Actualization of the Spirit of Pluralism in Indonesia :: A Critical survey in Islamic and Christian perspectives
SAID, Nur, Dr. Mulyadhi Kartanegara
2003 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan AgamaIndonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beragam etnis, bahasa, budaya dan agama sehingga lebih di kenal sebagai masyarakat pluralis. Dalam beberapa periode fenomena ini nampaknya tidak menhambat bagi terbangunnya kehidupan sosial yang harmonis dan saling berdampingan. Bahkan beberapa peniliti mengakui bahwa kehidupan toleransi agama di Indonesia merupakan model par excellence bagi kerukunan hidup beragama di dunia. Namun baru-baru ini, terutama dalam sepuluh tahun terakhir, mata dunia dibelalakkan oleh tejadinya konflik sosial yang bernuansa agama antara komunitas Islam dan Kristen di Indonesia seperti yang terjadi di Poso dan Ambon, Maluku. Konflik ini tidak hanya menyisakan porak porandanya sejumlah tempat ibadah tetapi juga terbunuhnya ratusan jiwa manusia yang menggambarkan seakan posisi agama tidak berdaya sama sekali. Melalui perspektif Islam dan Kristen, tesis ini bertujuan menganalisa dan mengekplorasi terhadap aktualisasi semangat pluralisme di Indonesia terutama berkaitan dengan pelaksanaan dialog antar agama dan kerja sama lintas iman. Tesis ini juga mendiskusikan semangat teologis pluralisme agama dalam Islam dan Kristen dan juga membahas peran idiologi politik Puncasila bagi pluralisme agama. Hal lain yang tak kalah menariknya adalah kontribusi pemikir-pemikir Islam dan Kristen bagi aktualisasi semangat pluralism di Indonesia. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode “ideasi†yaitu mengidentifikasi makna dari ekspresi atau pendapat orangha1 tertentu yang berhubungan dengan topik. Lalu data tersebut dianalisa dengan metode desknptif, komparatif dan interpretatif melalui pendekatan teologis-filosofis sehingga memungkinkan penulis menguraikan data secara kritis. Tesis ini menunjukkan bahwa fenomena kerukunan beragama yang terbingkai dalam pluralisme agama tak lepas dari peran idologis Puncasilu yang memberi jaminan bagi bangsa Indonesia untuk secara bebas memeluk dan beribadah kepada Tuhan YME sesuai keyakinannya. Disamping itu secara teologis baik Islam maupun Kristen memberikan landasan yang kuat bagi semngat pluralisme agama. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penafsiran yang berperspektif transformatif seperti tren teologi yang dikembangkan oleh para pemikir dari kedua golongan tersebut. Sayangnya, tren teologi yang memberikan perhatian pada perbedaan agama dan iman hanya didominasi oleh kalangan elit agama seperti kenyataan adanya dialog antar agama yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Depag yang terkesan eksklusif hanya untuk kalangan pemuka agama. Sementara kerja sama lintas iman yang dipelopori oleh beberapa lembaga lintas iman juga masih terbatas pada kalangan aktivis dan kalangan intelektual tertentu. Oleh karena itu kesadaran pluralisme agama di masyarakat bawah (grass root) masih merupakan “barang mahal†sehingga pola keberagamaannya masih diwarnai sikap eklusifisme dan fanatisme yang tidak proporsional, dimana gejala ini pada tingkat tertentu telah ikut andil dalam memicu ketegangan antar umat beragama yang ujungnya adalah konflik dan kekerasan yang tidak dinginkan. Persoalan ini tidak bisa dilepaskan oleh lemahnya pendidikan agama yang kurang memberi ruang bagi penyadaran pluralisme agama. Oleh karenanya tesis ini merekomendasikan pentingnya sosialisasi dan aktualisasi dialog antar agama serta kerja sama lintas iman secara “membumi†dari yang semula masih elitis menuju masyarakat bawah secara mengakar. Upaya ini bisa dimulai semenjak dini dalam pendidikan agama di segala level dan jalur demi terciptanya budaya damai untuk semua.
It is widely known that Indonesia is a pluralistic society in terms of ethnicity, language, culture and even religion. This factual phenomenon does not obstruct a social life of harmony and peaceful coexistence. Moreover, some observers have acknowledged that religious tolerance in Indonesia has become the model par excellence for the world for a long period. In fact, especially in the last ten years, we have seen religious tensions especially between Muslim and Christian communities that caused harm to many churches and left thousands of people dead in many cities of Indonesia. Some believe that it is caused by social, political and economic crisis but actually we can’t deny the religious factor. Therefore, it is urgently required to criticize the dynamic of the spirit of pluralism in Indonesia as an effort to develop a culture of peace and a better religious life in the hture. Through Islamic and Christian perspectives, this thesis proposes to explore and analyze the actualization of the spirit of pluralism especially concerning inter religious dialogue and interfaith cooperation in Indonesia. Furthermore, this thesis will also discuss theological spirit and ideological roots of Pluralism in Indonesia. It also allows me to elaborate critically the contribution of Islamic and Christian thinkers on theological discourse, which respect to other faiths. This thesis use an “ideationalâ€, -identify the meaning of a certain expression and opinion, which relates to the topic- as a collecting data method. Then, the data is analyzed in a descriptive, comparative and interpretative analysis in a theologico-philosopical approach. This thesis shows that regarding the factual phenomenon of religious pluralism in Indonesia; ideologically the state has been giving a guarantee for religious freedom as formulated in the Pancasila. Besides, in the theological sphere, both Islam and Chstianity inspire the spirit of pluralism such as theological trends, which developed by some Chnstian and Islamic thinkers in Indonesia. Unfortunately, such theological trends, which respect other faiths are still dominated by intellectual religious elite. Consequently, the actualization of the spirit of pluralism in society is still limited to the minority elite of religious figures. Therefore, awareness of dialectical pluralism and the culture of peace is a luxury for ordinary people. Moreover the phenomena of dogmatism, fanaticism, and traditional prejudices, which to some extent contribute to inter-faith tensions, still exist at the grassroots. In a multi religious society, we need a culture of peace, which can be developed through education for religious pluralism systematically since the age of children. This means that inter religious dialogue and interfaith cooperation must be socialized to all groups’ especially to religious teachers at all level.
Kata Kunci : Agama,Pluralisme,Perspektif Islam dan Kristen,Pluralism, Inter religious Dialogue, Interfaith Cooperation, and Peace