THEY MUST RETURN TO THE TRUE TEACHING; Critical Discourse Analysis of Ahmadiyya and Hare Krishna News in Local Cyber Media in Indonesia
HARIS FATWA DINAL M, Dr. Suhadi Cholil; Dr. Zainal Abidin Bagir
2022 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAMedia siber secara efektif melanggengkan konflik antar umat beragama di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis liputan media siber tentang dua aliran agama menyimpang di Indonesia; Jamaah Ahmadiyah Indonesia dalam Islam dan Hare Krishna dalam Hinduisme. Penelitian ini berasumsi bahwa penting untuk tidak hanya mengamati wacana aliran sesat dari tradisi Islam yang saat ini banyak dilakukan, tetapi juga tradisi keagamaan lain di Indonesia untuk membandingkan relasi kuasa dan ideologi di balik aliran sesat dalam dua tradisi agama di Indonesia. Untuk menganalisis isu Ahmadiyah, penelitian ini memilih suarantb.com, radarlombok.co.id, dan lombokita.com serta memilih nusabali.com dan balipost.com yang memberitakan Hare Krishna. Penelitian ini menganalisis sisi ideologis dua media siber dalam memberitakan dua aliran menyimpang dan membandingkan bagaimana masing-masing media siber membingkai aliran menyimpang di dua komunitas agama di Indonesia. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Fairclough menekankan bahwa AWK berarti menganalisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial yang juga dapat disebut sebagai deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Pada tahap deskripsi, penelitian ini menekankan pada analisis teks mengenai kata kunci dan tema, modalitas, susunan kata, dan struktur kata. Pada tahap interpretasi, fokus analisisnya adalah pada intertekstualitas dan interdiskursif. Pada tahap eksplanasi, penelitian difokuskan pada ideologi dan relasi kuasa. Analisis menunjukkan bahwa kedua media siber menggunakan bahasa peyoratif seperti menyimpang dan mengganggu ketertiban dan bahasa viktimisasi ketika memposisikan kedua aliran. Ideologi media siber diartikulasikan dalam kutipan-kutipan aktor negara dan tokoh agama. Analisis menemukan bahwa media siber melanggengkan status quo dengan mengutip otoritas negara, seperti narasi mana yang salah dan mana yang benar. Sebagai perbandingan, analisis mengungkapkan bahwa kedua media siber menciptakan wacana yang berbeda dalam memberitakan kedua aliran menyimpang. Media siber Nusa Tenggara Barat terus mengulang narasi harus bertobat, sedangkan media siber Bali secara konsisten menggunakan narasi melanggar ketertiban.
Cyber media effectively perpetuate tension among religious adherents in Indonesia. This research is an analysis of cyber media coverage on two deviant religious streams in Indonesia; Ahmadiyya in Islam and Hare Krishna in Hinduism. The study assumes that it is urgent not only to observe the discourse of deviant streams from the Islamic tradition, which has been carried out by many scholars but also other religious traditions in Indonesia to compare the power relations and ideology behind the deviant discourse within two religious traditions in Indonesia. In analyzing Ahmadiyya issues, this study selected suarantb.com, radarlombok.co.id, and lombokita.com and selected nusabali.com and balipost.com that report on Hare Krishna. This research explores the ideological side of two cyber media in reporting on the two deviant streams and to compare how cyber media frame deviant streams in two religious communities in Indonesia. Norman Faircloughs Critical Discourse Analysis is employed to achieve the above objectives. Fairclough emphasizes that CDA means analyzing texts, discourse practices, and social practices which can also be referred to as description, interpretation, and explanation. In the description, this research emphasizes text analysis regarding keywords and themes, modalities, wording, and word structures. In the interpretation, the analysis focuses on intertextuality and interdiscursivity. In the explanation, the research focused on ideology and power relations. The analysis demonstrates that both cyber media use pejorative language such as deviant and disturbing the order and victimization language when positioning both streams. Cyber media ideology is articulated within the state actors and religious figures quotations. It discovers that cyber media perpetuate status quo by citing state authorities, such as the discourse of what is the wrong teaching and what is the right teaching. In comparison, the analysis reveals that the two cyber media create different discourses dealing with each deviant stream. West Nusa Tenggara cyber media produce a must repent discourse, while Bali cyber media operate consistently a violating order discourse.
Kata Kunci : Cyber Media, Deviant Streams, Bali Cyber Media, West Nusa Tenggara Cyber Media, Power Relation, Language, Ideology