Dividing the Informal: Digital Inequalities among Informal Food Vendors in Bandung
DINDA PRIMAZEIRA, Suzanna Eddyono, S.Sos., M.Si., MA, Ph.D.
2022 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPengantar Penelitian ini bermula dari hipotesis atas ketidaksetaraan digital terjadi seiring dengan berkembangnya penetrasi layanan berbasis platform digital, termasuk layanan pengantaran makanan berbasis permintaan. Kerangka teoretis Pada proses analisis data, teori sumber daya dan apropriasi menyediakan kerangka untuk memahami proses apropriasi. Untuk melengkapi diskusi dengan interpretasi yang terperinci mengenai bagaimana ketidaksetaraan digital terjadi pada konteks kewirausahaan digital, digunakan konsep kapital Bourdieu. Metode Penelitian kualitatif ini menggunakan desain penelitian studi kasus eksploratif. Observasi terstruktur di delapan wilayah terpilih dan wawancara mendalam kepada sepuluh pengusaha makanan digunakan pada tahap pengumpulan data. Pada proses analisis, metode analisis tematik dan tematik naratif digunakan untuk menginterpretasikan data yang sudah diperoleh. Hasil Secara umum, temuan penelitian ini menunjukkan ketidaksetaraan penetrasi platform digital, termasuk layanan pengantaran makanan berbasis permintaan, di antara usaha-usaha makanan yang berlokasi di wilayah observasi. Secara spesifik, hasil penelitian ini juga menunjukkan beragam pengalaman para pengusaha makanan informal dalam mengintegrasikan layanan pengantaran makanan berbasis permintaan pada bisnis yang dijalankan. Diskusi Pengalaman para pengusaha dalam mengapropriasi layanan pengantaran makanan berbasis permintaan terdiri dari tiga tahapan, yaitu: 1) pendaftaran; 2) pembiasaan; dan 3) penggunaan menerus. Sebelum mendaftarkan pada layanan tersebut, terdapat prasyarat sumber daya yang perlu dipenuhi oleh para pengusaha. Pada setiap tahap, orientasi digital dan ekosistem kewirausahaan berperan signifikan pada keterikatan digital. Kesimpulan Ketidaksetaraan digital usaha-usaha makanan informal pada apropriasi layanan pengantaran makanan berbasis permintaan ditentukan oleh agensi para pemilik usaha. Akan tetapi, ketidaksetaraan yang terjadi berbeda secara signifikan dengan konsep ketidaksetaraan digital yang sebelumnya telah mapan, terutama karena aksesibilitas terhadap layanan ini sangat bergantung pada pemenuhan prasyarat sumber daya dan proses pendaftaran.
Introduction The research started from the hypothesis that digital inequalities were prevalent in conjunction with the emerging penetration of digital platform-based services, including on-demand food delivery services. Theoretical framework In analyzing the data, the theory of resources and appropriation provided a framework to understand the process of appropriation. To complement the discussion with a more detailed interpretation of how digital inequalities occurred in the context of digital entrepreneurship, the concept of capital from Bourdieu is used. Methods This qualitative study incorporates an exploratory case study design. Structured observation in eight selected areas and in-depth interviews with ten entrepreneurs were used in the data collection stage. In the analytical process, thematic and thematic narrative methods were used to interpret the collected data. Result In general, findings showed penetration inequalities of digital platforms, including on-demand food delivery services, among the informal food enterprises in the observational area. More specifically, the results also presented varied experiences of informal food vendors in integrating on-demand food delivery services into their businesses. Discussion The experiences in appropriating on-demand food delivery services constitute three stages, including 1) registration; 2) familiarization; and 3) continuous utilization. Before registering for the services, some prerequisite requirements needed to be fulfilled by the entrepreneurs. In each stage, the digital orientation and the entrepreneurial ecosystem of entrepreneurs played a significant role in determining the results. Conclusion Digital inequality of informal food enterprises in relation to digital platforms is influenced by the agency of business owners. However, the inequalities in the platform economy were significantly different from the previously-established digital inequality, particularly because accessibility of the services is very dependent on the fulfillment of the prerequisite resources registration process.
Kata Kunci : digital appropriation, digital entrepreneurship, digital inequality, platform-based services, informal food vendors, apropriasi digital, kewirausahaan digital, ketidaksetaraan digital, layanan berbasis platform, pedagang makanan informal