Daya Dukung Lahan Pertanian Dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kawasan Sleman Timur
PAULINA NARESWARI F, Joni Purwohandoyo, S.Si. M.Sc
2022 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHKawasan Sleman Timur merupakan bagian dari Kabupaten Sleman yang secara administratif berada di pinggiran Kota Yogyakarta. Kondisi tersebut dapat meningkatkan laju konversi lahan yang dapat menekan laju penurunan ketersediaan lahan. Pemenuhan kebutuhan lahan baik untuk kegiatan perdagangan, jasa, sosial budaya, serta rumah hunian akan berdampak pada pemanfaatan ruang sehingga lahan pertanian berpotensi digunakan sebagai lahan terbangun. Kapasitas daya dukung lahan pertanian dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan menjadi terancam. Salah satu dampak yang terjadi dari fenomena tersebut adalah potensi perubahan daya dukung lahan pertanian. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini mencakup identifikasi daya dukung lahan pertanian Kawasan Sleman Timur tahun 2011-2020, identifikasi hubungan daya dukung lahan pertanian dengan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kawasan Sleman Timur, dan analisis arahan kebijakan swasembada pangan terkait Daya Dukung Lahan pertanian dan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kawasan Sleman Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan unit analisis desa. Teknik perhitungan daya dukung lahan menggunakan pendekatan produktivitas lahan. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari hasil pencatatan instansi pemerintah, yaitu Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Sleman. Metode SWOT yang bersifat kuantitatif digunakan dalam perumusan strategi serta arahan kebijakan dalam mewujudkan kemandirian pangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan daya dukung lahan pertanian pada sebagian besar desa di Kawasan Sleman Timur antara tahun 2011-2020. Penurunan daya dukung lahan pertanian dan perubahan status menjadi wilayah yang tidak mampu berswasembada pangan tersebar pada desa yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Depok dan desa yang dilalui oleh jalan arteri primer. Pengaruh penurunan daya dukung lahan pertanian juga mengarah pada wilayah di sekitarnya. Sebagian besar desa memiliki potensi internal yang lemah tetapi memiliki faktor eksternal berupa kebijakan LP2B yang cukup. Berdasarkan analisis dengan metode SWOT, terdapat 7 desa (36%) yang tergolong dalam tipe II, 4 desa (21%) tergolong pada tipe III, serta 8 desa (42%) terletak pada tipe IV yang memiliki potensi internal dan eksternal yang lemah
The East Sleman is administratively located in Sleman Regency that are directly adjacent to urban fringe of Yogyakarta. Since urban development continues to occur, this strategic location is vulnerable to conversion of agricultural land and resulting to the reduction of land availability. Agricultural land is potentially converted to built-up land to meet the demands for residential housing, services and socio-cultural activities. The carrying capacity of agricultural land that supports the food security and selfsufficiency is under the threat. This study was conducted to identify the carrying capacity of agricultural land in the East Sleman Region in 2011-2020, the relationship between the carrying capacity of agricultural land and the Sustainable Agricultural Land Protection Policy in the East Sleman Region, and the direction of food selfsufficiency and security policies in relation to the sustainable food security and the agricultural land carrying capacity in East Sleman Region. This quantitative study was carried out to analyse villages as the unit of analysis. The land carrying capacity was measured using the land productivity approach. Secondary data obtained from the Department of Agriculture, Food and Fisheries of Sleman Regency, and the Department of Land and Spatial Planning of Sleman Regency were regarded. The data were then quantitatively analysed using SWOT method to formulate proper strategies and policy directions to support food security. The results of this study showed that declines in the carrying capacity of agricultural lands in most villages in the East Sleman Region between 2011-2020 caused many villages that are adjacent to Depok District and villages that are traversed by main roads unable to develop food security. The effect of this decline also affected the surrounding areas. Most of the villages had weak internal potential but had adequate external factors related to the Sustainable Agricultural Land Protection Policy. The SWOT analysis showed that seven villages (36%) included in type II, four villages (21%) included in type III, and eight villages (42%) included in type IV
Kata Kunci : Daya Dukung Lahan Pertanian, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan,Carrying Capacity of Agricultural Land, Sustainable Food Agriculture Land Protection Policy