HUBUNGAN KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA REMAJA DENGAN PENDIDIKAN HIV/AIDS BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA (Analisis Data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia 2017)
ASY SYAFA MAHFUZHAH, Dr. Abdul Wahab, MPH. ; Althaf Setiawan, S.Si, MPH.
2022 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATAngka kejadian IMS pada remaja usia 15-24 tahun. di Indonesia mengalami peningkatan dari 16.8% menjadi 18.8% antara tahun 2012-2017. Beberapa upaya dilakukan guna mencegah penyebaran HIV/IMS yakni dengan adanya pendidikan HIV berbasis sekolah. Pendidikan akan memberikan pemahaman yang komprehensif hingga termasuk mengubah tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang dalam bertindak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui risiko terjadinya IMS pada remaja yang telah mendapatkan pendidikan HIV berbasis sekolah di Indonesia berdasarkan data SKRRI 2017. Penelitian menggunakan data sekunder hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2017 dengan desain penelitian cross sectional. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah remaja usia 15-24 tahun, pernah/sedang sekolah, seksual aktif, pernah mendapatkan pelajaran tentang HIV di sekolah, yang didapatkan sejumlah 1.458 subjek yakni 1.236 remaja laki-laki dan 222 remaja perempuan. Hasil analisis ditemukan remaja yang mendapatkan pendidikan HIV/AIDS dan IMS berbasis sekolah memiliki risiko yang lebih rendah terkena IMS dibandingkan remaja yang tidak mendapatkan pendidikan dengan OR 0,57 (95% CI; 0,34-0,97). Sebanyak 12,89% remaja yang mendapatkan pendidikan HIV/AIDS dan IMS berbasis sekolah mengalami IMS. Remaja yang mendapat pendidikan HIV/AIDS dan IMS memiliki resiko yang lebih rendah dari terkena IMS sebesar 42%. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antar pihak dalam memberikan pendidikan HIV/AIDS dan IMS yang komprehensif kepada remaja, baik oleh guru, orang tua, tenaga kesehatan, maupun pemerintah.
The incidence of STIs in adolescents aged 15-24 years in Indonesia increased from 16.8% to 18.8% between 2012-2017. Several efforts were made to prevent the spread of HIV/STIs, namely through school-based HIV education. Education will provide a comprehensive understanding to include changing a person's level of knowledge, attitudes, and behavior. This study aims to know the risk of STIs in adolescents who have received school-based HIV education in Indonesia. This study used a cross-sectional study design with secondary data from the 2017 IDHS (Indonesian Health Demographic Survey). The sample in this study were adolescents aged 15-24 years, had/were in school, sexually active, and had received lessons about HIV or STIs at school, which were obtained by as many as 1,458 subjects. After analyzing using logistic regression and controlling for external variables, it was found that adolescents who received HIV/AIDS and STI school-based education had a lower risk of developing STI (Sexually Transmitted Infection) than adolescents who did not receive HIV and STI school-based education with an OR of 0,57 (95% CI; 0,34-0,97. There are 12.89% of adolescents with STIs who receive school-based education on HIV/AIDS and STIs. The risk of developing STIs is significantly affected by adolescent gender, education level, and province of residence. Adolescents who received HIV/AIDS and STI school-based education had a lower risk of developing STIs by 42%. Therefore, there is a need for multi-stakeholder collaboration in providing comprehensive HIV/AIDS education to adolescents, both by teachers, parents, health workers, and the government.
Kata Kunci : Remaja, HIV/AIDS, IMS, KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja), SKRRI, SDKI / Adolescent, HIV/AIDS, Sexually Transmitted Infectious, IDHS 2017, CSE (Comprehensive Sexually Education), SRH (Sexually Reproductive Health)