Laporkan Masalah

Indeks antropometri sebagai alat skrining Diabetes Melitus tipe 2

DELIMA, Prof.dr. Mochamad Anwar, M.Med.Sc.,SpOG

2003 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinis

Kasus Diabetes Melitus (DM) cenderung semakin meningkat dan dipercayai sekitar 50% tidak terdiagnosis. Untuk menjaring kasus DM tak terdiagnosis perlu dilakukan skrining namun skrining masal menggunakan pemeriksaan kadar gula darah tidak dianjurkan karena memerlukan biaya besar. Alangkah baiknya jika ada suatu alat alternatif yang murah,mudah, dan tepat untuk skrining awal. Penelitian ini adalah uji diagnostik untuk menguji 4 indeks antropometri yaitu IMT (indeks massa tubuh), LP (lingkar pinggang), RPP (rasio lingkar pinggang terhadap lingkar pinggul), dan RPTB (rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan) sebagai alat skrining DM tipe 2. Subyek penelitian sebanyak 1.382 orang dewasa, usia 30—55 tahun, tinggal di 5 RW Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat, bersedia ikut dalam penelitian dan tidak sedang sakit keras (TB paru aktif atau kanker). Alat diagnostik baku yang digunakan adalah pemeriksaan kadar gula darah kapiler pada proses TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral) dengan menggunakan alat Advantage II. Hasil pemeriksaan mendapatkan penderita DM sebanyak 133 orang (9,6%) yang 84 (6,1%) di antaranya adalah penderita DM baru (undiagnosed DM). Nilai sensitivitas dan nilai spesifisitas indeks antropometri dalam mendiagnosis DM tipe 2 tidak dapat bersamaan bernilai lebih besar dari 80% pada berbagai nilai cut off baik secara sendiri maupun kombinasi. Bila dipilih sensitivitas lebih besar dari 80% maka spesifisitas di bawah 60% dan sebaliknya bila dipilih spesifisitas lebih besar dari 80% maka sensitivitas di bawah 50%. Bila dipilih berimbang, nilai sensitivitas dan spesifisitas adalah sekitar 60%. Indeks antropometri yang mempunyai nilai terbaik dalam skrining DM tipe 2 pada keseluruhan responden adalah RPTB pada cut off 0,522 dengan sensitivitas 82,0% dan spesifisitas 52,7% sedangkan pada responden usia 40 tahun ke atas adalah LP pada cut off 81,9 cm dengan sensitivitas 80,6% dan spesifisitas 51,7%.

Diabetes Mellitus (DM) tends to increase and it is believed that over 50% are undiagnosed. Mass screening using blood glucose test can be conducted to find out the undiagnosed DM but it is not recommended due to the high cost. Therefore, we need a cheap, easy, and accurate alternative method to do the screening. This study is a diagnostic test of anthropometrics indexes, using BMI (Body Mass Index), WC (waist circumference), WHR (waist to hip ratio), and WtHR (waist to height ratio) for DM type 2 screening. Subjects are 1.382 adults, age 30—55, living at 5 sub villages in Johar Baru village, Central Jakarta without any chronic and severe diseases. The gold standard for DM diagnosis is capillary blood sugar level tested with Advantage II Monitor. There are 133 (9,6%) people with DM found and 84 (6,1%) of the people are undiagnosed DM. The sensitivity and specificity cannot be both more than 80% for any cut off points either alone or combined. The balance score for both is about 60%. The hypothesis testing for a single population proportion at a= 0,05 (1 sided) cannot conclude that both sensitivity and specificity are more than 80% at each cut off point selected. The best anthropometrics indexes used for the whole subjects for DM screening is WtHR at cut off point 0,522 that give 82,2% sensitivity and 52,7% specificity. WC is the best for subjects aged 40 years up at cut off point 81,9 cm with 80,6% sensitivity and 51,7% specificity.

Kata Kunci : DB Tipe,Skrining,Indeks Antropometri, anthropometrics indexes, diagnostic test, diabetes mellitus type 2


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.