Luaran Klinis Pasien Cytomegalovirus Kongenital Pasca Terapi Gansiklovir dengan Epilepsi Belum Terkontrol, Cerebral Palsy Tetraparesis Spastik, Global Developmental Delay, Sensory Neural Hearing Loss, Pneumonia, dan Gizi Buruk Tipe Marasmik
DITYA DEVALE R, Prof. Dr. dr. E. S. Herini, Sp.A (K); Dr. dr. Nurnaningsih, Sp.A (K)
2022 | Tesis-Spesialis | ILMU KESEHATAN ANAKLatar belakang: Infeksi kongenital cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu infeksi virus paling umum yang menyebabkan infeksi kongenital. Transmisi intrauterin merupakan jalur utama transmisi yang dapat memberikan sekuele neurologis, antara lain epilepsi, cerebral palsy, tuli sensorineural, dan gangguan kecerdasan. Presentasi kasus: Anak perempuan berusia 5 tahun yang dengan riwayat CMV kongenital (telah mendapat terapi Gansiklovir), epilepsi belum terkontrol, cerebral palsy tetraparesis spastik, global developmental delay, sensory neural hearing loss, pneumonia, dan gizi buruk tipe marasmik. Pasien ini memerlukan pemantauan jangka panjang berkaitan dengan pengobatan yang diterima dan evaluasinya, serta penanganan komplikasi yang muncul akibat penyakit maupun efek samping obat. Pengobatan epilepsi memerlukan waktu yang lama sehingga mengurangi risiko terjadinya putus obat atau pengobatan yang tidak adekuat. Tatalaksana cerebral palsy dilakukan fisioterapi rutin. Pemantauan tumbuh kembang dan nutrisi dilakukan secara berkala. Kesimpulan: Pasien dengan infeksi CMV kongenital memerlukan penanganan yang menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga diharapkan dapat mencegah perburukan penyakit, tercapainya kesembuhan, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Background: Congenital cytomegalovirus (CMV) infection is one of the most common viral infections that cause congenital infections. Intrauterine transmission is the main route of transmission that can give neurological sequelae, including epilepsy, cerebral palsy, sensorineural deafness, and intelligence disorders. Case presentation: A 5 year old girl with a history of congenital CMV (had received Ganciclovir therapy), uncontrolled epilepsy, spastic tetraparesis cerebral palsy, global developmental delay, sensory neural hearing loss, pneumonia, and marasmic type malnutrition. The patient requires long-term monitoring related to the treatment received and its evaluation, as well as the management of complications that arise due to the disease and drug side effects. Epilepsy treatment requires a long time, thereby reducing the risk of drug withdrawal or inadequate treatment. The management of cerebral palsy is carried out by routine physiotherapy. Monitoring of growth and development and nutrition is carried out regularly. Conclusion: Patients with congenital CMV infection require comprehensive and continuous treatment, so that it is expected to prevent disease worsening, achieve recovery, and have a better quality of life.
Kata Kunci : infeksi CMV kongenital, cerebral palsy, epilepsi