Laporkan Masalah

Asosiasi Kerawanan Pangan dengan Kesejahteraan Subjektif Masyarakat Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

AFRA HANIFAH PRASASTISIWI, Dr. Amelia Maika, S.Sos., M.A.

2022 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Latar Belakang: Isu kerawanan pangan yang sejak lama ada kini semakin meningkat selama pandemi COVID-19 secara global. Indonesia merupakan salah satu negara yang fokus dalam pembenahan kerawanan pangan, mengingat angka kerawanan pangan di Indonesia yang tidak kecil selama pandemi. Kondisi kerawanan pangan berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan subjektif yang dirasakan aktor yang bersangkutan. Studi ini akan mengkaji asosiasi kerawanan pangan dengan kesejahteraan subjektif beserta determinan yang menyertainya. Metode: Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan data seknder. Data sekunder yang digunakan yakni milik Bank Dunia dengan judul "Indonesia: High-Frequency Monitoring of COVID-19 Impacts 2020". Dalam penelitian ini, dipilih data hasil survei babak ke-4 yang diambil pada tanggal 03-15 November 2020. Unit penelitian ini adalah rumah tangga dengan responden kepala keluarga atau pasangan yang mewakilkan. Proses pengolahan data dilakukan dengan teknik analisis kasus yang lengkap (complete-case) dan jumlah sample akhir yang digunakan sebanyak 3,941 data. Seluruh data kemudian diolah secara deskriptif dengan chi-square dan secara inferensial menggunakan metode analisis regresi logistik ordinal. Hasil: Karakteristik sosiodemografi kepala rumah tangga secara statistik terbukti memiliki asosiasi dengan kerawanan pangan dan kesejahteraan subjektif. Asosiasi yang kuat terlihat pada determinan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan lokasi tempat tinggal. Sementara determinan jenis kelamin dan usia tidak ditemukan signifikan di beberapa model persamaan dan signifikan di level 5% pada sebagian lainnya. Selanjutnya, hasil uji juga membuktikan kerawanan pangan memiliki asosiasi dengan kesejahteraan subjektif rumah tangga dengan mengontrol variabel sosiodemografi pada model. Kesimpulan: Melalui hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa ketimpangan menjadi faktor yang mendasari adanya kerawanan pangan dan berasosiasi dengan kesejahteraan subjektif masyarakat. Rumah tangga dengan kepala keluarga laki-laki, usia produktif, pendidikan tinggi, ekonomi tinggi, dan menetap di daerah urban memiliki risiko rendah untuk mengalami kerawanan pangan serta memiliki kesejahteraan subjektif lebih baik dibandingkan kelompok yang mengalami ketimpangan. Sehingga penting bagi masyarakat untuk memiliki sistem pangan yang inklusif atau yang dapat menjangkau seluruh kelompok secara lebih merata.

Background: The long-standing issue of food insecurity has intensified during the global COVID-19 pandemic. Indonesia is one of the countries that focuses on improving food insecurity, considering the number of food insecurity in Indonesia is not small during the pandemic. The condition of food insecurity is related to the low subjective welfare felt by the actors concerned. This study will examine the association of food insecurity with subjective welfare and its determinants. Methods: This study was conducted using a quantitative approach using secondary data. The secondary data belongs to the World Bank titled "Indonesia: High-Frequency Monitoring of COVID-19 Impacts 2020". This study selected data from the 4th round of survey results taken from November 3rd to 15th, 2020. The unit of this research is household, with respondents are head of the family or a representative spouse. The data processing was carried out using the complete-case analysis technique, and the final sample size used is 3,941. All data were then processed descriptively with chi-square and inferentially using the ordinal logistic regression analysis method. Results: The sociodemographic characteristics of household heads were statistically proven to have associations with food insecurity and subjective welfare. Strong associations were seen in the determinants of economic background, education, and residential location. At the same time, the determinants of gender and age were not found to be significant in some equation models and significant at the 5% level in others. Furthermore, the test results also prove that food insecurity is associated with a household's subjective welfare by controlling for sociodemographic variables in the model. Conclusion: Through statistical tests, it can be concluded that inequality is the underlying factor of food insecurity and is associated with people's subjective welfare. Households with a male head of household, productive age, high education, high economic status, and living in urban areas have a low risk of food insecurity and better subjective welfare than those with inequality. Therefore, it is important for society to have an inclusive food system or one that can reach all groups more evenly.

Kata Kunci : Kerawanan Pangan, Kesejahteraan Subjektif, Ketimpangan, Capability to Function, Regresi Logistik Ordinal

  1. S1-2022-443232-abstract.pdf  
  2. S1-2022-443232-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-443232-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-443232-title.pdf