ANALISIS KEPENTINGAN PIHAK-PIHAK TERKAIT (STAKEHOLDERS) DI KAWASAN KONSERVASI GUNUNG MERAPI BAGIAN SELATAN
SUKANDAR, Ir. Lies Rahayu WF, MP.
2006 | Skripsi | S1 KEHUTANANPerubahan fungsi yang terjadi di kawasan hutan Merapi memberikan dampak pada munculnya beragam sikap dari para pihak yang ada. Beragam pendapat dari beberapa pihak yang merasa berkepentingan muncul pada media massa dan menjadi isu yang berkembang kuat. Munculnya fenomena beragam sikap dari para pihak yang merasa berkepentingan menjadi penting untuk diketahui secara lebih jelas, juga siapa saja yang benar-benar menjadi pihak terkait di kawasan konservasi Gunung Merapi di bagian selatan. Dengan demikian, menjadi penting untuk melakukan identifikasi para pihak yang terkait dan mengetahui apa dan bagaimana kepentingan, sikap dan gagasan yang mereka miliki. Metodologi penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan teknik wawancara tak terstruktur secara mendalam dalam pengambilan data. Penelitian ini menggunakan kategorisasi pihak terkait (stakeholder) dari aDA untuk melacak pihak-pihak terkait yang ada di kawasan konservasi Gunung merapi di bagian selatan. Secara umum identifikasi yang dilakukan untuk melakukan analisis kepentingan para pihak terkait terhadap kawasan konservasi Gunung Merapi di bagian selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan konservasi Gunung Merapi bagian selatan terdapat 10 pihak terkait aktual yaitu BKSDA, Masyarakat Ngandong (stakeholder primer), Walhi, Wana Mandhira,Vogels, PSA UGM (stakeholder sekunder) Dishutbun DIY, Pemda Sleman, DPRD Propinsi DIY dan DPRD Sleman (stakeholder kunci). Kepentingan masing masing pihak dapat dipilahkan menjadi kepentingan secara khusus dan umum. Kepentingan khususnya adalah tentang akses terhadap rumput dan air, kepentingan tentang pelibatan para pihak terkait dalam setiap kebijakan yang datang dari LSM dan Dewan. Kepentingan yang secara umum ada pada mayoritas pihak terkait yaitu kepentingan untuk menjadikan kawasan Merapi tetap lestari. Persamaan kepentingan, ide dan sikap yang ada belum menjadi satu kekuatan yang dimanfaatkan untuk rencana aksi bersama dari semua pihak yang terkait.
The function change in Merapi forest area gives impact to the emerge of
various opinion from the stakeholders. The various opinion from the stakeholders
emerge in the mass media and become a strong issues. The phenomena of various
opinion from the stakeholders that emerge is important to clearly known, and also
important to anyone that truly a stakeholder in the south of Merapi Mountain
conservation area. Thereby, it is important to identifying the stakeholders and to
knowing what and how the interest, opinion, and idea that they have in mind.
The qualitative research method is used in this research. The method that
used is study case with unstructured in depth interview. It is using an ODA
sta.~cholder categorization to trace the stakeholders in the south of Merapi
Mountain conservation area. Generally, this identification done to analyze the
interest ofstakeholders in the south Merapi Mountain conservation area.
The research result showed that in the south Merapi Mountain conservation
area there are 10 actual stakeholders, which is BKSDA, Ngandong Society
(Primary Stakeholder), Walhi, Wana Wandhira, Vogels, PSA UGM (Secondary
Stakeholder), Dishutbun DIY, Sleman Local Government, DPRD DIY, and
DPRD Sleman (Stakeholder Key). The interest of each stakeholders can be
separated into a specific and generally interest. The specific interest are about the
access to the grass and water in the society and the entangling ofthe stakeholders
policy come from NGO, DPRD Sleman and DPRD DIY. The interest generally
was on the m
Kata Kunci : pihak terkait, kepentingan, kawasan Merapi