Implementasi Program Gandeng Gendong (Gage) Sebagai Upaya Mewujudkan Urban Resilience Kota Yogyakarta Melalui Social Innovation: Studi Kasus Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, Kota Yogyakarta
SHINTA SARI, Dra. Ambar Teguh Sulistiyani, M.Si.
2022 | Skripsi | S1 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIKUrban resilience (ketahanan kota) menjadi konsep populer yang telah diterapkan secara aktif oleh berbagai kota di dunia. Dalam hal ini, urban resilience menjadi strategi perencanaan dan pembangunan perkotaan, serta solusi dalam menghadapi permasalahan dan tantangan wilayah perkotaan. Urban resilience dapat diwujudkan dengan mengintegrasikan lima dimensi urban system yang terdiri dari economic, social, environmental, infrastructural, dan governance and institutional system. Dalam pelaksanaannya, masyarakat memiliki peran penting dalam menghadirkan social innovation sebagai key driver urban resilience. Dalam konteks Kota Yogyakarta, upaya mewujudkan urban resilience sejatinya dapat dilihat dari hadirnya Program Gandeng Gendong yang diluncurkan secara resmi pada 10 April 2018. Gandeng Gendong menjadi program khas yang dimiliki Pemerintah Kota Yogyakarta dalam rangka mengatasi persoalan dan tantangan perkotaan, memajukan lingkungan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses implementasi program Gandeng Gendong dan penerapan urban resilience melalui social innovation di Kelurahan Karangwaru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini melibatkan enam narasumber, yang terdiri dari: Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, Bappeda Kota Yogyakarta, dua tokoh masyarakat Kelurahan Karangwaru, dan dua masyarakat Kelurahan Karangwaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program Gendong Gendong di Kelurahan Karangwaru terlihat dengan adanya pembentukan kelompok kuliner gandeng gendong dan penyusunan masterplan gandeng gendong Kelurahan Karangwaru dengan pendekatan bottom-up. Dalam hal ini, implementasi gandeng gendong di Kelurahan Karangwaru menunjukkan adanya upaya mewujudkan urban resilience dengan terpenuhinya sejumlah aspek dalam lima dimensi pembentuknya yang meliputi economic, social, environmental, infrastructural, dan governance and institutional system. Hal tersebut tidak lepas dari social innovation yang telah dihadirkan masyarakat Kelurahan Karangwaru melalui masterplan gandeng gendong Kelurahan Karangwaru sebagai pedoman pembangunan dan pengembangan kelurahan sesuai dengan branding yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Dalam praktiknya, perlu penentuan prioritas branding yang akan diwujudkan dalam pembangunan dan pengembangan Kelurahan Karangwaru.
Urban resilience is a popular concept that has been actively applied by various cities in the world. In this case, urban resilience is a strategy for planning and urban development, as well as a solution in dealing with problems and challenges in urban areas. Urban resilience can be realized by integrating the five dimensions of the urban system consisting of economic, social, environmental, infrastructure, and governance and institutional systems. In practice, the community has an important role in presenting social innovation as the main driver of urban resilience. In the context of the City of Yogyakarta, efforts to realize urban resilience can be seen from the presence of the Gandeng Gendong program which was officially launched on April 10, 2018. Gandeng Gendong is a distinctive program owned by the Yogyakarta City Government to overcome urban problems and challenges, promote the environment, also achieve community welfare. This study aims to explain the implementation process of the Gandeng Gendong program and the application of urban resilience through social innovation in Karangwaru Village. This study uses a qualitative research method with a case study approach. Data was collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The informants in this study involved six persons, consisting of Welfare Agency of Yogyakarta (Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Yogyakarta), Regional Development Planning Agency (Bappeda Kota Yogyakarta), two community leaders from Karangwaru Village, and two Karangwaru Village residents. The results showed that the implementation of the Gendong Gendong program in Karangwaru Village was seen by the formation of the Gandeng Gendong culinary group and the formulation of the Gandeng Gendong Masterplan in Karangwaru Village with a bottom-up approach. In this case, the implementation of gandeng gendong in Karangwaru Village shows an effort to realize urban resilience by fulfilling several indicators in the five dimensions of its formation which include economic, social, environmental, infrastructure, and government and institutional systems. This can not be separated from the social innovations that have been presented by the community of Karangwaru Village through the co-carriage master plan of Karangwaru Village as a guideline for the development of the village following the branding that has been set by the community. In practice, it is necessary to prioritize branding which will be realized in the development of Karangwaru Village.
Kata Kunci : urban resilience, social innovation, program Gandeng Gendong, implementasi