Analisis Riwayat Kasus dan Faktor Risiko Helminthiasis pada Kucing di Tiga Klinik Hewan di Kota Yogyakarta Periode Tahun 2021
TSAGILSHA NURINDRA, drh. Fatkhanuddin Aziz, M.Biotech., Ph.D.
2022 | Tugas Akhir | D4 Teknologi VeterinerSalah satu penyakit pada kucing yang perlu diperhatikan yaitu helminthiasis karena bersifat subklinis dan dapat berpotensi zoonosis. Tujuan dari penyusunan proyek akhir ini adalah untuk mengetahui riwayat kasus dan faktor risiko helminthiasis pada kucing di Kota Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan menginterpretasi data sekunder yaitu data rekam medis pasien kucing di tiga klinik hewan yang ada di wilayah Kota Yogyakarta selama periode Januari sampai dengan Desember 2021. Analisis data statistik non-parametrik (Chi Square) menggunakan software SPSS 26.0. Prevalensi kasus helminthiasis pada kucing di Kota Yogyakarta pada tahun 2021 yaitu 14,65%. Berdasarkan tingkat kecamatan, prevalensi paling tinggi di Kecamatan Gondokusuman 39,7%. Kasus helminthiasis mengalami fluktuatif setiap bulannya, prevalensi paling tinggi pada bulan Maret yaitu 13,8%, diikuti bulan Oktober 12,1%, dan paling rendah pada bulan Mei 3,4%. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat prevalensi helminthiasis pada kucing betina 50,9% lebih tinggi dibandingkan pada kucing jantan 49,1%, akan tetapi perbedaan tidak signifikan (P>0,05; OR>1). Kucing yang berumur <1 tahun berisiko 1,8 kali tertular helminthiasis (P<0,05; OR>1) dengan tingkat prevalensi 76,7% dibandingkan kucing yang berumur >1 tahun 23,3%. Prevalensi kucing yang belum diberikan obat cacing 88,8%, sedangkan kucing kucing yang sudah diberikan obat cacing 11,2%. Persentase pemberian anthelmintik pada kucing masih tergolong rendah, sehingga 1,9 kali lebih berisiko tertular helminthiasis (P<0,05; OR>1). Diagnosis klinis kasus helminthiasis antara lain lemas, nafsu makan menurun, dehidrasi, muntah, diare, gerakan peristaltik meningkat, dan ditemukan telur atau larva cacing di dalam muntahan atau feses kucing. Manajemen pengobatan dengan anthelmintik yang mengandung senyawa aktif seperti pyrantel pamoat, praziquantel, dan albendazole, serta terapi suportif dengan menggunakan vitamin B kompleks. Pemberian anthelmintik secara rutin merupakan salah satu tindakan preventif dan terapi untuk mencegah infeksi cacing.
Helminthiasis is a common problem in pets, which is subclinical and potentially zoonotic. The study was aimed to evaluating the case history of feline helminthiasis in Yogyakarta and risk factors associated with their occurence. The research methodology employed is descriptive analytic with a cross-sectional design. Data was collected by recording medical records at three veterinarian clinics in the Yogyakarta City region from January to December 2021. Analysis non-parametric statistical data (Chi Square) with SPSS 26.0 software. The prevalence of helminthiasis in cats in the city of Yogyakarta in 2021 was 14,65 %. Gondokusuman subdistrict has the highest prevalence 39,7%. Case histories of helminthiasis fluctuate every month, the highest prevalence was in March 13,8%, followed by October 12,1%, and the lowest was in May 3,4%. Data revealed that the prevalence of helminthiasis in female cats was 50,9% more than in male cats 49,1%, however the difference was not statistically significant (P>0,05; OR>1). Younger cats are 1,8 times more likely to get helminthiasis (P<0,05; OR>1), with a prevalence rate of 76,7% compared to older cats 23,3%. As a result, cats that have not been dewormed have a risk of developing helminthiasis of 1,9 times (P<0,05; OR>1), which has a high prevalence of 88,8 % compared to cats who have dewormed 11,2 %. Weakness, a loss of appetite, dehydration, vomiting, diarrhea, and an increase in peristaltics were all signs of helminthiasis, and worm eggs or larvae were discovered in the vomit or cat feces. Management of treatment involving supportive therapy utilizing vitamin B complex as well as anthelmintics contain active substances pyrantel pamoate, praziquantel, and albendazole. Regular administration of anthelmintics effective to prevent helminthiasis in cats.
Kata Kunci : helminthiasis, kucing, prevalensi, faktor risiko, anthelmintik