Laporkan Masalah

Hubungan Parent Connectedness dengan Pengalaman Remaja 10-14 Tahun dalam Menonton Pornografi di Indonesia (Analisis Data Global Early Adolescent Study Gelombang 1)

SYIFA NURUL ASMA, Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech ; Lastdes Cristiany Friday, S.Gz, MPH

2022 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar Belakang: Paparan pornografi pada remaja berdampak pada dimulainya perilaku seksual dini, adiksi, kerusakan otak, agresivitas seksual, serta perburukan kesejahteraan remaja dikemudian hari. Studi menunjukkan bahwa prevalensi paparan pornografi pada remaja di Indonesia sekitar 22%-94,7% (KPAI, 2020; Prihandini et al., 2020). Parent connectedness disebut sebagai super-protector yang dapat membentengi remaja dari banyak tantangan. Namun, saat ini parent connectedness diidentifikasi makin menjauh. Lebih dari separuh remaja (55%) merasa diberi perhatian lebih sedikit oleh orang tua (KPAI, 2020). Penelitian ini bermaksud mengkaji hubungan parent connectedness dengan pengalaman menonton pornografi pada remaja awal serta mengetahui faktor yang berhubungan dengan pengalaman remaja awal menonton pornografi di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional menggunakan data Global Early Adolescent Study (GEAS) Indonesia gelombang 1 tahun 2018. Responden adalah 3844 remaja usia 10-14 tahun di Kota Bandar Lampung, Denpasar, atau Semarang. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik dengan STATA SE 16. Hasil: Proporsi remaja awal yang pernah menonton pornografi sebesar 17,9 %. Faktor yang berhubungan dengan pengalaman remaja menonton pornografi adalah parent connectedness yang kurang baik (OR=1.44, 95% CI=1.19-1.75), laki-laki (OR=3.78, 95%CI=3.09-4.65), kurang taat dalam beragama (OR=1.32, 95%CI=1.03-1.79), pernah melakukan perilaku seksual berisiko (OR=2.34, 95%CI=1.77-3.09) ataupun tidak berisiko (OR=1.38, 95%CI=1.09-1.74), pendidikan pengasuh yang rendah (OR=3.66, 95%CI= 1.50,8.92), pengaruh buruk dari teman seperti teman dengan konsumsi alkohol, rokok, narkoba, putus sekolah dan berperilaku seksual berisiko (OR=2.31, 95%CI (1.90-2.80), durasi mengakses media sosial lebih dari 2 jam setiap hari(OR=1.44, 95%CI=1.18-1.75), keinginan berhenti sekolah (OR=2.02, 95% CI=1.52-2.67), serta kepemilikan pacar (OR=1.49, 95%CI=1.18-1.89). Kesimpulan: Remaja awal dengan parent connectedness kurang baik memiliki peluang 1,44 kali lebih tinggi untuk menonton pornografi. Diperlukan edukasi pada orang tua maupun remaja mengenai kepentingan pencegahan paparan pornografi pada remaja, penguatan ketaatan beragama, pembatasan durasi mengakses media sosial, serta edukasi agar remaja menghindari perilaku seksual berisiko dan teman dengan pengaruh buruk.

Background: Exposure to pornography in adolescents has an impact on the beginning of early sexual behavior, addiction, brain damage, sexual aggressiveness, and worsening adolescent well-being in the future. Studies show that the prevalence of pornography exposure in adolescents in Indonesia is around 22%-94.7% (KPAI, 2020; Prihandini et al., 2020). Parent connectedness is referred to as a super-protector who can protect teenagers from many challenges. However, parent connectedness is identified as declining. The majority of adolescents (55 %) believe they receive less attention from their parents (KPAI, 2020). This study aims to investigate the relationship between parent connectedness and the likelihood of early adolescents watching pornography, as well as to identify the factors that determine early adolescents watching pornography in Indonesia. Methods: This study is a cross-sectional study design using secondary data from the Global Early Adolescent Study (GEAS) Indonesia wave 1 in 2018. The research sample consists of 3,844 students aged 10 to 14 from the city of Bandar Lampung, Denpasar, and Semarang. Data analysis using STATA SE 16 with logistic regression test. Results: The proportion of early adolescents who have watched pornography is 17.9 %. Determinant factors of adolescents' experience of watching pornography are poor parent connectedness (OR=1.44, 95% CI=1.19-1.75), male gender (OR=3.78, 95%CI=3.09-4.65), low religious obedience (OR=1.32, 95%CI=1.03-1.79), previous experience of risky sexual activity (OR=2.34, 95%CI=1.77-3.09) or unrisky sexual activity (OR=1.38, 95%CI=1.09-1.74), low parental education (OR=3.66, 95%CI= 1.50,8.92), bad influence from peers (OR=2.31, 95%CI =1.90-2.80), duration of social media access (OR=1.44, CI=1.18-1.75), desire to quit school (OR=2.02, 95% CI=1.52-2.67), and being in relationship (OR=1.49, 95%CI=1.18-1.89). Conclusion: Early adolescent with poor parent connectedness had a 1.44 times higher chance of viewing pornography. It is necessary to educate parents and adolescents about the importance of preventing exposure to pornography in adolescents, strengthening religious obedient, limiting the duration of accessing social media, and education so that adolescents avoid risky sexual behavior and friends with bad influences.

Kata Kunci : parent connectedness, pornografi, remaja awal, GEAS