From Gendered War to Gendered Peace? Women Role in Peacebuilding in Post-Genocide Rwanda
RANIA RIZKIADINDA, Drs. Muhadi Sugiono, MA.
2022 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALGenosida yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994 lebih dikenal secara umum dengan tragedi krisis humaniter yang dikecewakan oleh komunitas internasional. Banyak akademisi yang melakukan riset mereka berdasarkan bagaimana komunitas international gagal untuk mencegah dan campur tangan untuk menghentikan genosida tersebut, dimana kekejaman tersebut bisa terjadi dan menyebabkan hilangnya hampir 1 juta nyawa dalam kurung waktu 100 hari, dengan menilai faktor-faktor dan aktor-aktor external yang menyebabkan malapetaka. Beberapa akademisi telah mendiskusikan bagaimana perang tersebeut terjadi dan betapa bias secara gender perang tersebut. Studi ini menilai bagaimana perang tersebut bias secara gender dan mengapa perang tersebut terklasifikasi sebagai gendered war dengan memfokuskan penyintas wanita sebagai subyek utama analisa, dalam kurun waktu saat dan setelah genosida. Lalu, studi ini menganalisis lebih dalam mengenai peran wanita dalam kegiatan binadamai setelah genosida berakhir dan juga pembangunan kembali negara dengan mengikuti kerangka kerja tertentu yang menggabungkan siklus binadamai dan resep untuk menghindari gendered peace. Temuan dalam studi ini mengungkapkan bahwa gendered peace telah berhasil dihindari melalui langkah dan inisiatif yang dilakukan bersama oleh komunitas Rwanda, dimana perempuan memiliki peran yang besar. Akan tetapi, norma budaya dan kepercayaan tradisional di masyarakat yang mengikuti sistem patriarkis masih tetap bertahan kuat yang menjadikan peran dan pengaruh perempuan di era modern ini masih tetap kurang signifikan dibandingkan dengan rekan laki-laki mereka.
The 1994 Rwandan genocide is more known as the humanitarian crisis tragedy that was failed by the international community. Many scholars conducted their research on how the international community failed to prevent and intervene to stop the genocide, which led to the atrocity to take place where up to 1 million lives were lost within the span of 100 days, by assessing the external factors and actors that lead to the catastrophe. Few scholars have discussed about how the war took place and how gender biased it was. This study assessed how the war was gender biased and how it classified as gendered war by highlighting female survivors as the main subject of analysis, within the timeframe of during and after the genocide. Then, the study analyzes more on womens� role in peacebuilding activities after the end of genocide and in rebuilding the nation by following specific framework that combines peacebuilding cycle and recipes to avoid gendered peace. Findings shows that gendered peace had been successfully avoided through measures and initiatives taken collectively by the Rwandan community, where women have a huge role in it. However, cultural norms and traditional beliefs in the society that follows patriarchal system sustains and women�s position in the modern society still has less influence than their male counterparts.
Kata Kunci : Women, Gendered War, Gendered Peace, Peacebuilding, Rwanda