Laporkan Masalah

STUDI PRODUKSI KAYU BAKAR DARI TRUBUSAN JATI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN KAYU DAKAR MASYARAKAT (Studi Kasus di RPH Besali, BKPH Kates, KPH Padangan)

EKO HERY SATRIYO UTOMO, Dr. Ir. Ronggo Sadono

2005 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Gangguan terhadap pengelolaan hutan jati; seperti pencurian kayu, penggembalaan, bibrikan hutan dan tanah hutan; menunjukkan keeenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun. Ganguan ini disebabkan oleh gagalnya antisipasi terhadap permasalahan sosial yang teIjadi dan berkembang di wilayah sekitar hutan. Puncaknya adalah teIjadinya penjarahan hutan yang mengakibatkan hutan jati di Jawa kini dalam kondisi kritis. Permudaan hutan pasea penjarahan akan membutuhkan biaya yang besar. Untuk dapat menekan biaya permudaan, dapat dilakukan pemeliharaan terhadap trubusan yang tumbuh dari tonggaktonggak bekas penjarahan, dimana Perum Perhutani dapat bekeIjasama dengan masyarakat. Kemungkinan keberhasilan kegiatan pemeliharaan trubusan ini lebih besar daripada jika dilakukan perombakan tonggak-tonggak tersebut untuk ditanami dengan tanaman baru. Trubusan yang dipelihara akan menghasilkan kayu bakar yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Produksi kayu bakar dieari dengan melakukan inventarisasi dengan IS 8,33%. Volume kayu bakar yang dihasilkan dihitung dengan menggunakan rumus dasar smallian. Juga dilakukan penaksiran potensi tegakan tinggal untuk dapat mengetahui potensi dan kualitas trubusan yang menyusun tegakan tinggal tersebut Konsumsi kaYU bakar masyarakat dicari dengan metode penimbangan konsumsi per hari, yang dibedakan antara kebutuhan untuk memasak ketika tidak memasak air minum dan ketika dibarengi dengan memasak air minum. Sedangkan untuk mengetahui keIjasama antara Perum Perhutani dengan masyarakat, dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap pihak-pihak yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan taksiran produksi kayu bakar yang didapatkan dari kegiatan penunggalan sebesar 5,396 m3 /ha dengan potensi tegakan tinggalnya 360,6 m 3 • Tegakan tinggal disusun oleh trubusan dengan kualitas yang relatif kurang bagus karena didominasi oleh trubusan yang mempunyai batang yang bengkok dan bereabang pada ketinggian dibawah 3 m dan juga banyak yang tumbuh pada tonggak yang tidak terpendam tanah. Sedangkan kebutuhan kayu bakar masyarakat di dusun Pleret dan Kaligede dapat dipenuhi selama 3 bulan dari produksi kayu bakar petak 1113a KeIjasama antara Perum Perhutani dengan masyarakat masih menemui kendala berupa kurangnya sosialisasi serta kurangnya komunikasi dan koordinasi intern LMDH sendiri atau dengan pihak Perum Perhutani

Kata Kunci : Trubusan, Kayu Bakar, KeIjasama

  1. S1-2005-140152_Abstract.pdf  
  2. S1-2005-140152_Bibliography.pdf  
  3. S1-2005-140152_Table_of_Content.pdf  
  4. S1-2005-140152_Title.pdf