Laporkan Masalah

Hubungan Antara Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual pada Remaja Awal (Analisis Data GEAS Indonesia Tahun 2018)

INDAH KUSUMA WARDANI, dr. Ifta Choiriyyah, MSPH., Ph.D ; dr. Amirah Ellyza Wahdi, MSPH

2022 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang: Perubahan kognitif yang terjadi selama masa remaja menimbulkan keingintahuan terhadap hal-hal terkait seksualitas yang membuat remaja mencari materi seksual dari berbagai sumber seperti pornografi. Selama ini penelitian mengenai paparan pornografi dengan perilaku seksual pada remaja hanya berfokus pada usia 15 tahun keatas. Kondisi yang sering terabaikan ini membuat program intervensi pada kelompok usia awal terbatas. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan paparan pornografi dengan perilaku seksual pada remaja awal usia 10-14 tahun di tiga kota Indonesia. Metode Penelitian: Analisis cross sectional ini menggunakan data GEAS Indonesia tahun 2018, melibatkan 4.469 sampel remaja usia 10-14 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi-square dan regresi logistik multinomial. Keseluruhan tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Remaja yang terpapar pornografi memiliki odds 1,9 [CI 95%: 1,6-2,3] lebih besar melakukan perilaku seksual ringan dan memiliki odds 2,7 [CI 95%: 2,0-3,6] lebih besar melakukan perilaku seksual berat. Faktor lain yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja awal adalah usia remaja 13-14 tahun [AOR: 1,4 dan 1,8; CI 95% 1,2-1,7 dan 1,4-2,4], laki-laki [AOR: 1,2 dan 2,0; CI 95% 1,1-1,4 dan 1,5-2,7], pengetahuan kespro tinggi [AOR: 1,6 dan 1,9; CI 95%1,4-1,8 dan 1,4-2,7], konsumsi alkohol [AOR: 3,0 dan 5,4; CI 95% 1,8-5,0 dan 3,0-9,7], merokok [AOR: 1,7 dan 2,3; CI 95% 1,2-2,3 dan 1,4-3,4], teman sebaya yang pernah melakukan perilaku seksual [AOR: 2,8 dan 10,7; CI 95% 2,3-3,3 dan 8,1-14], serta remaja yang berdomisili di Semarang [AOR: 1,5; CI 95% 1,3-1,8] dan Bandar Lampung [AOR: 1,4; CI 95% 1,0-2,1]. Kesimpulan: Setelah mengontrol variabel kovariat lain pornografi tetap menjadi faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual. Penelitian cross sectional memang tidak dapat menentukan kausalitas antara pornografi dengan perilaku seksual namun penelitian ini dapat memberikan dasar untuk membangun program pencegahan yang lebih baik pada remaja awal. Salah satunya yaitu pendidikan seksual yang komprehensif harus mencakup pelatihan literasi media untk memberikan informasi yang lebih baik bagi remaja serta dapat membantu remaja memahami berbagai pesan dan gambar yang dilihat di media.

Background: Cognitive changes in adolescence lead to curiosity about things related to sexuality which makes teens look for sexual material from various sources such as pornography. So far, research on pornography exposure to sexual behavior in adolescents only focuses on ages 15 years and over. This often neglected condition makes intervention programs in the early age group limited. Objective: This study to aimed knowing the association between pornography exposure and sexual behavior in early adolescents aged 10-14 years in three cities in Indonesia. Method: This cross-sectional analysis uses GEAS Indonesia 2018 data, involving 4.469 samples of adolescents aged 10-14 years who meet the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using chi-square and multinomial logistic regression. All tests used a 95% confidence interval (CI) with a significance level of p<0.05. Result: Adolescents exposed to pornography had a greater odds of 1.9 [95% CI: 1.6-2.3] to engage in mild sexual behavior and had a greater odds of 2.7 [95% CI: 2.0-3.6] to engage in sexual severe sexual behavior. Another factor associated with early adolescent sexual behavior is the age of adolescents 13-14 years [AOR: 1.4 and 1.8; 95% CI: 1.2�1.7 and 1.4�2.4], male [AOR: 1.2 and 2.0; 95% CI 1.1-1.4 and 1.5-2.7], high knowledge of reproductive health [AOR: 1.6 and 1.9; 95% CI 1.4-1.8 and 1.4-2.7], alcohol consumption [AOR: 3.0 and 5.4; 95% CI 1.8-5.0 and 3.0-9.7], smoking [AOR: 1.7 and 2.3; 95% CI 1.2-2.3 and 1.4-3.4], peers who have had sexual behavior [AOR: 2.8 and 10.7: 95% CI 2.3-3.3 and 8 ,1-14], as well as adolescents who live in Semarang [AOR: 1.5; 95% CI 1.3-1.8] and Bandar Lampung [AOR 1.4; 95% CI 1.0-2.1]. Conclusion: After controlling for the covariate variable pornography remains a factor associated with sexual behavior. Cross sectional research cannot determine causality but this study can build a better prevention program in early adolescence. One of them is that comprehensive sexual education must include media literacy training to provide better information for adolescents and can help adolescents understand various messages and images seen from the media

Kata Kunci : pornografi, perilaku seksual, remaja awal, studi cross sectional, remaja

  1. S2-2022-466121-abstract.pdf  
  2. S2-2022-466121-bibliography.pdf  
  3. S2-2022-466121-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2022-466121-title.pdf