Cultural Learning Center di Kawasan Heritage Benteng Tangerang Dengan Pendekatan Multi Faceted Architecture
TUBAGUS NAUFAL YUSUF, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, MA
2022 | Skripsi | S1 ARSITEKTURKawasan Benteng merupakan cikal bakal kota Tangerang yang menyimpan banyak pusaka akulturasi selama ratusan tahun dan telah berkembang menjadi kawasan komersial dengan adanya Pasar Lama yang ditetapkannya area tersebut sebagai kawasan kuliner. Disisi lain, Kota Tangerang tumbuh semakin pesat dan lahan pun berkurang, arus globalisasi datang dan Pusaka di Kawasan Benteng mengalami pemudaran. Terdapat tantangan-tantangan tersendiri untuk menangani pudarnya Pusaka Benteng ini yaitu untuk merancang bangunan yang dapat memperkenalkan dan mengajarkan Pusaka Benteng kepada masyarakat di tengah keterbatasan lahan, namun terdapat pula potensi-potensi tersendiri berupa karakteristik Kawasan Benteng yang dapat menjadi sebuah manfaat. Hal ini dapat dicapai dengan tipologi Cultural Learning Center dengan pendekatan Arsitektur Multifaceted. Sebuah pendekatan arsitektur dengan sifat multifaset, yang utamanya didasari oleh pemikiran Hertzberger dan Gehl. Tipologi Cultural Learning Center diperlukan dengan 3 alasan utama yaitu Benteng sebagai kawasan komersial dan pusaka yang memudar. Diperlukan Cultural Learning Center yang bertujuan secara aktif memperkenalkan dan mengajarkan Pusaka tersebut agar tetap terjaga dan bermanfaat kepada masyarakat. Konsep Multifaceted Architecture diperlukan dengan 3 alasan utama yaitu Benteng sebagai kawasan heritage komersial, menampung ragam fungsi dan space Cultural Learning Center, dan Kepadatan kota dan Terbatasnya Lahan. Diperlukan Multifaceted Architecture yang secara aktif mengefisienkan desain bangunan guna mencapai tujuan dari Tipologi. Peninjauan menyentuh ditinjau apa saja pusaka fisik dan non-fisik di Kawasan Benteng, bagaimana konsep dan contoh arsitektur multifaceted, studi kasus dari bangunan yang berpendekatan arsitektur serupa, tinjauan lokasi tapak dan karakteristik kawasan sekitarnya. Dalam skripsi ini pula, ditinjau jenis pelaku dan kegiatan, kebutuhan ruang, pola kegiatan, massa bangunan, serta sistem bangunan yang dapat terjadi/digunakan.
The Benteng area is the forerunner of the city of Tangerang which holds many acculturation heirlooms for hundreds of years and has developed into a commercial area with the existence of the Old Market which has designated the area as a culinary area. On the other hand, the City of Tangerang is growing rapidly and the land is decreasing, the flow of globalization is coming and the heritage in the Benteng area is fading. There are challenges in dealing with the fading of the Fort Heritage, namely to design buildings that can introduce and teach the Benteng Heritage to the community in the midst of limited land, but there are also separate potentials in the form of the characteristics of the Fort Area that can be a benefit. This can be achieved with the Cultural Learning Center typology with a Multifaceted Architecture approach. An architectural approach with a multifaceted nature, which is mainly based on the thoughts of Hertzberger and Gehl. Typology Cultural Learning Center is needed for 3 main reasons, namely Benteng as a commercial area and a fading heritage. A Cultural Learning Center is needed that aims to actively introduce and teach the Heritage so that it is maintained and useful to the community. The concept of Multifaceted Architecture is needed for 3 main reasons, namely the Citadel as a commercial heritage area, accommodating various functions and spaces of the Cultural Learning Center, and City density and limited land. Multifaceted Architecture is needed that actively streamlines building design in order to achieve the objectives of the Typology. The review touched on the physical and non-physical heritage in the Benteng area, the concepts and examples of multifaceted architecture, case studies of buildings with similar architectural approaches, an overview of the site location and the characteristics of the surrounding area. This thesis also reviews the types of actors and activities, space requirements, activity patterns, building masses, and building systems that can be used/used.
Kata Kunci : Benteng, Heritage, Cultural, Learning