Kerentanan dan Resiliensi Pekerja di Tengah Pandemi Covid-19: Studi Kasus Pekerja Industri Manufaktur Kabupaten/Kota Bekasi
DENADYA GITA GABRIELLA, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2022 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAPandemi covid-19 yang muncul di Indonesia pada awal tahun 2020 mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial atau lockdown. Pembatasan ini mempengaruhi sektor industri, dan membuat beberapa perusahaan mengambil keputusan untuk mengurangi gaji pekerja, Pemutusan Hubungan Kerja, merumahkan pekerja untuk sementara waktu, dan tidak melanjutkan kontrak pada pekerja kontrak dan outsourcing. Kebijakan perusahaan tersebut diduga dapat mengancam resiliensi pekerja dan rumah tangganya. Hal ini karena situasi dan kondisi menjadi serba tidak pasti bagi pekerja yang terdampak. Melalui kajian antropologi ekonomi, hal semacam ini mengindikasikan adanya kerentanan. Kerentanan merupakan suatu keadaan dimana kelompok masyarakat atau individu mengalami gangguan dan hambatan pada berbagai aspek kehidupan akibat dari hal-hal eksternal seperti bencana alam, perubahan kebijakan, dan lain sebagainya (Adger, 1998). Kerentanan ini kemudian mendorong individu atau rumah tangga untuk membentuk resiliensi. Secara konseptual resiliensi dapat dipahami sebagai upaya individu atau kelompok masyarakat untuk bangkit dari kerentanan, dengan memanfaatkan asset seperti pengetahuan, kemampuan fisik serta material, dan modal sosial yang ada (Carlson, dkk., 2012). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja mengalami kerentanan sebelum pandemi seperti upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR), terbatas atau tidak adanya jaminan sosial dan tunjangan, serta terbatasnya kebebasan berkumpul dan berpendapat. Keadaan ini diperburuk ketika pandemi dengan adanya pengurangan upah dan hak dasar, serta PHK. Pekerja umumnya memiliki strategi resiliensi melalui pendekatan sosial dengan memanfaatkan jaringan sosial. Strategi resiliensi ini terbagi dalam dua bentuk umum, yaitu resiliensi internal dan resiliensi eksternal. Resiliensi internal berupa perubahan gaya hidup/pola konsumsi dan melakukan kerja tambahan. Resiliensi eksternal pada pekerja yaitu bantuan serikat pekerja dan bantuan pemerintah.
The COVID-19 pandemic first emerged in Indonesia in early 2020, which prompted the government to issue a social restriction policy or lockdown. These restrictions affect the industrial sector, and caused some companies to take decisions to reduce salaries, employment termination, layoff worker temporarily, and discontinue contract and outsourced workers. It's suspected that the company's policy could threaten the resilience of workers and their households. This is because the situations and conditions become completely uncertain for the affected workers. Through the study of economic anthropology, this kind of thing indicates vulnerability. Vulnerability is a condition where community groups or individuals experience disturbances and obstacles in various aspect of life as a result of external factors such as natural disasters, policy changes, et cetera (Adger, 1998). This vulnerability then pushed individuals or households to form resilience. Conceptually, resilience can be understood as efforts of individuals or community groups to rise from vulnerability, by utilizing assets such as knowledge, physical and material abilities, and existing social capital (Carlson, et al., 2012). The results of this study indicate that workers experienced vulnerabilities before the pandemic such as wages below the minimum, lack of social security and benefits, and limited freedom of speech and gathering. This situation was worsened during the pandemic by the reduction of wages and rights, as well as employee termination. Generally, workers have a resilience strategy through social approach by utilizing social networks. This resilience strategy is divided into two general forms, which are internal resilience and external resilience. Internal resilience in form of changes in lifestyle/consumption patterns and doing additional work. External resilience to workers is support from labor union and government welfare programs.
Kata Kunci : Kerentanan, Resiliensi, Pekerja Industri Manufaktur, Pandemi Covid-19