Pengaruh Micro-Hub pada Last-Mile Delivery PT. Nusantara Card Semesta dengan Menggunakan Optimasi dan Simulasi
GABRIEL EVANGELION C, Ir. Bertha Maya Sopha, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.
2022 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRIPerkembangan e-commerce yang semakin pesat memberikan tantangan tersendiri untuk sistem logistik perkotaan di Indonesia, sehingga mendesak adanya inovasi baru. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kurangnya efisiensi pendistribusian barang. Kurangnya efisiensi ini menyebabkan jumlah dan rute perjalanan kendaraan pengangkut barang menjadi sangat tinggi. Salah satu solusi yang belakangan ini muncul adalah penggunaan fasilitas micro-hub pada logistik perkotaan. Micro-hub digunakan sebagai fasilitas replenishment atau pengisian ulang barang pada kendaraan, dan umumnya berada dekat dengan customer. Sehingga dengan adanya micro-hub ini diharapkan dapat menurunkan jumlah perjalanan kendaraan dan meningkatkan efisiensi dari logistik perkotaan. Penelitian ini menerapkan optimasi dan simulasi untuk melihat pengaruh adanya fasilitas micro-hub terhadap waktu pengantaran barang dan emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan. Optimasi pada penelitian ini ditujukan untuk menentukan lokasi optimal dari micro-hub, yang akan menjadi inputan pada pembangunan model simulasi. Penentuan lokasi optimal dari micro-hub menggunakan maximal covering location problem (MCLP), sedangkan model simulasi dibuat menggunakan agent-based modelling (ABM) dengan studi kasus pendistribusian barang PT. Nusantara Card Semesta (NCS) Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya fasilitas micro-hub berpengaruh terhadap total waktu pengantaran barang, jarak tempuh kendaraan dan emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan. Lokasi optimal fasilitas micro-hub berada pada Kecamatan Seyegan, Sleman dan Kecamatan Kasihan, Bantul. Dengan adanya micro-hub di 2 lokasi tersebut, hasil rata-rata total waktu pengantaran barang yang didapatkan adalah 464,35 menit atau lebih cepat 27,67 menit dibandingkan dengan simulasi base model atau kondisi nyata. Kemudian, emisi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan juga lebih sedikit 5315,17 gram dibandingkan dengan base model.
The increasingly rapid development of e-commerce presents its own challenges for the city logistics system in Indonesia, thus urging new innovations. One of the challenges is the lack of efficiency in the distribution of goods. This lack of efficiency causes the number of vehicles and routes for transporting goods to be very high. One solution that has recently emerged is the use of micro-hub facilities in city logistics. The micro-hub is used as a replenishment facility and generally located close to the customer. With the existence of micro-hub, it is expected to reduce the number of vehicle trips and increase the efficiency of city logistics. This study applies optimization and simulation to see the effect of the existence of a micro-hub facility on the delivery time of goods and the CO2 emissions produced by vehicles. The optimization in this research is aimed at determining the optimal location of the micro-hub, which will be the input for the simulation model. Maximal covering location problem (MCLP) is used to determine the optimal location of the micro-hub, while the simulation model was made using the agent-based modeling (ABM) with a case study of the distribution of goods at PT. Nusantara Card Semesta (NCS) Yogyakarta. The results of this study indicate that the presence of a micro-hub facility affects on the total delivery time of goods, the distance traveled by the vehicle, and the CO2 emissions produced by vehicles. The optimal location for micro-hub facilities is in Seyegan District, Sleman and Kasihan District, Bantul. With the existence of micro-hubs in these 2 locations, the average total delivery time obtained is 464.35 minutes or 27.67 minutes faster than the simulation of the base model or real conditions. Then, the CO2 emissions produced by the vehicle are also 5315.17 grams less than the base model.
Kata Kunci : city logistics, micro-hub, maximal covering location problem, agent-based modelling, NCS Yogyakarta.