Kajian kapasitas saluran guna peningkatan mutu garam rakyat di Kabupaten Sumenep
IKSAN, Mohamad, Dr.Ir. H. Budi Wignyosukarto, Dip.HE
2003 | Tesis | S2 Teknik SipilMenurunnya mutu garam yang dihasilkan oleh petani garam di kabupaten Sumenep merupakan ancaman bagi para petani, konsumen, bahkan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Hal ini mengakibatkan menurunnya penghasilan para petani, konsumen tidak mendapatkan mutu garam sesuai dengan kebutuhan, dan Pemerintah kabupaten Sumenep akan mengalami penurunan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ). Penelitian ini dilakukan untuk mencari solusi dalam mengatasi masalah penurunan kualitas dan kuantitas garam. Kajian pertama adalah analisis kapasitas saluran yang mengalirkan air laut sebagai bahan baku pembuatan garam. Untuk mencukupi kebutuhan air tersebut, dilakukan analisis kapasitas saluran dengan menggunakan bantuan program Duflow versi 2.02. Kajian yang kedua adalah analisis kandungan kimiawi yang terdapat dalam air, misal kandungan FeO3 (besi oksida), Mg (magnesium), As (arsen) , Pb (timbal), Cu (tembaga) dan unsur logam berat lain, sesuai dengan standar yang ditentukan (SNI, No. 01-3556-1994) sebelum air yang dibutuhkan masuk pada petak penggaraman. Salah satu cara yang ditempuh untuk mendapatkan air yang dibutuhkan tanpa kandungan lumpur penyebab degradasi kualitas garam adalah dengan metode “pengendapan bertingkatâ€. Dari hasil penelitian yang dilakukan kandungan kimiawi logam berat (Fe, Mg, As, Cu, Pb) masih dibawah ambang batas yang ditentukan oleh Badan Pengendali Mutu (SNI, N0. 01-3556-1994). Untuk mencukupi kebutuhan air pada lahan garam seluas 3260 Ha, maka diperlukan air sejumlah 433.201,60 m3/panen. Hasil simulasi (running) didapat ketersediaan air sejumlah 754.677,85 m3/panen, dengan masukan data elevasi muka air selama 10 hari, sesuai waktu yang diperlukan dalam satu kali panen.
The degradation of salt quality produced by the salt farmers in Sumenep is a threat for the farmers, consumers, as well as to the Government of Kabupaten Sumenep. It may also decrease the farmers income as well as the PAD (The Regional Income) of the Government of Kabupaten Sumenep. Moreover, the consumers are unable to have salt with qualities as they need. The objective of this research is to obtain a solution to cope with the problem of poor salt quality and quantity. The first study is objected to the channel capacity of seawater as the main material, also to fresh water that is adequate and does not contain mud. This amount of water is fulfilled by analysis a channel capacity using the Duflow Program Version 2.02. The second study is objected to the chemical substance contained in the water, such as FeO3 (Ferrum oxides), Mg (Magnesium), As (Arsenic), Pb (Plumbum), Cu (Cuprum), and other heavy metal chemicals substance, based on the required standard (SNI No. 01-3556-1994), before water is then entered into the salting compartments. One of the techniques used for obtaining standard water tha t is free from mud, which causes salt quality degradation, is the “phasing sedimentationâ€. The analysis results show that heavy metal chemical substance (Fe, Mg, As, Cu, and Pb) is still under the limit required by Quality Control Board (SNI, No. 01-3556-1994). To fulfill water demand of 3,260 Ha, an amount of 433.201.60 m3 water is required for each harvest. The simulation results show water availability of 754.677,85 m3 for each harvest, with 10 days input data of water surface elevation. The 10 days period is equal to the time required for one harvest occasion.
Kata Kunci : Air Laut,Saluran,Mutu Logam, Standard water, water quality, water demand.