Laporkan Masalah

Semarang Expo Center Sebagai Ruang Publik Dengan Penekanan Pada Fleksibilitas Ruang

ARADEA AFILIA T R, Dr. Dyah Titisari Widyastuti. S.T., MUDD.

2022 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Ibukota Jawa tengah yaitu Kota Semarang merupakan lokasi yang berpotensi dan berprofit bagi aspek ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.. Hal ini juga terkait dengan perkembangan pariwisata di Semarang yang pada tahun 2014 mencapai 3.958.114 wisatawan. Jumlah tersebut termasuk wisatawan yang berkunjung untuk tujuan bisnis yaitu konvensi, expo, dan meeting. Selain itu halhal yang berkaitan dengan wisata bisnis tersebut tidak digunakan sebagai ruang publik melainkan sebagai ruang terisolir dan hanya diperuntukan kalangan tertentu dan membuat bangunan-bangunan ini terpisah dan tidak terpakai saat kosong atau tidak ada event Untuk expo (pameran) sampai saat ini masih diadakan dalam skala yang kecil dan diadakan dalam pusat perbelanjaan dimana mereka tidak memiliki ruang yang besar. Pertimbangan penyelenggaraan event di mall dilakukan karena banyaknya pengunjung yang datang ke mall, namun kegiatan event tersebut menjadi tidak efektif. karena kendala ketidaknyamanan yang dirasakan, target pengunjung pameran yang tidak sesuai, niat pengunjung mall yang belum tentu bertujuan untuk melihat pameran tersebut serta keterbatasan ruang. Dengan melihat potensi kota dan terbatasnya fasilitas pameran yang ada di kota Semarang, maka perlu adanya fasilitas yang mampu menampung kegiatan ini. Untuk menjawab dua permasalahan tersebut maka Expo center diperlukan untuk mewadahi kegiatan ini selain menjadi pusat untuk menampung kegiatan pariwisata yang berkonsentrasi pada pameran. Ditekankan juga untuk menjadi ruang publik yang mengisi kekosongan dan untuk memenuhi kebutuhan ruang-ruang pada pameran maka dibutuhkan fleksibilitas ruang yang penting untuk diterapkan pada ruangan yang cenderung mengalami perubahan keadaan dan fungsi untuk pameran itu sendiri dan suasana ruang publik yang mengisi kekosongan

Semarang City as the Capital of Central Java Province is a potential and profitable location for economic, social, cultural, and other aspects. Central Java is the main trade traffic route that is passed from West Java to East Java or vice versa. This is also related to the development of tourism in Semarang, which in 2014 reached 3,958,114 tourists. This number includes tourists who visit for business purposes, namely conventions, expos, and meetings. In addition, things related to business tourism are not used as public spaces but as isolated spaces and are only intended for certain circles and make these buildings separate and unused when empty or there are no events. For expo (exhibition) until now it is still held on a small scale and held in a shopping center, which does not have a large space. The consideration of organizing events at the mall is because of the large number of visitors who come to the mall, but the event activities become ineffective. For example, the perceived inconvenience constraints, the inaccurate target of exhibition visitors, the intention of mall visitors who do not necessarily aim to see the exhibition, and limited space. By looking at the city's potential and the limited exhibition facilities available in the city of Semarang, it is necessary to have a facility that is able to accommodate this activity. To answer these two problems, an Expo center is needed to accommodate this activity in addition to being a center to accommodate tourism activities that concentrate on exhibitions. It is also emphasized to be a public space that fills theix void and to meet the needs of spaces at the exhibition, it is necessary to have flexibility in space which is important to be applied to rooms that tend to experience changes in atmosphere for the exhibition itself and the atmosphere of public spaces that fill the void.

Kata Kunci : Expo , public space , flexibility

  1. S1-2022-428526-abstract.pdf  
  2. S1-2022-428526-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-428526-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-428526-title.pdf