Laporkan Masalah

No Environmental Justice without Gender Justice: The Case of Green Belt Movement in Kenya

KANAYA RATU APRILLIA, Dr. Ririn Tri Nurhayati, S.I.P., M.Si., M.A.

2022 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Krisis iklim dan degradasi lingkungan menjadi salah satu isu yang mendesak saat ini. Kata malapetaka terjadi di setiap belahan dunia. Sayangnya, dampak yang dialami tidak merata. Bencana lingkungan yang disebabkan oleh manusia ini semakin membebani kelompok yang terpinggirkan, khususnya perempuan, masyarakat adat, dan negara-negara Selatan Global. Karena dampak yang tidak merata dari degradasi lingkungan pada perempuan, ada alasan kuat untuk mendorong pendekatan sensitif gender untuk menyelesaikan masalah ini. Penelitian ini membahas tentang strategi Green Belt Movement di Kenya dalam mengatasi deforestasi yang terjadi di negara tersebut. Dengan menggunakan teori Ekologi Politik Feminis, penelitian ini berusaha menganalisis keberhasilan GBM dalam menanggulangi degradasi lingkungan melalui pendekatan interseksionalnya yang berhasil mewujudkan keadilan lingkungan dan keadilan gender. Melalui aksi sederhana penanaman pohon, gerakan ini berhasil menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan sekaligus mewujudkan keadilan gender. Melalui strategi ini, sebagian besar masyarakat, terutama perempuan Kenya, dapat menggunakan lembaga dan kekuatan pengambilan keputusan yang diperlukan untuk membangun ketahanan lingkungan di tingkat lokal. Keberhasilan GBM dalam mencapai keadilan lingkungan dan keadilan gender pada dasarnya berakar pada pendekatan akar rumput, taktik non-kekerasan, integrasi kearifan lokal dan budaya. Karena keberhasilannya di Kenya, strategi GBM kemudian dapat direplikasi di komunitas atau negara lain dalam memerangi krisis iklim yang berbahaya dan degradasi lingkungan.

Climate crisis and environmental degradation have been deemed as one urging issue in the present time. Said catastrophic occur in every part of the world. Unfortunately, the impact does not equally experienced. This human-induced environmental catastrophic put more burden in marginalized group, specifically women, indigenous people, and Global South countries. Due to the unequal impacts of environmental degradation on women, there are strong reasons to encourage gender-sensitive approach to solve the issue. This research discuss on the strategy of Green Belt Movement in Kenya in tackling the prevalent deforestation within the country. Using the Feminist Political Ecology theory, this research strive to analyse the success of GBM in tackling environmental degradation through its intersectional approach that manage to bring about environmental justice and gender justice. Through its simple act on tree planting, the movement manage to solve the issue of environmental degradation while at the same time bring about gender justice. Through this strategy, the majority of people, especially Kenyan women, can exercise the agency and decision-making power required to build environmental resilience at the local level. The success of GBM in achieving environmental justice and gender justice essentially rooted in its grassroot approach, nonviolent tactics, integration of local and cultural wisdom. Owing to its success in Kenya, the strategy of GBM can then be replicated in other communities or countries in the fight against hazardous climate crisis and environmental degradation.

Kata Kunci : Environmental Degradation, Environmental Justice, Gender Justice, Green Belt Movement, Kenya

  1. S1-2022-425564-abstract.pdf  
  2. S1-2022-425564-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-425564-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-425564-title.pdf