Adaptasi Penerapan Konsep Smart City dalam Wilayah Kabupaten (Studi Kasus: Kabupaten Sukoharjo Tahun 2018-2021)
LESTYANTO CAHYADANI, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MURP., Ph.D.
2022 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPerkotaan dan perdesaan memiliki karakteristik yang berbeda. Perkotaan sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa, sedangkan perdesaan sebagai kawasan yang mengandalkan sektor primer seperti pertanian dan perkebunan sebagai sumber perekonomian. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan perbedaan dalam penerapan konsep smart city sehingga ketika diterapkan di perdesaan, konsep smart city membutuhkan adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan penerapan smart city di wilayah kota dan kabupaten, mendeskripsikan proses adaptasi yang dilakukan oleh Kabupaten Sukoharjo dalam menerapkan konsep smart city, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu terjadinya proses adaptasi tersebut. Studi kasus pada penelitian ini adalah Kabupaten Sukoharjo yang 89% wilayahnya berupa kawasan perdesaan. Studi kasus menjadi metode yang dipergunakan dalam penelitian ini. Sedangkan sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini antara lain dokumen perencanaan, wawancara dengan stakeholder, dan pengamatan langsung di lapangan. Ketiga sumber data tersebut dianalisis dengan metode triangulasi untuk memvalidasi temuan dan hasil analisis yang dilakukan. Inti penelitian ini adalah mengidentifikasi proses adaptasi smart city yang dilakukan oleh Kabupaten Sukoharjo. Temuan dalam penelitian memperlihatkan terjadi adaptasi dalam implementasi konsep smart city di kabupaten pada kasus Kabupaten Sukoharjo. Adaptasi tersebut terlihat dari perbedaan-perbedaan yang ditemukan antara smart city yang diterapkan di Kabupaten Sukoharjo dan smart city yang diterapkan di perkotaan. Adaptasi tersebut terjadi dikarenakan faktor perbedaan karakteristik perkotaan dan perdesaan. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi dalam perencanaan smart city pada wilayah kabupaten, yang mana wilayahnya didominasi oleh kawasan perdesaan, sehingga isu-isu yang ada di dalam kawasan perdesaan tersebut dapat terakomodasi melalui kebijakan penerapan smart city.
Urban and rural area have different characteristics. Urban areas are centers of economies and activities, while rural areas have abundant natural resources and rely on agricultural sector as an economic source. These differences caused differences in the application of the smart city concept between urban and rural areas so when it was applied in rural area, it requires adaptation. Purpose of this research is to examine the differences between smart cities in urban and rural areas, to describe the adaptation process carried out by Sukoharjo Regency in implementing their smart city concept and identify its factors. The case study of this research is Sukoharjo Regency, which 89% of its territory is rural area. This research uses case study method with data sources including documents, interviews, and observations. Data for this research are triangulated with purpose to validate the result of the analysis process. This research is focused on identify the smart city adaptation process carried out by Sukoharjo Regency. The result of this research shows that there is an adaptation in the implementation of smart city concept in regency in the case of Sukoharjo Regency. It can be seen from the differences between smart city concept which is implemented in Sukoharjo Regency and smart city concept which is implemented in urban areas. This adaptation occurs due to characteristic differences of urban and rural areas. Therefore, the smart city concept which is implemented in urban area needs an adaptation so that the issues of rural area can be accomodated through smart city implementation policy.
Kata Kunci : adaptasi, kabupaten, perkotaan, perdesaan, smart city