Peran Pengelolaan Institusi terhadap Legitimasi Ecotourism yang Berkelanjutan (Studi Kasus di Desa Penglipuran, Bali)
SAFFANATUL AFIFAH, Dr. Ambar Widaningrum, MA
2022 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKStudi ini menganalisis tentang faktor yang memengaruhi institusi dalam mempertahankan keberlanjutan ecotourism dari waktu ke waktu serta bagaimana faktor tersebut berkontribusi di dalamnya. Argumen pokok studi ini adalah bahwa penerapan ecotourism yang ada di Indonesia cenderung mengalami kegagalan, terutama akibat maraknya implementasi mass tourism. Meskipun begitu, ada contoh baik yang mampu membuktikan bahwa keberlanjutan ecotourism dapat diterapkan, yakni Desa Penglipuran, di Bali. Berdasarkan data yang diperoleh menggunakan metode kualitatif, melalui wawancara narasumber kunci, studi dokumen, dan observasi, serta diolah dengan pendekatan naratif, diketahui bahwa faktor utama yang menentukan keberlanjutan adalah pengelolaan institusi. Secara teoretis, aspek pengelolaan merupakan faktor utama bagi institusi untuk mencapai tujuannya. Hal tersebut sejalan dengan Selznick (1957) yang mengungkapkan bahwa terdapat tiga aspek utama yang menentukan keberhasilan institusi mencapai tujuan, yakni identitas dan keunikan, performa dan kemampuan adaptasi, serta reputasi dan legitimasi. Ketiga aspek tersebut diterjemahkan oleh Desa Penglipuran dalam pengelolaan yang dijalankan ketiga institusi desa, yakni Pemerintah Desa Adat, Pemerintah Desa Dinas, dan Pengelola Pariwisata. Aspek pertama yang mempengaruhi keberlanjutan ecotourism di Desa Penglipuran adalah adanya Tri Hita Karana sebagai nilai publik yang juga merupakan keunikan desa yang diterjemahkan ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, serta linier dengan tiga pilar penyusun keberlanjutan. Aspek kedua yakni adanya pengelolaan sumber daya manusia dan finansial yang mendukung upaya institusi dalam beradaptasi saat menghasilkan performanya dalam mempertahankan keberlanjutan ecotourism. Aspek ketiga adalah didapatkannya reputasi dan legitimasi yang mengakui keberhasilan Desa Penglipuran mempertahankan keberlanjutan. Ketiganya menjadi sebuah siklus yang terus menjaga keberhasilan Desa Penglipuran dalam mempertahankan keberlanjutan ecotourism.
This study analyzes the factors that influence institutions in maintaining the sustainability of ecotourism and how these factors contribute to it. The main argument of this study is that the implementation of ecotourism in Indonesia tends to fail, mainly due to the widespread implementation of mass tourism. Even so, there is a good example that can prove that sustainable ecotourism can be applied, namely Penglipuran Village, in Bali. Based on the data obtained using qualitative methods, through interviews with key informants, document studies, and observations, and processed with a narrative approach, it is known that the main factor that determines sustainability is institutional management. Theoretically, the management aspect is the main factor for the institution to achieve its goals. This is in line with Selznick (1957), there are three main aspects that determine the success of an institution in achieving its goals, namely identity and uniqueness, performance and adaptability, and reputation and legitimacy. These three aspects are translated by Penglipuran Village in the management of the three institutions, namely the Traditional Village Government, Service Village Government, and Tourism Manager. The first aspect that affects the sustainability of ecotourism in Penglipuran Village is the existence of Tri Hita Karana as a public value which is also the uniqueness of the village which is translated into various aspects of community, and is linear with the three pillars of sustainability. The second aspect is the management of human and financial resources that support institutional efforts to adapt when producing their performance in maintaining the sustainability of ecotourism. The third aspect is getting a reputation and legitimacy that recognizes the success of Penglipuran Village in maintaining sustainability. The three become a cycle that continues to maintain the success of Penglipuran Village in maintaining the sustainability of ecotourism.
Kata Kunci : Ecotourism, Pengelolaan Institusi, Keberlanjutan