Laporkan Masalah

Kesesuaian lahan untuk tanaman kakao (Theobroma cacao L) dalam wilayah Kecamatan Buru Utara Selatan Kabupaten Buru Provinsi Maluku

MEY, Djafar, Drs. Jamulya, MS

2003 | Tesis | S2 Geografi

Wilayah Kecamatan Buru Utara Selatan Kebupaten Buru Provinsi Maluku merupakan wilayah yang direncanakan untuk perluasan areal pertanian dan perkebunan salah satunya adalah tanaman kakao, namun data tentang kesesuaian lahan detail pada tingkat satuan pengelolaan belum tersedia, sehingga perlu diadakan penelitian yang bertujuan untuk : menetapkan kesesuaian lahan aktual dan kesesuaian lahan potensial sampai pada tingkat satuan pengelolaan, sekaligus menetapkan satuan lahan yang menjadi prioritas untuk pengembangan tanaman kakao pada lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pola pendekatan analitik. Lokasi penelitian dibuat dalam bentuk satuan lahan dengan teknik sampling purposive sampling. Data yang dikumpulkan di lapangan adalah kemiringan lereng, panjang lereng, kondisi drainase tanah, kedalaman tanah efektif, struktur tanah, bahaya banjir/genangan, erosi, kondisi batuan dipermukaan. Data iklim, data sosial ekonomi, dan data sifat kimia tanah menggunakan data sekunder. Kesesuaian lahan ditentukan menggunakan metode pembandingan antara kualitas lahan yang tersedia pada setiap satuan lahan dengan kriteria kesesuaian lahan tanaman kakao, sedangkan prioritas pengembangan ditentukan dengan menjumlahkan skor kesesuaian lahan dengan skor analisis SWOT. Dari hasil pembandingan untuk 13 satuan lahan diperoleh 4 kesesuaian lahan aktual yaitu : 1) S3wf seluas 3094,1 ha (46,35 %); 2) N1r seluas 640,2 ha (9,59 %); 3) N1s seluas 810,0 ha (12,13 %); 4) N2r seluas 2131,5 ha (31,93 %), dan diperoleh 7 kesesuaian lahan potensial yaitu : 1) S2w-1 seluas 1561,3 ha (23,39 %); 2) S2w-2 seluas 1204,7 ha (18,08 %); 3) S2w-3 seluas 640,2 ha (9,59 %); 4) S2wr-1 seluas 327,5 ha (4,90 %); 5) S3s-3 seluas 495,0 ha (7,41 %); 6) N1s-3 seluas 316,0 ha (4,72 %); dan 7) N2r-3 seluas 2131 ha (31,93 %). Berdasarkan hasil penjumlahan antara skor kesesuaian lahan dengan skor hasil analisis SWOT diperoleh satuan lahan prioritas I seluas 3406,8 ha (51,04 %) yaitu A111Hs, A111S, A111A, A111K, A111Sb, A111Hk dan A112A; prioritas II seluas 327,5 ha (4,90 %) yaitu H223Hk; prioritas III seluas 495,0 ha (7,41 %) yaitu H323Hk,; dan satuan lahan yang tidak diprioritaskan seluas 2446,5 ha (36,65 %) yaitu H324Hk, H324A, H424Hk dan M525Hk. Untuk memperoleh produktivitas kakao yang tinggi, strategi yang dilakukan dalam pengelolaan lahan sejak tahun pertama adalah pemberian mulsa, pengapuran, pemupukan untuk satuan lahan A111Hs, A112A, A111S dan H223Hk; perbaikan drainase untuk satuan lahan A111Hs, A112A dan A111S; pemindahan stoniness pada tempat penanaman tanaman kakao untuk satuan lahan H223Hk dan H323Hk; serta pembuatan teras pada satuan lahan H323Hk. Untuk meningkatkan taraf hidup petani kakao, strategi yang harus dilakukan adalah perluasan areal produksi, kursus-kursus dan pelatihan tenaga kerja (petani kakao), pengembangan infra-struktur, pengadaan saprodi, pengadaan lembaga keuangan (bank) sebagai tempat peminjaman modal, pembukaan pasar, serta membangun mitra usaha dengan bapak asuh atau pabrik.

The area of Southern North Buru sub-district Buru Regency, Maluku Province has been land designed for extended agricultural and plantation areas with one of its cultivar is cacao. However, data on detailed land suitability at management unit level have not been available yet. Therefore, it is required to conduct a research aimed to identify actual and potential land suitability at management unit level and determine land units prioritized for cacao development in the research site. The present research exploited survey method with analytical pattern approach. Research area to make in land unit with sampling technic purposive sampling. Data gathered in the field were slope, length of slope, soil drainage condition, effective soil depth, soil structure, floods/puddle, erosion, surface rocks condition. Data on climate, social-economy, soil chemical properties were treated as secondary data. Land suitability was determined using comparison method between available land quality at individual land unit based on suitability criterions of cultivated land for cacaos. While, prioritized development was determined by summing suitability scores of land with scores of SWOT analysis. Based on comparison results on 13 land units, four actual land suitability were found as the following : 1) S3wf with broads 3094,1 ha (46,35 %); 2) Nlr with broads 640,2 ha (9,59 %); 3) N1s with broads 810,0 ha (12,13 %); 4) N2r with broads 2131,5 ha (31,93 %); and seven potencial land suitability were found as the following : 1) S2w-1 with broads 1561,3 ha (23,39 %); 2) S2w-2 with broads 1204,7 ha (18,08 %); 3) S2w-3 with broads 640,2 ha (9,59 %); 4) S2wr-1 with broads 327,5 ha (4,90 %); 5) S3s-3 with broads 495,0 ha (7,41 %); 6) N1s-3 with broads 316,0 ha (4,72 %); and 7) N2r-3 with broads 2131,5 ha (31,93 %). Based on the summation of suitability scores and scores of SWOT analysis, it was found firstly prioritized land units with broads 3406,8 ha (51,04 %) i.e. A111Hs, A111S, A111A, A111K, A111Sb, A111Hk, and A112A; secondly prioritized land unit with broads 327,5 ha (4,90 %) i.e. H223Hk; thirdly prioritized land unit with broads 495,0 ha (7,41%) i.e. H323Hk; and un-prioritized land units with broads 2446,5 ha (36,65 %) i.e. H324Hk, H324A, H424Hk and M525Hk. To obtain higher cacao products, strategies performed since the first year were mulching, lime application, fertilizing land units of A111Hs, A112A, A111S and H223Hk; drainage improvement on land units of A111Hs, A112A, A111S; stoniness replacement at cultivated cacao site for land units of H223Hk and H323Hk; and terrace development on land units of H323HK. To improve life level of cacao peasants, it was suggested to perform following strategies, i.e extended product area, courses and trainings for workers (cacao peasants), infrastructure development, product facilities supply, providing financial institutions (bank) as capital funding agency, market opening, and building business partnership with foster companies or plants.

Kata Kunci : Geografi Fisik Lahan Kakao

  1. Abstrak_Djafar_Mey_Kesesuaian_Lahan_untuk_Tanaman_Kakao.pdf  
  2. Dafpus_Djafar_Mey_Kesesuaian_Lahan_untuk_Tanaman_Kakao.pdf  
  3. Daftar_isi_Djafar_Mey_Kesesuaian_Lahan_untuk_Tanaman_Kakao.pdf  
  4. halaman_judul_Djafar_Mey_Kesesuaian_Lahan_untuk_Tanaman_Kakao.pdf