Laporkan Masalah

Strategi Gerakan Sosial Baru dalam Mengkonstruksi Memori Kolektif: Studi Kasus Aksi Kamisan

RIFQI AHMAD MAKARIM, Dr. Ratnawati, S.U.

2022 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Peristiwa pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia menyisakan kegetiran sekaligus harapan yang dirawat oleh memori kolektif. Guna memperjuangkan keadilan, berbagai komponen masyarakat sipil mengkonsolidasikan diri dalam bentuk gerakan-gerakan sosial, khususnya ketika wacana HAM mulai direkognisi secara luas. Aksi Kamisan muncul sebagai salah satu contoh gerakan yang mendorong penyelesaian kasus oleh negara, sekaligus membentuk budaya aktivisme dan wacana pertentangan melalui memori kolektif. Penelitian ini mengangkat judul "Strategi Gerakan Sosial Baru dalam Mengkonstruksi Memori Kolektif: Studi Kasus Aksi Kamisan" dengan rumusan masalah tentang bagaimana strategi Aksi Kamisan dalam mengkonstruksi memori kolektif tentang pelanggaran HAM masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi Aksi Kamisan sebagai GSB dalam mengkonstruksi memori kolektif dan praktik politisasi terhadapnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian berupa data primer yang diperoleh dari wawancara terhadap pegiat Aksi Kamisan dan data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka. Data penelitian tersebut kemudian diolah dan dianalisis melalui metode deskriptif-analisis. Sedangkan, landasan teori yang digunakan penelitian ini adalah teori memori kolektif dan teori gerakan sosial baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aksi Kamisan menggunakan strategi mobilisasi sumber daya dan framing guna mengkonstruksi memori kolektif tentang pelanggaran HAM. Upaya tersebut dilanjutkan dengan politisasi melalui pembentukan identitas kolektif; pelibatan aspek ruang, simbol, dan emosi; serta pembentukan kontestasi guna merawat keberadaan gerakan dan wacana pertentangan. Kerja politik Aksi Kamisan menunjukkan bahwa sejarah pelanggaran HAM tidak dipandang sebagai sejarah yang statis dan tertinggal di belakang sana, akan tetapi merupakan sejarah yang aktif dimobilisasi oleh kepentingan politik dan budaya, sekaligus sejarah yang melawan.

Incidents of past human rights violations in Indonesia left bitterness as well as hope that was nurtured by collective memory. In order to fight for justice, various components of civil society have consolidated themselves in the form of social movements, especially when the human rights discourse has begun to be widely recognized. Aksi Kamisan emerged as an example of a movement that encourages the resolution of cases by the state, while at the same time forming a culture of activism and contentious discourse through collective memory. This research has the title "New Social Movement Strategy in Constructing Collective Memory: A Case Study of Aksi Kamisan" with the formulation of the problem on how the strategy of Aksi Kamisan in constructing collective memory of past human rights violations. This study aims to explain the strategy of Aksi Kamisan as NSM in constructing collective memory and the practice of politicizing it. This research is a qualitative research with case study method. Research data in the form of primary data obtained from interviews with the activists of Aksi Kamisan and secondary data obtained from literature studies. The research data was then processed and analyzed through descriptive-analytical methods. Meanwhile, the theoretical basis used in this research is the theory of collective memory and the theory of new social movements. The results showed that Aksi Kamisan used a strategy of resource mobilization and framing to construct a collective memory of human rights violations. These efforts were continued with politicization through the formation of collective identity; involving aspects of space, symbols, and emotions; and the formation of contestations in order to maintain the existence of movements and contentious discourses. The political work of Aksi Kamisan shows that the history of human rights violations is not seen as a history that is static and left behind, but is a history that is actively mobilized by political and cultural interests, as well as a history of resistance.

Kata Kunci : Aksi Kamisan, pelanggaran HAM, memori kolektif, gerakan sosial baru

  1. S1-2022-428282-abstract.pdf  
  2. S1-2022-428282-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-428282-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-428282-title.pdf