Festival sendratari Daerah Istimewa Yogyakarta :: Suatu pengamatan dalam wacana dialektika
SUPADMA, Dr. A.M. Hermien Kusmayati
2003 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaINTISARI Festival sendratari Daerah Istimewa Yogyakarta diselenggarakan setiap tahun sekali. Pada awalnya berbentuk penyelenggaraan lomba dramatari. Peristiwa kesenian ini dimulai sejak tahun 1970. Ide dasarnya adalah untuk mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta. Langkah pertama yang dilakukan Sudarsa Pringgabrata selaku pemrakarsa ide beserta kawan-kawan adalah mengadakan kursus kader seni tari untuk masyarakat umum dengan materi beberapa tarian klasik gaya Yogyakarta ke setiap kabupaten se- DIY. Sebagai panitia penyelenggara adalah Kantor Inspeksi Kebudayaan Yogyakarta (Dinas Kebudayaan), bekerjasama dengan Kantor Bidang kesenian, Dewan Kesenian Yogyakarta, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), dan Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta (ASTI) dengan dukungan para empu atau pakar seni, dan para budayawan. Lomba dramatari antara tahun 1970-1973 hanya diikuti oleh kontingen Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Bantul. Kontingen Kotamadya Yogyakarta terlibat dalam lomba drarnatari baru pada tahun 1974, karena dianggap memiliki seniman-seniman yang lebih berkualitas dibanding dengan kabupaten lain. Pada tahun 1975 lomba dramatari oleh panitia diubah menjadi festival sendratxi. Perubahan format lomba dramatari menjadi festival sendratari menyiratkan adanya perubahan paradigma penyelenggaraan, dari orientasi lomba untuk meraih kejuaraan berganti orientasi semacam pesta kesenian saja. Perjalanan festival sendratari antara tahun 1980--2000 merupakan fase penyelenggaraan yang banyak ditandai beberapa perkembangan, antara lain bentuk sajian sendratari, tata aturan festival, bentuk dan luas arena pentas, sumber cerita dan tema garapan, kebebasan kreasi, serta unsur-unsur pendukung elemen pertunjukan yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sajian sendratari. Sebagai kelanjutan media pengembangan tari klasik gaya Yogyakarta, festival sendratari Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami dinamika kemajuan yang membanggakan. Para seniman pelaku festival sendratari selalu ingin menampilkan hasil kreasi sendratari sesuai dengan kernampuan kreatifnya. Namun hasil kreasi tersebut oleh para pengamat baik dari unsur panitia, para pakar tari dan budayawan dianggap perlu mendapatkan pengamatan, kritik dan saran untu k meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu atmosfir dialektis antara para seniman dan para pakar tari serta budayawan terjadi sejak persiapan karya sendratari sampai acara evaluasi penyelenggaraan festival sendratari. Berdasarkan kenyataan di atas, penelitkin ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan penyelenggaraan festival sendratari dengan melihat peran dan kontribusi seniman, para pakar seni, budayawan, para birokrat bersama warga masyarakat dalam penyelenggaraan festival sendratari sebagai kelanjutan media pengembangan tari gaya Yogyakarta dalm wacana dialektika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang memerlukan pendekatan multi disiplin dari berbagai cabang ilmu seperti sejarah, sosiologi, dan antropologi untuk mengupas permasalahan yang muncul. Diharapkan dengan pendekatan tersebut dapat dipahami terjadinya proses perkembangan festival sendratari baik yang menyangkut teknis penyelenggaraan festival maupun bentuk sajian sendratari.
INTISARI Festival sendratari Daerah Istimewa Yogyakarta diselenggarakan setiap tahun sekali. Pada awalnya berbentuk penyelenggaraan lomba dramatari. Peristiwa kesenian ini dimulai sejak tahun 1970. Ide dasarnya adalah untuk mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta. Langkah pertama yang dilakukan Sudarsa Pringgabrata selaku pemrakarsa ide beserta kawan-kawan adalah mengadakan kursus kader seni tari untuk masyarakat umum dengan materi beberapa tarian klasik gaya Yogyakarta ke setiap kabupaten se- DIY. Sebagai panitia penyelenggara adalah Kantor Inspeksi Kebudayaan Yogyakarta (Dinas Kebudayaan), bekerjasama dengan Kantor Bidang kesenian, Dewan Kesenian Yogyakarta, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), dan Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta (ASTI) dengan dukungan para empu atau pakar seni, dan para budayawan. Lomba dramatari antara tahun 1970-1973 hanya diikuti oleh kontingen Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Bantul. Kontingen Kotamadya Yogyakarta terlibat dalam lomba drarnatari baru pada tahun 1974, karena dianggap memiliki seniman-seniman yang lebih berkualitas dibanding dengan kabupaten lain. Pada tahun 1975 lomba dramatari oleh panitia diubah menjadi festival sendratxi. Perubahan format lomba dramatari menjadi festival sendratari menyiratkan adanya perubahan paradigma penyelenggaraan, dari orientasi lomba untuk meraih kejuaraan berganti orientasi semacam pesta kesenian saja. Perjalanan festival sendratari antara tahun 1980--2000 merupakan fase penyelenggaraan yang banyak ditandai beberapa perkembangan, antara lain bentuk sajian sendratari, tata aturan festival, bentuk dan luas arena pentas, sumber cerita dan tema garapan, kebebasan kreasi, serta unsur-unsur pendukung elemen pertunjukan yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sajian sendratari. Sebagai kelanjutan media pengembangan tari klasik gaya Yogyakarta, festival sendratari Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami dinamika kemajuan yang membanggakan. Para seniman pelaku festival sendratari selalu ingin menampilkan hasil kreasi sendratari sesuai dengan kernampuan kreatifnya. Namun hasil kreasi tersebut oleh para pengamat baik dari unsur panitia, para pakar tari dan budayawan dianggap perlu mendapatkan pengamatan, kritik dan saran untu k meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu atmosfir dialektis antara para seniman dan para pakar tari serta budayawan terjadi sejak persiapan karya sendratari sampai acara evaluasi penyelenggaraan festival sendratari. Berdasarkan kenyataan di atas, penelitkin ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan penyelenggaraan festival sendratari dengan melihat peran dan kontribusi seniman, para pakar seni, budayawan, para birokrat bersama warga masyarakat dalam penyelenggaraan festival sendratari sebagai kelanjutan media pengembangan tari gaya Yogyakarta dalm wacana dialektika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang memerlukan pendekatan multi disiplin dari berbagai cabang ilmu seperti sejarah, sosiologi, dan antropologi untuk mengupas permasalahan yang muncul. Diharapkan dengan pendekatan tersebut dapat dipahami terjadinya proses perkembangan festival sendratari baik yang menyangkut teknis penyelenggaraan festival maupun bentuk sajian sendratari.
Kata Kunci : Seni Tari,Festival Sendratari,Dialektika