Laporkan Masalah

Gerakan massa

BRATA, Nugroho Trisnu, Dr. P.M. Laksono, M.A

2003 | Tesis | S2 Antropologi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konteks gerakan massa pisowanan ageng pada 20 Mei 1998. Penelitian untuk penyusunan tesis Ini memfokuskan kajiannya pada gerakan massa 20 Mel 1998 di Yogyakarta dan beberapa peristiwa yang terjadi pada rentang waktu berguiimya wacana reformasi yang berianjut dengan gerakan massa mewujudkan reformasi (gerakan reformasi) di Indonesia. Menurut James P. Spradley (1997; 3), etnografi adalah pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas ini adalah memahami pandangan hidup dari sudut pandang pelaku terhadap dunianya. Tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu etnografi berarti belajar dari masyarakat. Lebih lanjut Spradley mengatakan (1997; 12) bahwa etnografi merupakan bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagal macam deskripsi kebudayaan. Makna etnografi seperti itu sering dipahami bahwa dalam menyusun sebuah etnografi suatu masyarakat, maka sang etnografer harus tumn ke lapangan (field work) untuk melakukan wawancara kepada masyarakat pemiiik kebudayaan. Kerja penelitian ini berpijak pada perspektif etnografi postrukturalisme, maka cara-cara konvensional harus dimodifikasi agar penelitian antropoiogi tidak terperangkap kembali dalam kategori penelitian yang bersifat "primitif dan "eksotis". Dalam konteks modifikasi ini. hubungan peneliti dengan yang diteliti tidak jelas sama sekali, karena aktor (subjek penelitian) telah "menyiapkan" teks bagi peneliti. atau aktor telah direpresentasikan dengan cara yang tidak jelas oleh agen tertentu. Para pelaku gerakan massa pisowanan ageng pada 20 Mei 1998 dapat disebut sebagai komunitas, sehingga para pelaku tersebut bisa dijadikan informan. Ada 2 orang mantan tokoh gerakan massa mewujudkan reformasi tahun 1998 dan 1 orang wartawan di Yogyakarta yang diwawancarai. Tiga orang yang diwawancarai yaitu informan ke-1 (IF-1) yang mantan aktivis KAMMI DIY, dan informan ke-2 (IF-2) yang mantan tokoh FAMPERA. Informan ke-3 (lF-3) berasal dari kalangan wartawan (media massa cetak). Data juga dikumpulkan dari berita surat kabar. yaitu data yang merekam dan kemudian mempublikasikan kepada masyarakat luas tentang gerakan massa di Yogyakarta dalam konteks reformasi tahun 1998. . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konteks terjadinya peristiwa gerakan massa pisowanan ageng pada 20 Mei 1998 sangat terkait dengan adanya wacana reformasi yang kemudian bergeser menjadi gerakan massa mewujudkan reformasi di penghujung kekuasaan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Tuntutan agar Presiden Soeharto mundur menjadi isu bersama dan menjadi titik temu pemahaman makna reformasi di antara mahasiswa sebagai pelopor gerakan massa dengan masyarakat luas sebagai pendukung gerakan massa. Reformasi sendiri dipahami secara berbeda oleh elemen-elemen gerakan massa maupun oleh masyarakat luas. Gerakan massa pisowanan ageng tanggal 20 Mei 1998 itu adalah salah satu mata rantai dari sejumlah aksi massa sebelumnya yang terjadi di Yogyakarta, dan di seluruh daerah di Indonesia, dengan agenda utama menuntut diwujudkannya reformasi. Makna reformasi seialu dikaitkan dengan tuntutan agar Soeharto mundur dari kursi presiden Republik Indonesia. Sebab jatuhnya Soeharto dari tampuk kekuasaan sebagai presiden diasumsikan sebagai starting point reformasi secara total di Indonesia. Menjelang Hari Kebangkitan Naslonal 20 Mel 1998, tersebar isu bahwa people power-yang pemah menjadi wacana dan menjadikan beberapa orang seperti Arifin Panigoro dan Affan Ga/ar diinterogasi oleh polisi karena dituduh akan mengadakan penggulingan kekuasaan-akan dilaksanakan di lapangan pada 20 Mei 1998. Akan tetapi, bayang-bayang bentrokan massa melawan aparat keamanan seperti yang terjadi sebelumnya di berbagai tempat cukup menyita pikiran para aktivis gerakan massa mewujudkan reformasi. Yang menjadi beban pikiran adalah bagaimana caranya agar gerakan massa bisa sukses dan agenda reformasi bisa tenwujud. tanpa kekerasan. Akhimya model gerakan massa jatuh pada pi.lihan untuk melakukan remaking (membuat lagl. melahirkan kembali, mereproduksl) tradisi, yaitu tradisi pisowanan ageng yang selama ini masih dipelihara oleh Kraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa. Kata kunci: Gerakan Massa - Reformasi - Wacana - Pisowanan Ageng - Tradisi

The objective of this research is to find out the context of mass movement on May 20, 1998. The research (which is conducted for a thesis) focus its area on mass movement in May 20. 1998 in Jogja and on some movements happened during reformation struggle in Indonesia. This is an ethnographic research, in order to describe and analyze those events, qualitative method was employed in collecting data. While, in the extent of collecting the data, it used a depth interview with informants who use to involve in mass movements in May 20, 1998. It was also tracking the news in the newspaper which were published in 1996. The result of this research shows that the context of the mass movement pisowanan ageng in May 20, 1998 was very much related to the discourse about reformation which had turned into the reformation movement at the end of the new order or Soeharto regime. The same understanding about the goal of the refonnation, that was; toppling down Soeharto from presidential, had tied college/university students, as the initiator of the reformation and general public as the supporters of the mass movement Yet, in the other hand, the elements of mass movement or the public had different opinion about the real meaning of the reformation itself. The mass movement; pisowanan ageng in May 20, 1998 was the chain of previous movements in Jogja and in almost all regions of Indonesia with its prime agenda; demanding a refonnation. The meaning of the refonnation has always been connected or related the demand of Soeharto resignation from the presidential. The causing of Soeharto resignation has been considered as a starting point of a total reformation in Indonesia. Some days near to National Awakening Days, May 20 1998, there was an issue spreading. It was said that "people poweri'-which had ever been an important agenda and made police officers interrogate Afan Gaffar and Arifin Panigoro as these two persons were allegedly accused as the actors who had a bad intention to topple down Soeharto—would be held in to field in May. 20, 1998. Hence the activists of mass movement were anxious of having a riot, caused by the "collition" between military and general public. They had been thinking of how to make mass movement succeed and thus, the reformation can be achieved without resulting any violences. Eventually, the model of mass movement took a form of "remaking" over tradition, that was pisowanan ageng, which along this time is still preserved by Kraton Jogja as a center of Javanese Culture. Key words: Mass Movement - Reformation - Discourse - Pisowanan Ageng - Tradition

Kata Kunci : Antropologi Sosial,Gerakan Massa,Pisowanan Agung

  1. S2-2003-NUGROHOTRISNUBRATA-abstrak.pdf  
  2. S2-2003-NUGROHOTRISNUBRATA-bibliografi.pdf  
  3. S2-2003-NUGROHOTRISNUBRATA-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2003-NUGROHOTRISNUBRATA-title.pdf