Laporkan Masalah

DESA KEMIREN DALAM ARUS PEMBANGUNAN IDENTITAS POLITIK DAN KEBUDAYAAN DAERAH SELAMA PERIODE ORDE BARU (1970-1999)

MUHAMMAD AGUNG P P, Dr. Nur Aini Setiawati, M. Hum

2022 | Tesis | MAGISTER SEJARAH

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah pertanyaan mengapa upaya membangun identitas lokal dilakukan melalui kebudayaan Using yang kemudian dipusatkan di Desa Kemiren, lalu bagaimana dinamika identitas tersebut terus disemaikan para aktor terlibat yang melakukan pengelolaan kekuasaanya dalam bayang-bayang politik selama proses dinamika identitas politik baru. Tanpa membicarakan permasalahan tersebut, analisis terhadap pembentukan dan penguatan pondasi identitas Using dapat dikatakan tak dapat menjamah substansialnya. Penelitian ini membahas dinamika membangun identitas politik melalui kebudayaan Using Kemiren dan bagaimana identitas tersebut kemudian dimainkan para aktor yang terlibat dalam dinamika sosial budaya politik di Banyuwangi masa Orde Baru sampai Pasca Reformasi. Untuk dapat menjawab permasalahan itu, penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan memanfaatkan sumber primer dan sekunder, seperti arsip-arsip resmi berupa surat keputusan, wawancara dengan pelaku sejarah, dan menggunakan referensi lain seperti buku, jurnal, dan koran. Tesis ini menyimpulkan bahwa, Identitas Using sudah ada dan berkembang sejak masa kolonial Belanda. Perjalanan historis yang cukup panjang menempatkan identitas masyarakat Using sebagai masyarakat yang banyak di stigmasi buruk oleh pihak luar sebagai masyarakat pemberontak, pinggiran, buangan, primitif dalam arti sangat tradisional, dan menjadi bahan olok-olok pihak luar komunitasnya. Dalam upaya membangun identitas tersebut pertama kali dilakukan dengan berusaha menghapus stigmasi-stigmasi buruk yang melekat melalui segala entitas yang menyangkut identitas Using termasuk kebudayaan. Selama upaya membangun identitas tersebut diikuti oleh dinamika atas pemerintahan yang berkuasa dan menandai fase-fase pertumbuhan identitas Using. Bupati Joko Supaat Slamet merupakan orang yang pertama kali meletakkan dasar identitas Using. Tugas pertama dari Bupati Joko Supaat Slamet dengan menghapus entitas dari Identitas Using sebagai bagian dari kelompok Kiri. Maka, dalam fasenya disebut sebagai fase dekomunisasi. Fase berikutnya masa pemerintahan Samsul Hadi disebut sebagai fase administratif. Fase berikutnya masa pemerintahan Ratna Ani Lestari disebut sebagai fase re-identifikasi. Dari dinamika yang berlangsung diikuti oleh dinamika politik lokal, khususnya pada Desa Kemiren yang dijadikan sebagai pusat kebudayaan Using sejak masa Orde Baru. Pada masa otonomi daerah, Desa Kemiren semakin diperebutkan sebagai ladang pertumbuhan identitas yang dapat membawa keuntungan secara ekonomi politik. Usaha dalam mencitrakan perasaan peduli serta simpati terhadap kultural Using dipresentasikan oleh nyaris seluruh Bupati di Banyuwangi mulai Orde Baru hingga pasca Reformasi, meski pada paradigma intensitas yang berbeda. Hal tersebut perlu ditafsir bahwasanya usaha tersebut tidak sekedar untuk pengembangan identitas secara ansicht, tetapi secara luas menjadi konstituen dalam merepresentasikan identitas mereka yang merupakan orang Banyuwangi yang berimbas pada dukungan dan legitimasi politik masyarakat di Banyuwangi, khususnya Desa Kemiren.

This research started with a question why the local identity building conducted in Using village, and then How does the identity transformed and pinned by involved party who administering power under political shadows during new political identity transformation process. Regardless these problems, the analysis on building and strengthening the Using identity foundation can be said still unable to touch the substances. The research discuss the effort of building Using identity through Using Kemiren village and how the identity played by involved party in political social culture transformation in Banyuwangi. In order to respond to these questions, this research used historical method by utilizing primary and secondary sources, such as official archive in form of decree, interview with historical actors, and various references such as books, journals, and newspapers. This thesis findings are, first Using identity as blueprint deliberately and not a natural continuity involving cultural practitioners, journalists, artists, intellects, tradition figures, and national administrators. Second, Using identity construction, transformation, negotiation, mobility are placed on various interests that are fought for. For those political elites and local authorities, Using village represented as unique and exotic object which has political and economical potential value. The attempt of imaging sympathetic and caring feeling on Using culture represented by almost of all of Banyuwangi regents from the New Order until Post-Reformation, despite on various paradigm intensity. This items must be interpreted as the attempt is not only for identity development in ansicht way, but extensively as constituent in representing their identity as Banyuwangi people which affect the community political support and legitimacy in Banyuwangi, especially on Using village.

Kata Kunci : Desa Kemiren, Identitas, Politik, Kebudayaan Using

  1. S2_2022_467165_Abstract.pdf  
  2. S2_2022_467165_bibliography.pdf  
  3. S2_2022_467165_Tableofcontent.pdf  
  4. S2_2022_467165_Title.pdf