Laporkan Masalah

Deficient Reconciliation: The Cause of Lasting Socio-Political Tension between South Korea and Japan

NANDITA PUTRI K, Dr. Diah Kusumaningrum

2022 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Semenanjung Korea diduduki oleh Jepang dari tahun 1910 hingga 1945, di mana masyarakat Korea mengalami penderitaan dari represi politik, eksploitasi ekonomi, dan pelanggaran hak asasi manusia yang masif. Penjajahan Jepang terhadap Semenanjung Korea berakhir mengikuti kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, dan Korea Selatan yang merdeka memandang Jepang dengan perasaan negatif karena masa lalu mereka yang traumatis. Meskipun kedua negara telah mencari cara untuk memperbaiki hubungan mereka dan menjalin rekonsiliasi, hubungan mereka tidak pernah pulih seutuhnya dan ketegangan sosial-politik kerap muncul kembali di antara keduanya. Pemerintah Jepang telah menyampaikan beberapa pengakuan dan permintaan maaf atas penjajahannya di masa lalu. Namun, para korban dan masyarakat Korea Selatan tetap tidak bersedia untuk menerima permintaan maaf tersebut. Premis inti dari penelitian ini adalah ketegangan yang langgeng di antara Korea Selatan dan Jepang disebabkan oleh mekanisme rekonsiliasi yang tidak memadai. Untuk meninjau proses rekonsiliasi antara Korea Selatan dan Jepang, penelitian ini menggunakan kerangka konseptual rekonsiliasi yang dikemukakan oleh John Paul Lederach (1997) yang memetakan empat konsep rekonsiliasi yaitu Truth, Mercy, Justice, dan Peace. Dengan mengamati pemenuhan masing-masing konsep tersebut dalam mekanisme rekonsiliasi antara Korea Selatan dan Jepang, penelitian ini menemukan bahwa tidak satupun dari konsep di atas telah terpenuhi dengan baik. Hal tersebut menyebabkan tidak terselesaikannya akar penyebab perselisihan sejarah antara Korea Selatan dan Jepang, yang menyebabkan timbulnya ketegangan sosial-politik secara berulang di antara keduanya dari waktu ke waktu. Sehingga, sulit bagi mereka untuk mempertahankan hubungan yang stabil dan harmonis.

The Korean Peninsula was occupied by Japan from 1910 to 1945, causing Koreans to suffer from political repression, economic exploitation, and tremendous human rights abuses. The Japanese colonial rule over the peninsula ended after its defeat in World War II, and an independent South Korea regarded Japan with hostility and resentment due to their traumatic past. Although the two nations have sought ways to forge reconciliation, their relationship has never fully recovered and socio-political tensions often reemerge between them. The Japanese government has delivered several acknowledgements and apologies for its wartime aggression, but the South Korean victims and public remain unwilling to accept it. This article�¢ï¿½ï¿½s core premise is that the lasting tension between South Korea and Japan is caused by their deficient reconciliation mechanisms. In analyzing the case, this study uses the conceptual framework of reconciliation proposed by John Paul Lederach (1997) which maps out four concepts of reconciliation namely Truth, Mercy, Justice, and Peace. By observing the fulfillment of each concept within the reconciliation mechanisms taken by South Korea and Japan, this research finds that none of the concepts above has been sufficiently fulfilled. It makes the root causes of South Korea and Japan�¢ï¿½ï¿½s historical contentions remain unresolved and allows tension to re-emerge from time to time as the animosities persist, which makes it difficult for them to maintain a stable and harmonious relationship.

Kata Kunci : South Korea, Japan, relationship, tension, reconciliation, truth, mercy, justice, peace, acknowledgement, apology, comfort women, forced labor

  1. S1-2022-429316-abstract.pdf  
  2. S1-2022-429316-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-429316-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-429316-title.pdf