Budidaya Udang Vaname: Bergulat Dengan Ketidakpastian, Petambak Jadi Spekulan
RENITA AYU I, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2022 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAStudi ini dilakukan guna menjawab: mengapa petani sayur dan buah di pesisir Pantai Trisik beralih pada agroekonomi budidaya udang yang sangat berisiko. Kemudian permbahasan dalam tulisan ini diarahkan pada proses pengambilan keputusan untuk bergabung dalam bisnis tersebut, dan penalaran yang terbentuk dalam bisnis tambak udang vaname masyarakat pesisir Pantai Trisik Dalam rangka memenuhi jawaban atas pertanyaan diatas dilakukan kerja lapangan yang dilakukan di Desa Banaran pesisir Pantai Trisik dari bulan November 2021-April 2022, dengan menerapkan metode etnografi, di mana peneliti terlibat dalam kehidupa masyarakat setempat, melakukan penafsiran-penafsiran, dan pada saat yang sama mengaitkan temuan dengan segeanp proses sosial yang terjadi. Pengukuran dan pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan (observasi), wawancara mendalam, dan penelusuran kepustakaan. Dari 4 narasumber, 3 diantaranya pemilik tambak aktif dan 1 pemilik tambak ‘seren’. Keempat narasumber merupakan petani sayur dan buah. Penelitian ini membuktikan bahwa pertambakan udang merupakan bisnis yang bias akan spekulasi untung buntung. Metafora perjudian dalam bisnis tambak muncul akibat adanya agorekosistem yang cepat dan padat dari perubahan mode produksi ekstensif ke super intensif. Bisnis udang merupakan bisnis padat modal dan resiko tinggi, para petambak melakukan bisnis secara berkelompok untuk mengakumulasikan modal dan mendistribusikan beban kerugian bersama. Besaran beban kerugian selaras pada besaran kontribusi petambak dalam kelompok. Faktor kematian benur, kesalahan teknis, dan pasar yang sifatnya agak monopsoni menjadi hal yang dipertimbangkan dalam bisnis tanam udang. Demikian hasil panen tidak pernah menghasilkan jawaban yang pasti, sehingga para petambak bergulat dengan spekulasi yang bias untuk menyelami bisnis tanam udang
This study aimed to answer: why vegetable and fruit farmers on the coast of Trisik Beach switch to the highly risky agro-economy of shrimp farming. Then the discussion in this paper is directed at the decision-making process to join the business, and how the bustle of the shrimp farming business is in the Trisik coastal community. To fulfill the answers to the questions above, fieldwork was carried out in Banaran Village, on the coast of Trisik Beach from November 2021 to April 2022, by applying the ethnographic method, in which researchers were involved in the lives of local communities, doing interpretations, and at the same time relate findings to all social processes that occur. Measurement and data collection were carried out by making observations, in-depth interviews, and literature searches. Of the 4 resource persons, 3 of them are active pond owners and 1 owner of 'seren' ponds. The four resource persons are vegetable and fruit farmer. This study proves that shrimp farming is a business biased towards profit-and-loss speculation. The metaphor of gambling in the aquaculture business arises as a fast and dense ago-re-ecosystem that changes from extensive to super-intensive production modes. The shrimp business is a capital-intensive and high-risk business, do business in groups to accumulate capital and distribute the loss burden together. The amount of the loss is in line with the contribution of the farmers in the group. The mortality factor for fry, technical errors, and a little monopsony market are things to be considered in the shrimp farming business. Thus the harvest never yields a definite answer, so the farmers grapple with biased speculation to diving in the shrimp farming business.
Kata Kunci : tambak udang, boomcrop, spekulasi