Transformation of Erau: from a Private Ritual to a Public Performance
AHMAD RIDHA MUBARAK, Dr. M. Iqbal Ahnaf
2022 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAPerayaan Erau telah menjadi bagian dari masyarakat Kutai sejak lama. Sebagaimana produk budaya pada umumnya, fungsi Erau telah mengalami pergeseran dalam berbagai aspek. Pada mulanya Erau merupakan bagian dari kehidupan sosial keagamaan masyarakat Kutai lama. Ketika Kerajaan Kutai Kartanegara memerintah, ia mengadopsi Erau. Erau pun segera menjadi ikon kerajaan yang diadakan untuk melantik raja baru atau untuk mengenang jasa para pahlawan kerajaan. Setelah kerajaan runtuh, pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan Erau dengan dalih pelestarian budaya. Penelitian ini membahas tentang transformasi Erau dalam kurun waktu yang berbeda, dengan fokus pada apa yang memotivasi transformasi Erau dan bagaimana ia melalui transformasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi buku, artikel jurnal, dan media lain yang terkait dengan Erau, untuk kemudian direfleksikan dengan teori apropriasi dan akulturasi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Erau beralih fungsi menjadi alat politik dan ekonomi bagi penyelenggaranya. Bagi Kerajaan Kutai Kartanegara, Erau berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh kepercayaan dan kepatuhan rakyat kepada kerajaan. Bagi pemerintah daerah, Erau dikomersialkan untuk meningkatkan perekonomian dalam bentuk objek wisata. Kontak antara budaya yang berbeda, termasuk budaya lokal dan budaya global, berkontribusi pada distorsi tujuan Erau. Selain itu, ia juga memicu perubahan dalam pelaksanaan dan makna Erau.
The celebration of Erau has been part of the Kutai society for ages. Like any other cultural products, Erau has shifted in various terms. At first, Erau was part of socio-religious life of the old Kutai society. When the Kingdom of Kutai Kartanegara began to reign, it adopted Erau, and soon Erau became the kingdom's icon which was held to inaugurate a new king or to commemorate services of the kingdom's heroes. After the kingdom came to dismissal, the local government took over the management of Erau in order to preserve the cultural heritage of Kutai. This research discusses the transformation of Erau over different periods of time. It examines what motivates the transformation of Erau and how it goes through such transformation. Employing qualitative approach, the data are obtained through interviews and documentation of books, journal articles, and any other media related to Erau, to be reflected with the theories of cultural appropriation and acculturation. The result shows that Erau became political and economic tools for its organizer. For Kutai Kartanegara Kingdom, Erau serves as a medium to acquire people's trust and submission to the kingdom. For the local government, Erau is commercialized to enhance its economy in forms of tourist attraction. Contact between different cultures, including local cultures and global cultures, contributes to this distortion of purposes of Erau. Moreover, it also results in changes in the implementation and meaning of Erau.
Kata Kunci : Erau, Kutai Kartanegara, transformation, cultural appropriation, acculturation