Laporkan Masalah

PERAN DUKUNGAN SOSIAL PADA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL: PROSES PEMILIHAN STRATEGI BERTAHAN MAHASISWA PASCA MENGALAMI KEKERASAN SEKSUAL DI BALI

NI PUTU DESSY P SARI, Dr. Realisa Darathea Masardi

2022 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Pada tahun 2020, masyarakat Bali dihebohkan dengan sebuah kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum dosen di Universitas Udayana. Mencuatnya kasus tersebut kemudian meningkatkan eksistensi lembaga-lembaga aduan di Bali. Namun, meskipun posko aduan sudah banyak tersedia, korban kekerasan seksual masih banyak yang bungkam karena didera perasaan malu dan takut. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan alasan mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan seksual dalam memilih strategi bertahan selain melakukan advokasi pada bidang hukum. Selain itu, penelitian ini hendak menguraikan strategi bertahan lain yang dilakukan mahasiswa. Penelitian ini mengajukan dua pertanyan penelitian, yaitu: (1) Mengapa para mahasiswa korban kekerasan seksual tidak menghubungi lembaga advokasi? Dan (2) Bagaimana strategi bertahan mahasiswa apabila tidak menghubungi lembaga advokasi setelah mengalami kekerasan seksual? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penelitian ini akan menggunakan metode pengumpulan data secara kualitatif dengan cara: (1) observasi, (2) wawancara mendalam, dan (3) studi pustaka. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disajikan secara deskriptif interpretatif. Penelitian ini menggunakan tiga narasumber utama yang merupakan mahasiswi aktif Universitas Udayana yang pernah mengalami kekerasan seksual. Periode penelitian dilaksanakan selama tiga bulan (24 Agustus-24 November 2021). Melalui penelitian ini ditemukan bahwa dukungan sosial yang dicari dan diterima oleh narasumber kebanyakan berasal dari lingkungan pertemanan. Hanya satu narasumber yang merasa mendapatkan dukungan sosial yang ia butuhkan. Ada atau tidaknya dukungan sosial tersebut berimplikasi pada proses pemilihan strategi bertahan narasumber dalam penelitian ini. Narasumber yang mendapatkan dukungan sosial yang baik, memiliki kesadaran dan pengetahuan yang lebih baik terkait keberadaan dan layanan lembaga advokasi di sekitar mereka. Penelitian ini juga menemukan bahwa implikasi budaya Bali seperti kepercayaan akan Karma Phala (buah perbuatan) menjadi salah satu alasan narasumber beragama Hindu tidak menghubungi bantuan lembaga advokasi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlu adanya edukasi terkait variasi pilihan strategi bertahan yang dapat dipilih oleh korban kekerasan seksual. Edukasi ini dapat diberikan dalam bentuk sosialisasi atau kampanye oleh lembaga-lembaga advokasi.

In 2020, the Balinese were shocked by a case of sexual violence involving an unscrupulous lecturer at Udayana University. The emergence of the case then increased the existence of complaint institutions in Bali. However, even though there are many complaint posts available, many victims of sexual violence remain silent because they feel ashamed and afraid. This study aims to describe the reasons for students who have experienced sexual violence in choosing a survival strategy other than advocating in the legal field. In addition, this study will describe other survival strategies that are carried out by students. This study poses two research questions, namely: (1) Why do students who are victims of sexual violence not contact advocacy organizations? And (2) What is the student's survival strategy if they do not contact an advocacy agency after experiencing sexual violence? To answer these questions, this research will use qualitative data collection methods by (1) observation, (2) in-depth interviews, and (3) literature study. The data obtained were then analyzed and presented descriptively interpretive. This study uses three main sources who are active students of Udayana University who have experienced sexual violence. The research period was carried out for three months (August 24-November 24, 2021). Through this study, it was found that the social support sought and received by the interviewees mostly came from a friendly environment. Only one resource person felt that he received the social support he needed. The presence or absence of social support has implications for the selection process of resource survival strategies in this study. Resource persons who get good social support have better awareness and knowledge regarding the existence and services of advocacy institutions around them. This study also found that the implications of Balinese culture such as belief in Karma Phala (the fruit of deeds) were one of the reasons why Hindu resource persons did not contact advocacy agencies for assistance. Through this research, it can be concluded that there is a need for education related to the variety of choices of survival strategies that can be chosen by victims of sexual violence. This education can be provided in the form of outreach or campaigns by advocacy organizations.

Kata Kunci : Kekerasan seksual, strategi bertahan, dukungan sosial, victim blaming, stigmatisasi/ Sexual assault, coping mechanism, social support, victim-blaming, stigmatization

  1. S1-2022-428337-abstract.pdf  
  2. S1-2022-428337-bibliography.pdf  
  3. S1-2022-428337-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2022-428337-title.pdf