Interpretasi hibrida citra satelit resolusi spasial menengah untuk kajian densifikasi bangunan daerah perkotaan di daerah perkotaan Yogyakarta
R. Suharyadi, Prof. Dr. Hartono, DEA., DESS
2011 | Disertasi | S3 Penginderaan JauhInterpertasi hibrida merupakan upaya untuk memadukan keunggulan interpretasi visual dalam delineasi objek, dan analisis digital untuk pengenalan objek pada citra penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan 1) mengembangkan teknik interpretasi hibrida untuk menyadap informasi kepadatan bangunan dari citra satelit resolusi spasial menengah di daerah perkotaan Yogyakarta, 2) Pemetaan kepadatan bangunan daerah Yogyakarta menggunakan teknik interpretasi hibrida dari citra landsat TM tahun 1994,1996,1998, citra landsat ETM+ tahun 2001, 2003 dan citra aster tahun 2006, 3) mengkaji karekteristik densifikasi bangunan di daerah perkotaan Yogyakarta Metode kestraksi kepadatan bangunan dilakukan dengan menggunakan kombinasi interpretasi visual untuk deliniasi bloks bangunan, dan analisis digital untuk identifikasi kepadatan bangunan. Hasil ekstraksi kepadatan bangunan dari beberapa citra satelit resolusi spasial menengah adalah serial peta kepadatan bangunan sesuai dengan tahun perekaman. Untuk mengetahui tingkat akurasi peta kepadatan bangunan hasil interpretasi hibrida dilakukan uji akurasi yaitu dengan membandingkan secara spasial peta kepadatan bangunan hasil interpretasi hibrida dengan peta kepadatan bangunan rujukan. Analisis karakteristik densifikasi bangunan dilakukan dengan mengkaji secara spasial peta densifikasi bangunan mneliputi : Pola (arah densifikasi bangunan, hubungan antara densifikasi bangunan dengan jarak dari pusat kegiatan di daerah perkotaan, jarak dari jalan utama, dan jarak dari pusat kegiatan) dan kecepatan densifikasi bangunan. Peta kepadatan bangunan daerah perkotaan Yogyakarta dapat dihasilkan dari interpretasi hibrida citra sateluit resolusi spasial menengah. Saluran citra satelit yang digunakan adalah saluran inframerah dekat (saluran4) dan citra indeks perkotaan untuk citra landsat TM dan landsat ETM+ , sedangkan untuk citra Aster menggunakan saluran inframerah dekat (saluran3) dan citra indeks perkotaan. Peta kepadatan bangunan hasil interpretasi hibrida apabila dibandingkan dengan peta kepadatan bangunan rujukan mempunyai tingkat akurasi sebesar 8431 persen artinya teknik interpretasi hibrida masih dalam batas ketelitian yang dapat diterima untuk menyadap informasi kepadatan bangunan dari citra satelit resolusi spasial menengah. Densifikasi bangunan pada umumnya terjadi pada kelas kepadatan sedang menjadi kepadatan tinggi, dengan kecenderungan arah densifikasi bangunan ke arah utara dari timur laut daerah perkotaan Yogyakarta. Proses desnsifikasi terutama di daerah yang aksesibilitasnya baik, dengan kecepatan densifikasi bangunan sebesar 181 hektar per tahun
Kata Kunci : Interpretasi Hibrida; Citra Satelit; Resolusi Spasial Menengah; Densifikasi Bangunan; Kota