Analisis Wacana Kritis Pidato Kim Nam-jun pada Peluncuran Generation Unlimited Perseerikatan Bangsa-Bangsa
ALDA ALDERA GEARY, Prof. Dr. Heru Nugroho
2022 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPidato yang dibawakan oleh Kim Nam-jun pada Peluncuran Generation Unlimited Perserikatan Bangsa-Bangsa menarik perhatian publik, khususnya di media sosial dan memiliki pengaruh kuat di kalangan penggemar mereka. Pidato memiliki kemampuan untuk mempersuasi dan membentuk persepsi pendengar terhadap topik yang dibawakan, namun pidato yang dibawakan oleh Kim Nam-jun dipandang semata-mata sebagai bentuk kepedulian kelompok musiknya terhadap isu ketimpangan dan kekerasan yang dialami oleh pemuda di seluruh dunia. Penelitian ini mengkaji secara kritis teks pidato yang dibawakan Kim Nam-jun pada Peluncuran Generation Unlimited Perserikatan Bangsa-Bangsa menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) dari Teun A. van Dijk, dengan teori Politik Representasi Judith Butler sebagai pisau analisis. Melalui analisis mendalam, ditemukan bahwa pidato ini bukanlah sekadar bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Kim Nam-jun untuk membongkar praktik rasisme dan xenofobia yang menghalangi aktivitasnya dalam dunia hiburan, melainkan juga sebuah bentuk pencitraan, refleksi atas latar belakangnya sebagai seorang musisi yang lahir dan dibesarkan di Korea Selatan, strategi untuk membentuk persepsi mengenai dirinya yang digunakan untuk memanipulasi penggemar mereka yang berakibat pada dominasi Kim Nam-jun dan BTS atas media.
The speech delivered by Kim Nam-jun at the Launch of United Nations' Generation Unlimited caught the public's attention, especially on social media and had a strong influence among their fans. Speeches have the ability to persuade and shape the listener's perception of a topic, but this speech is seen solely as a form his musical group's concern for the issue of inequality and violence experienced by youth around the world. This study critically examines the text of the speech delivered by Kim Nam-jun at the Launch of United Nations' Generation Unlimited using Critical Discourse Analysis (AWK) from Teun A. van Dijk, with Judith Butler's theory of Politics of Representation as an analytical tool. Through in-depth analysis, it was found that this speech was not only a form of resistance by Kim Nam-jun to dismantle the practices of racism and xenophobia that hindered his work in the entertainment world, but also a form of imagery, a reflection of his background as a musician who was born and raised in South Korea, a strategy to shape general public's perception of themselves used to manipulate their fans which resulted in the dominance of Kim Nam-jun and BTS over the media.
Kata Kunci : Analisis Wacana Kritis, Kim Nam-jun, politik representasi, kajian kritis pidato, struktur wacana, analisis konteks sosial teks/Critical Discourse Analysis, Kim Nam-jun, politics of representation, critical discourse of speech, discourse structure, social