Laporkan Masalah

Pengaruh tekanan saat proses pencetakan terhadap karakteristik mortar dari agregat ringan

KUSUMAWARDANINGSIH, Yuliarti, Ir. Kardiyono Tjokrodimuljo, ME

2003 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Penelitian untuk memanfaatkan breksi batu ringan asal desa Bawuran, kecamatan Pleret, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk pembuatan beton ringan sedang banyak dilakukan. Penelitian mengenai karakteristik mortar yang dibuat dari pasir buatan asal desa tersebut juga telah dilakukan, tetapi hanya dilakukan dengan pencetakan tanpa proses pengepresan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekanan yang diberikan pada saat proses pencetakan terhadap karakteristik mortar yang dihasilkan. Pengaruh tekanan terhadap susutan mortar diperiksa pada umur 1,7,14 dan 28 hari. Pada penelitian ini digunakan mortar yang dibuat dari air, semen portland pozzolan dan pasir buatan hasil dari pemecahan batu ringan di desa Bawuran. Rancangan adukan mortar dibuat dengan perbandingan volume semen : pasir = 1: 8 dengan nilai sebar ± 70%. Tekanan yang diberikan pada saat pencetakan benda uji bervariasi sebesar 0,05; 0,10; 0,15; 0,20 dan 0,25 MPa. Benda uji mortar dibuat berbentuk kubus ukuran 50mm x 50mm x 50mm (untuk pengujian berat jenis, serapan air dan kuat tekan mortar), balok ukuran 50mm x 50mm x 300mm (untuk pengujian susutan mortar) dan bentuk seperti angka delapan ukuran panjang 76,2mm; lebar 44,45mm; tinggi 2,54mm dan lebar bagian kecil 25,4mm (untuk pengujian kuat tarik mortar). Pada setiap pengujian dibuat 3 buah benda uji. Hasil penelitian menunjukkan pasir buatan asal desa Bawuran dapat digolongkan sebagai agregat ringan dengan berat jenis dan berat satuan pasir = 1,489 dan 1,05. Mortar yang dipadatkan secara manual, berkarakteristik : berat jenis = 1,41; serapan air = 13,10%; kuat tekan = 2,83 MPa dan kuat tarik = 0,48 MPa. Semakin tua umur mortar semakin besar susutan mortarnya. Semakin besar tekanan pengepresan yang diberikan, semakin bertambah berat jenis, kuat tekan dan kuat tarik mortar yang dihasilkan, tetapi semakin berkurang serapan air dan susutan mortarnya. Sedangkan mortar yang dipadatkan dengan pengepresan pada tekanan pengepresan 0,25 MPa berkarakteristik : berat jenis = 1,42; serapan air = 9,34%; kuat tekan = 2,81 MPa dan kuat tarik = 0,16 MPa. Juga didapatkan hubungan bahwa mortar yang saat pencetakannya dipadatkan secara manual, dibandingkan dengan mortar yang saat pencetakannya dipadatkan dengan pengepresan (menggunakan tekanan 0,25 MPa), menghasilkan mortar dengan nilai berat jenis dan kuat tekan yang hampir sama. Mortar yang dihasilkan pada penelitian ini, memiliki kuat tekan dan serapan air yang memenuhi syarat untuk dibuat sebagai : bata beton berlubang, bata beton pejal dan batu cetak beton. Sebagai bata beton untuk lantai tidak memenuhi persyaratan serapan air, dan sebagai genteng beton perlu dilakukan uji lentur untuk memperoleh beban lentur maksimumnya.

Researches to make artificial sand that is from Bawuran village, Pleret sub district, Bantul regency, the extraordinary region of Yogyakarta more useful, are being done. Researches about mortar characteristics from its artificial sand have been done, but the casting is without pressing process. The aims of this research are to know the effect of the pressure on the characteristic and the shrinkage of mortar. The pressure influences to shrinkage of mortars are investigated on 1, 7, 14 and 28 days old. This research is use mortars that are made from water, portland pozzolan cement and artificial sand from Bawuran village. It uses design of mixture mortars with comparison of cement: sand = 1: 8 and the spread ± 70%.. The pressure that are used in pressing process are 0,05; 0,10; 0,15; 0,20 and 0,25MPa. There are 3 shape of mortar samples: cubic sizes 50mms x 50mms x 50mms (for specific gravity, water absorption and compression test), beam sizes 50mms x 50mms x 300mms (for shrinkage test) and as similar as eight numeral sizes length 76,2mms; width 44,45mms; height 2,54mms and the little sizes width 25,4mms (for tension test). The result of this research are the artificial sand from Bawuran village can be classified as lightweight aggregate with specific gravity = 1,489 and bulk density = 1,05. Mortars with manual casting process have characteristics: specific gravity = 1,41; water absorption = 13,10%; compressive strength = 2,83MPa and tension strength = 0,48MPa. Increasingly the age of mortars will increase the shrinkage of mortars. Increasingly the pressure in the casting process will increase the specific gravity, compressive and tension strength of mortars, but the water absorption and the shrinkage of mortars will be decreased. Mortars with pressing casting process have characteristics (0,25MPa pressures): specific gravity = 1,42; water absorption = 9,34%; compressive strength = 2,81MPa and tension strength = 0,16MPa. Therefore the relation between mortars with manual and pressing casting process (0,25MPa pressures) will produced the similar specific gravity and compressive strength of mortars. Mortars that are resulted in this research have specific gravity and compressive strength that is fulfilled the requirement for: hole, solid concrete brick and cast concrete stone. As floor concrete brick, these mortars are not good in water absorption, and as genteng concrete these mortars are need to have bend test to get its maximum bending force.

Kata Kunci : Beton Ringan, Breksi Batu Ringan, Mortar,Tekanan, pressure, compaction, casting, mortars, lightweight aggregate.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.