Kaul sebagai Upaya Penyembuhan Sakit Orang Jawa dalam Serat Tatacaranipun Tiyang Ngluwari Punagi: Kajian Semiotika Budaya
FADLI MOHAMAD I, Dr. Sulistyowati, M.Hum.
2022 | Skripsi | S1 SASTRA JAWAManuskrip Jawa adalah wujud karya sastra yang mengandung nilai kearifan lokal masyarakat kulturnya, salah satunya Serat Tatacaranipun Tiyang Ngluwari Punagi (STTNP). Praktik kaul sakit dalam manuskrip (STTNP) merupakan manifestasi kearifan lokal orang Jawa mengenai pengetahuan penyembuhan sakit. Praktik kaul sakit menjadi tanda bahasa sekaligus tanda budaya yang menarik diteliti kaitannya dengan aspek makna semiotikanya. Peneliti menggunakan sudut pandang linguistik dan semiotika budaya guna mengidentifikasi dan mengklasifikasi Satuan Lingual Penanda Kaul Sakit (SLPKS), menganalisis makna denotasi, konotasi, metabahasa, mitos, dan rasionalisasi mitos kaul sakit sebagai upaya penyembuhan sakit orang Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni dengan menggunakan teknik simak catat dan teknik Pancing Cakap Semuka Rekam Catat (PCSRC). Data dianalisis dengan metode distribusional (agih) dan padan referensial. Analisis lanjutan menggunakan pendekatan semiotika budaya Roland Barthes, yakni dengan Teori Metabahasa dan Konotasi. Hasil analisis data disajikan menggunakan melalui deskripsi dan uraian kasus data. Hasil analisis menunjukkan bahwa kaul sakit diyakini oleh orang Jawa mampu menyembuhkan sakit yang tidak kunjung sembuh. Analisis identifikasi dan klasifikasi SLPKS menunjukkan adanya aspek pelaku, tindakan, bentuk kaul, dan sebagainya dari praktik kaul sakit yang ditandai oleh SLPKS berupa kata, frasa, klausa, kalimat, maupun wacana. SLPKS berkembang secara metabahasa dan konotasi, kemudian menghasilkan mitos. Pelaku kaul meyakini bahwa kaul sakit adalah cara alternatif mempercepat kesembuhan. Rasionalitas mitos kaul sakit di era sekarang dapat dijelaskan dengan analogi Cognitive Behavioral Therapy dalam konsep reward dan punishment, yaitu berkaul memotivasi pikiran, mental, dan diri seseorang untuk selalu yakin terhadap kesembuhan.
Javanese manuscript is a manifestation of literary work that contains local wisdom of the cultural community, such as Serat Tatacaranipun Tiyang Ngluwari Punagi Manuscript (STTNP). The practice of sick in the manuscript (STTNP) is a manifestation of local wisdom values from the Javanese which represent mindset and knowledge of illness healing. The researcher uses a linguistic and cultural semiotic approach to identify the Lingual Units of Sick Vows (LUSV), analyze the semiotics meaning, and explain the rationalization of sick vows in the healing efforts of the Javanese. This study uses a qualitative descriptive method that using the note-taking and the note-taking speaking technique. Data is analysed by distributional and referential equivalent methods. The further analysis uses the cultural semiotic ap-proach from Roland Barthes, namely with the Metalanguage and Connotation Theory. The results of data analysis are presented using a descriptive method. The results of the analysis show that the practice of taking sick vows in the STTNP is a cultural entity that is believed by the Javanese who are never recovered. Analysis of the identification of LUSV shows that there are aspects from the practice of taking sick vows which are marked by LUSV in the form of words, phrases, clauses, sentences, and discourses. LUSV produces myths by developing in metalanguage and connotations. The rationality of the myth of sick vows in the current era can be explained by the analogy of Cognitive Behavioural Therapy in the concept of reward and punishment.
Kata Kunci : kaul, penyembuhan, sakit, semiotika budaya, manuskrip Jawa.