Pengaruh Sinkronisasi Estrus Metode Ovsynch Terhadap Tingkat Kebuntingan Sapi Potong yang Mengalami Repeat Breeding di Kecamatan Ngaglik dan Ngemplak Daerah Istimewa Yogyakarta
RAFAEL TIRTA BAYU A, Dr. drh. Surya Agus Prihatno, M.P.
2022 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWANTinggi rendahnya performa reproduksi ternak menjadi parameter keberhasilan dalam peternakan sapi. Kemampuan ternak betina untuk bunting tiap tahun selain dapat meningkatkan ketersediaan daging nasional, juga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak. Repeat breeding menjadi salah satu permasalahan yang serius terhadap tingkat kebuntingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Ovsynch terhadap tingkat kebuntingan pada sapi potong yang mengalami repeat breeding. Penelitian ini menggunakan 13 ekor sapi betina dari peternakan rakyat di Kecamatan Ngaglik dan Ngemplak Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak bunting setelah dilakukan inseminasi buatan sebanyak 2 kali atau lebih. Injeksi pertama GnRH dilakukan pada hari-1, injeksi prostaglandin pada hari-7, dan injeksi GnRH kedua dilakukan pada hari-9. Inseminasi buatan dilakukan pada hari-10 dan dilanjutkan pemeriksaan kebuntingan pada hari-60 dengan pengamatan tanda estrus dan pemeriksaan Ultrasonography (USG). Hasil penelitian menunjukkan 4 dari 13 sapi yang dilakukan sinkronisasi mengalami kebuntingan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa metode Ovsynch pada sapi yang mengalami repeat breeding menghasilkan tingkat kebuntingan 30,7%.
The high and low of livestock's reproduction performance is a success parameter in cattle farming. The ability of female cattle to become pregnant every year not only can increase the availability of national meat, but also can improve the welfare of farmers. Repeat breeding is a serious problem with pregnancy rates. This study aims to determine the effect of the Ovsynch method on pregnancy rates in beef cattle undergoing repeat breeding. This study used 13 female cows from rural farms in Ngaglik and Ngemplak District, Yogyakarta Special Region, which are not pregnant after artificial insemination 2 times or more. The first GNRH injection was carried out on day 1, prostaglandin injection on day 7, and the second GNRH injection was carried out on day 9. Artificial insemination is carried out on the day 10 and continued with pregnancy examination on day 60 with observation of estrous signs and examination using an ultrasonography. The results showed that 4 out of 13 cows synchronized experienced pregnancy. The conclusion of the study shows that the ovsynch method in cattle that experience repeat breeding produces a pregnancy rate of 30.7%.
Kata Kunci : Inseminasi buatan, Ovsynch, repeat breeding, sapi potong, tingkat kebuntingan