DETERMINAN KEMISKINAN EKSTREM DI INDONESIA TAHUN 2019
Imansyah, S.St, Sekar Utami Setiastuti, M.Sc., Ph.D.
2022 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanPemerintah negara-negara di dunia sepakat untuk menghapus kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 melalui komitmen yang tertuang dalam dokumen Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, Presiden Indonesia menginstruksikan untuk menghapus kemiskinan ekstrem enam tahun lebih cepat dibandingkan target SDGs yaitu menghilangkan segala bentuk kemiskinan ekstrem di Indonesia pada tahun 2024. Oleh karena itu, diperlukan program dan kebijakan penanggulangan kemiskinan ekstrem yang tepat untuk mencapai target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kemiskinan ekstrem di Indonesia menggunakan mikro data SUSENAS Maret tahun 2019. Metode analisis yang digunakan adalah binary logistic regression dengan control regional fixed-effect dan unit analisis tingkat rumah tangga. Hasil estimasi menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah ART usia 15 tahun ke atas dan jumlah ART usia 15 tahun ke atas yang bekerja mengurangi risiko rumah tangga menjadi miskin ekstrem. Rumah tangga yang memperoleh kredit dari program KUR, bank umum, BPR, koperasi, perorangan (dengan bunga), KUBE dan BUMDes memiliki kecenderungan lebih rendah menjadi miskin ekstrem. Dari karakteristik geografis dan demografi, rumah tangga yang tinggal di perdesaan, KRT perempuan, usia KRT dan jumlah ART meningkatkan risiko rumah tangga menjadi miskin ekstrem. Untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan akses pendidikan, lapangan pekerjaan dan kredit keuangan kepada penduduk miskin esktrem, selain itu, diperlukan program pemberdayaan KRT perempuan, pengintensifan program keluarga berencana serta pemerataan pembangunan infrastruktur fisik dan peningkatan aksesibilitas pelayanan publik di perdesaan.
The Governments of countries in the world have agreed to eradicate extreme poverty by 2030 through commitments in Sustainable Development Goals (SDGs). However, the President of Indonesia has instructed to eradicate extreme poverty in Indonesia six years earlier by 2024. Therefore, extreme poverty reduction programs and policies are needed to achieve these targets. This study aims to analyze the determinants of extreme poverty in Indonesia. The data used in this study were collected from National Socio-Economic Survey (SUSENAS) in March 2019. The analytical method used is binary logistic regression with regional fixed-effect and unit of analysis at the household level. The estimation results show that the adult average of schooling and the number of adult working people in households reduce the probability of households being in extreme poverty. Households that receive credit from program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Commercial Banks, Rural Banks (BPR), cooperative institutions, individuals (with interest rate), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), and Village-Owned Enterprises (BUMDes) have a lower probability to become extreme poverty. From geographic and demographic characteristics, households living in rural areas, female household heads, age of household heads, and the number of household members increase the probability of becoming extreme poverty. To eradicate extreme poverty, the Indonesian government should increase access to education, employment, and financial credit for those living in extreme poverty. In addition, implementation of empowerment programs for female household heads, intensification of family planning and birth control programs as well as equitable distribution of physical infrastructure development and increased accessibility of public services in rural areas.
Kata Kunci : Kemiskinan ekstrem, pendidikan, pekerjaan, kredit keuangan, binary logistic regression.