Laporkan Masalah

Ekologi Politik Transformatif: Posisi Pengetahuan Adat Dalam Agenda Konservasi Pembangunan Di Taman Nasional Komodo

GILANG RAMADHAN, Dr. Maharani Hapsari; Dr. Zainal Abidin Baghir

2022 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Tesis ini mencoba melihat paradigma relijius Ata Modo dalam melihat alam, serta transformasi tradisinya yang utamanya disebabkan oleh pembatasan akses atas dalih konservasi Taman Nasional Komodo. Studi ini menggunakan ekologi politik sebagai wacana untuk melihat agenda konservasi pemerintah yang mempengaruhi akses dan kontrol kawasan TNK serta kaitannya dengan kepentingan ekonomi-politik yang memposisikan alam sebagai objek. Pada penelitian ini, alam (kawasan) yang awalnya memiliki makna relijius bagi Ata Modo, terkooptasi dan bertranformasi menjadi praktek ekonomi dengan resep pembangunan berkelanjutan. Atas nama konservasi, semenjak hadirnya TNK, ketidakterlibatan Ata Modo dalam penentuan kebijakan zonasi TNK membuat tradisi Ata Modo bertransformasi seiring pembangunan dan berkembangnya sistem zonasi TNK. Diantara contohnya adalah perubahan larangan memakan hati rusa untuk anak perempuan, perubahan tradisi berburu rusa; rusa hasil berburu diberikan sebagian untuk sebae, larangan memanfaatkan pohon gebang sebagai olahan makanan; atau tepung gebang yang diolah menjadi semacam roti. Selain itu, sistem zonasi TNK juga membuat Ata Modo yang berprofesi sebagai nelayan tidak bisa mencari ikan dengan mengandalkan indigenous knowledge, menerapkan pengetahuan adat yang berkaitan dengan keadaan cuaca, letak bintang, arah angin, dan tanda-tanda alam. Peneliti juga menemukan minimnya proteksi Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat terhadap masyarakat adat Ata Modo, meski saat ini terdapat upaya proteksi melalui regulasi Peraturan Daerah. Ini terlihat dari tidak adanya Peraturan Daerah tentang perlindungan tradisi masyarakat adat. Penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan ruang kosong oleh pemerintah dari kawasan adat Ata Modo dengan menggunakan kalkulasi teknis seperti data spasial, geologi, topografi, geomorfologi, oseanografi, dan sebagainya dalam menentukan batas teritori/zonasi tanpa menyertakan histori dan nilai masyarakat adat, menyebabkan marginalisasi Ata Modo terhadap ruang nya sendiri.

This thesis tries to look at Ata Modo's religious paradigm in seeing nature and the transformation of its traditions which are mainly caused by limitations on access under the pretext of the Komodo National Park conservation. This study uses Political Ecology as a discourse to examine the government's conservation agenda that affects access and control of KNP areas related to economic-political interests that position nature as an object. In this study, the nature (area) of Ata Modo, which originally had religious values, was co-opted and transformed into an economic practice with the formula sustainable development. In the name of conservation, since the presence of KNP, Ata Modo's absence in making KNP zoning policies made the Ata Modo tradition transform following the project and the development of the KNP zoning system. For example, the prohibition of eating deer liver for girls, the prohibition of hunting deer; deer from hunting are given partly for Sebae, the prohibition to using Gebang trees as food preparations; Gebang flour then becomes a kind of bread. Then, KNP's zoning system also makes Ata Modo, who works as a fisherman, can't find fish using indigenous knowledge applying indigenous traditions related to weather conditions, star location, wind direction, and natural signs. The researcher also found that the local government of the West Manggarai Regency had little protection against the Ata Modo indigenous people. although currently there are protection efforts with regional regulations. This can be seen in the absence of a regional regulation regarding the protection of indigenous peoples' traditions. This study shows that the determination of 'empty space' by the government of the Ata Modo customary area using technical calculations, such as geological spatial data, topography, geomorphology, oceanography, and so on in determining zoning lines without following the history and values of indigenous peoples, resulted marginalization of Ata Modo from his own 'space'.

Kata Kunci : Ata Modo, KNP, Political Ecology, Indigenous Peoples, Conservation

  1. S2-2022-467682-abstract.pdf  
  2. S2-2022-467682-bibliography.pdf  
  3. S2-2022-467682-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2022-467682-title.pdf