan Village. Disclosure of responsibility for CSR activities in Cokrodiningratan Village is not influenced by the type of industry. So that the aspect of disclosing responsibility for CSR activities is something that must get more attention from corporations and the Yogyakarta City government. In addition, there are eight main principles of collaboration that have not been fully fulfilled in collaboration, thus indicating collaboration that is not optimal. Increasing the implementation of the Gandeng Gendong Program collaboration in Cokrodiningratan Village in 2022 is the role of the campus which is in line with the concept of the Gandeng Gendong Program, namely increasing the capacity of human resources for micro and small businesses carried out by the UGM KKN-PPM Team in RW 5-7 Cokrodiningratan Village.
Kata Kunci : Korporasi, Program Gandeng Gendong, Pengentasan Kemiskinan / Corporations, Gandeng Gendong Program, Poverty Alleviation