Strategi Perempuan dalam Protes Shaheen Bagh Mempertahankan Disiplin Nirkekerasan Gerakan di Bawah Politik Mayoritas Patriarkal India
MAULIDITA KIRANA, Dr. Diah Kusumaningrum; Dr. Muhammad Rum; Muhammad Irfan Ardhani, MIR
2022 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALProtes Shaheen Bagh merupakan protes sipil nirkekerasan yang diprakarsai oleh perempuan Muslim India untuk menentang tindak represif aparat kepolisian terhadap sejumlah protes damai mahasiswa, sekaligus menentang diberlakukannya Citizenship Amendmend Act (CAA 2019) dan National Register of Citizen (NRC). Sifat diskriminatif kedua Undang-Undang ini yang membawa garis agama dan mensyaratkan sejumlah dokumen, terbukti lebih mengancam perempuan. Sebagai gerakan tanpa pemimpin, Shaheen Bagh berhasil memperluas partisipasi gerakan, menarik dukungan dari berbagai pihak, serta mempertahankan disiplin nirkekerasan dengan mengkombinasikan metode-metode nirkekerasan yang beragam. Perempuan berhasil memperluas batas-batas protes dan membawa gerakan menjadi lebih inklusif untuk melawan polarisasi pemerintah mayoritas yang represif sekaligus menantang negara yang androsentris. Di bawah ruang publik India yang patriarkal dan didominasi oleh logika supremasi Hindu, skripsi ini berargumen bahwa perempuan mengambil peran sentral dalam memanfaatkan peran gender dan ciri cosiologisnya untuk berperan aktif mengkatalisis gerakan dan berhasil memenuhi unsur dari teori Disiplin Nirkekerasan oleh Pinckney (2016). Penting untuk diteliti lebih lanjut bagaimana perempuan dari kelompok minoritas India memobilisasi gerakan dan berhasil mempertahankan disiplin nirkekerasan gerakan ditengah iklim politik mayoritas sayap kanan Bharatiya Janata Party (BJP) yang represif. Penelitian ini sekaligus ingin menghadirkan aspek gender terhadap hubungannya dengan disiplin nirkekerasan dalam suatu gerakan untuk membuktikan keterkaitan antara keduanya.
The Shaheen Bagh protest was a nonviolent civil disobedience initiated by Indian Muslim women in response to the widespread repression and police brutality in a numerous peaceful student protest, and mainly opposed the enactment of two discriminatory laws--the Citizenship Amendment Act (CAA 2019) and the National Register of Citizen (NRC). The religious based and the requirement of document of these two laws has proven to be more threatening for women under the Indian traditional and gendered norms. As a women-led movement, Shaheen Bagh succeeded in expanding the movement's participation, attracting support from various parties, and maintaining its nonviolent discipline while combining various nonviolent methods. Women of Shaheen Bagh expanded the protest boundaries beyond societal lines and transformed its exclusive goals to challenge the polarization of the repressive and androcentric state. Under the India's patriarchal public sphere and the logic domination of Hindu supremacy, this thesis argues that women of Shaheen Bagh took key strategic role in utilizing gender roles and capitalized their sociological features to actively participate in maintaining Pinckney's theory of Nonviolent Discipline (2016). It is crucial to examine how women from India's minority groups mobilized and managed to sustain the movement's nonviolent discipline amid India's repressive right-wing politics, Bharatiya Janata Party (BJP). Furthermore, this research aims to explore the gender aspect of nonviolent discipline in a movement to prove the relationship between the two.
Kata Kunci : Protes Shaheen Bagh, Gerakan Perempuan, Disiplin Nirkekerasan, Strategi Nirkekerasan, Citizenship Amendmend Act, Politik India, Bharatiya Janata Party