Laporkan Masalah

Evaluasi harga obat di Apotek Kota Bengkulu

FIRNI, Dr. Sri Suryawati

2003 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Obat adalah komoditas khusus yang berperan penting untuk kesehatan dan keselamatan manusia dan masih merupakan komponen terbesar dalam struktur pembiayaan pelayanan kesehatan di Indonesia. Di Indonesia harga obat lebih tinggi dibanding Negara berkembang lainnya. Ditengah krisis ekonomi yang berkepanjangan dan daya beli masyarakat yang menurun, diperlukan alternatif pilihan terhadap harga obat yang lebih murah dengan mutu yang sama. Pesatnya pertumbuhan industri farmasi di Indonesia, menjadikan jumlah dan jenis obatpun bermacam-macam dengan harga jual yang bervariasi pada tingkat pengecer. Untuk mengetahui bagaimana variasi harga jual obat tersebut, perlu dilakukan penelitian agar diperoleh informasi tentang harga obat. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan non-experimental berupa cross sectional survey yang bersifat deskriptip. Data primer diperoleh melalui pengamatan pada lembar resep dokter dan daftar harga obat yang ada di apotek kota Bengkulu. Jenis obat dalam penelitan adalah obat yang sering diresepkan dokter. Kemudian harga jual apotek obat ini dianalisis rasionya terhadap harga jual apotek obat generik Badan Pengawas Obat dan Makanan R.I tahun 2001. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga jual apotek obat generik BPOM 2,12 kali lebih mahal dibanding indikator harga obat internasional MSH tahun 2001. Rerata harga jual obat nama dagang berkisar antara 1,45-7,97 kali lebih mahal dari pada harga jual obat generik yang berkisar antara 0,75-1,33. Terdapat beberapa jenis obat na ma dagang yang harga jualnya lebih murah dari harga jual apotek obat generik BPOM seperti, amoksisillin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, tiamfenikol 500 mg, kotrimoksazol 480 mg, siprofloksasin 500 mg , deksametason 0,5 mg , rifampisin 450 mg, dan pirazinamid 500 mg. Jenis obat generik yang harga jualnya termasuk mahal seperti, asam mefenamat 500 mg, parasetamol 500 mg, ambroksol 30 mg, dan kotrimoksazol 480 mg, kombinasi pirimetamin 25 mg+sulfadoksin 500 mg, ranitidin 150 mg, kaptopril 25 mg, alopurinol 100 mg , dan amoksisillin 500 mg . Kesimpulan: Berdasarkan deskriptip di atas, dapat disimpulkan bahwa harga jual obat nama dagang 2-6 kali lebih mahal dibanding harga jual generiknya

Background: Drug is special commodities which is important for health and human safety, and remain the biggest component in health service cost structur in Indonesia. In Indonesia drug prices are higher compaired to other developing countries. With continuous economic crisis and the decreasing of public buy power, alternative choice on cheaper drug with the equal quality is need. While pharmaceutical industry in Indonesia grows rapidly, there are various drugs quantities and types with various price on the retailer level. The study are necessary on these various prices of drugs in order to collect alternative informations about them. Method: This study was designed as non-experimental, cross sectional survey and descriptively methods. The prescription data and list price was collected retrospectively at 28 pharmacies in Bengkulu. The study examined sell-price of 29 the generic and brand name product and the drugs are all widely prescribed. Ratio analyses about 21 item sell-price of drug of National Agency for Food and Drug Control, 2001. Result: The results of the study showed that the sell-price of generic name of National Agency for Food and Drug Control 2,12 times higher than the MSH International Drug Price Indicator Guide 2001. The sell-price average of branded name are around 1.45-7,97 times higher than of generic name of around 0.75-1.33. However, there are branded name with lower sell-price than generic, such as amoxicilline 500 mg, mefenamic acid 500 mg, thiamphenicol 500 mg, cotrimoxazole 480 mg, ciprofloxacin 500 mg, dexamethason 0,5 mg, rifampicin 450 mg, and pyrazinamide 500 mg.The generic name of drug which expensive, such as, mefenamic acid 500 mg , paracetamol 500 mg, ambroxol HCl 30 mg , aminophillina 200 mg, cotrimoxazole 480 mg, combination of pyrimetamin 25 mg+sulfadoxin 500 mg ranitidine 150 mg, captopril 25 mg ,allopurinol 100 mg , and amoxicilline 500 mg. Conclusion: From the description above, it can be concluded that sell-price of branded name 2-6 times higher than of generic name.

Kata Kunci : Manajemen Kebijakan Obat,Harga Obat,Apotik, brand name, sell- price, pharmacies


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.