MODAL SOSIAL: MENGATASI KERENTANAN DAN MENINGKATKAN RESILIENSI PADA PEREMPUAN BURUH BATIK DI PEDESAAN BANJARNEGARA
NURUL FRISKADEWI, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A. dan Dr. Setiadi, M.Si.
2022 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORABatik tulis di Indonesia mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Batik tulis mengalami kejayaan di era orde lama, tetapi pada masa orde baru batik tulis hancur digilas oleh hadirnya batik cap dan printing. Pada masa reformasi, batik tulis bangkit kembali didukung oleh hadirnya pengakuan UNESCO. Batik tulis tumbuh dan berkembang pesat di Desa Gumelem karena otonomi daerah maupun inisiatif pembatik maupun juragan. Namun, kemajuan batik tulis ternyata tidak serta merta membawa kesejahteraan perempuan buruh batik tulis. Selanjutnya demi meringkas peristilahan perempuan buruh batik tulis disebut dengan perempuan buruh batik. Studi ini fokus pada perempuan buruh batik yang berada pada situasi yang kurang beruntung. Produk batik tulis dihargai mahal tetapi, nasib mereka masih buruk. Upah rendah yang diterima membuat mereka rentan. Majikan memposisikan perempuan buruh batik dalam hierarki terbawah kelas pekerja. Diskriminasi yang dialami perempuan buruh batik semakin dalam masuk pada kehidupan mereka. Kondisi kerentanan mendorong mereka untuk mengambil langkah bertahan. Berdasarkan hal tersebut pertanyaan yang diajukan adalah mengapa nasib perempuan buruh batik tidak meningkat padahal batik tulis telah populer, dan bagaimana strategi mereka agar dapat bertahan dalam kondisi yang tidak sejahtera? Inovasi disertasi ini diharapkan memberikan sumbangan bagi kemajuan antropologi terkait isu masalah dan pemahaman teori resiliensi berbasis modal sosial perempuan buruh batik. Penjelasan mengenai hal tersebut menggunakan modal sosial. Penelitian ini dilakukan secara etnografis yang mempelajari secara mendalam dan holistik pada 20 perempuan buruh batik, dengan rentang waktu April 2019-Februari 2020. Penelitian ini dilakukan di Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan-pembatasan kultural dan represi sosial-ekonomi, serta beban produksi maupun beban domestik berkelindan dan membawa perempuan buruh batik pada kerentanan. Perempuan buruh batik yang bekerja di industri bermodal kecil mengalami tingkat kerentanan yang lebih tinggi daripada mereka yang bekerja di industri bermodal besar. Perempuan buruh batik juga harus menjadi tulang punggung di keluarganya. Meskipun demikian, berbagai kerentanan yang menimpa tidak pernah mereka rasakan. Resiliensi perempuan buruh batik berbasis modal sosial menjadi strategi yang penting dilakukan untuk mengatasi kerentanan. Mereka senantiasa bekerja keras, menambah pekerjaan, mengurangi pengeluaran, dan sebagainya demi pemenuhan kebutuhan harian. Namun hal tersebut tidaklah cukup, mereka kemudian memanfaatkan sumber daya untuk bertahan dalam kehidupan selanjutnya. Mereka juga memanfaatkan hubungan dengan orang-orang terdekat untuk menghadapi himpitan kehidupan. Meskipun demikian, hasil temuan menyatakan bahwa modal sosial hanya digunakan untuk sekedar bertahan, dan tidak menunjukkan adanya kemajuan. Demikian telah terjadi involusi modal sosial yang menciptakan kerumitan bagi perempuan buruh batik. Situasi rumit yang dialami tersebut dapat dikatakan sebagai involusi modal sosial. Kebangkitan batik seolah-olah membawa perempuan kepada kemajuan, padahal sebaliknya, tidak membawa solusi bagi permasalahan perempuan.
Handmade batik in Indonesia has had its ups and downs in its development. Written batik had its glory in the Old Order Era, but during the New Order batik it was crushed by the presence of stamped and printed batik. During the reformation period, written batik rose again, supported by the presence of UNESCO recognition. Written batik grew and developed rapidly in Gumelem Village due to regional autonomy and the initiatives of both the batik maker and the skipper. However, the progress of written batik does not necessarily bring the welfare of women who work batik. Furthermore, in to shorten the terminology, women who work batik are called women batik workers. This study focuses on women batik workers who are in a disadvantaged situation. Hand-drawn batik products are expensive, but their fate is still bad. The low wages they receive make them vulnerable. Employers positioned women batik workers in the lowest hierarchy of the working class. The discrimination experienced by women batik workers is getting deeper into their lives. The condition of vulnerability encourages them to take defensive steps. Based on this, the question posed is why the fate of women batik workers has not improved even though batik has become popular, and what is their strategy to survive in an unfavorable condition? This dissertation innovation is expected to contribute to the progress of anthropology related to issues and understanding of resilience theory based on social capital of women batik workers. This explanation uses social capital. This research was conducted ethnographically which studied in-depth and holistically on 20 women batik workers, with a time span of April 2019-February 2020. This research was conducted in Gumelem Kulon and Gumelem Wetan Villages, Susukan District, Banjarnegara Regency, Central Java Province. The results of this study indicate that cultural restrictions and socio-economic repression, as well as production and domestic burdens are intertwined and bring women batik workers to vulnerability. Women batik workers who work in industries with small capital experience a higher level of vulnerability than those who work in industries with large capital. Women batik workers must also be the backbone of their families. However, they never felt the various vulnerabilities that befell them. The resilience of women batik workers based on social capital is an important strategy to overcome vulnerability. They always work hard, add work, reduce expenses, and so on to fulfill their daily needs. But this is not enough, they then use resources to survive in the next life. They also take advantage of relationships with those closest to them to deal with the crushes of life. However, the findings state that social capital is only used for survival and does not show any progress. Thus, there has been an involution of social capital that creates complexity for women batik workers. The complicated situation experienced can be said as the involution of social capital. The revival of batik seems to bring women to progress, whereas on the contrary, it does not bring a solution to women's problems. Keywords: women batik workers, vulnerability, resilience, and social capital.
Kata Kunci : perempuan buruh batik, kerentanan, resiliensi, dan modal sosial.