Gending Gereja R.C. Hardjasoebrata :: Sebuah akulturasi
SUBUH, Prof.Dr. I Made Bandem, MA
2003 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaPenelitian ini mencoba menelaah satu karya karawitan yang dicipta pada masa transisi, dari masa penjajahan ke masa kemer- dekaan. R.C. Hardjasoebmta adalah satu di antara komponis karawitan lainnya yang muncul pada masa transisi tersebut, dan dapat mewakili gambaran adanya suatu proses perubahan budaya dalam hal karawitan. Salah satu ciptaan R.C. Hardjasoebrata yang dapat mewW representasi pribadinya ad& gending gereja yang dirintisnya sejak tahun 1926. Agar dapat menelaah gending gereja karya R.C. Hardja- subrata secara mendalam, maka di dalam penelitian ini dqunakm pendekatan multidisiplin yang terdiri dari pendekatan antropologi, sosiologi, dan etnomusikologi. Dengan berbagai pendekatan ter- sebut dapat diketahui bahwa gending-gending gereja R.C. Hardja- soebrata mempunyai peranan yang sangat penting dalam sejarah inkulturasi gending gereja Jawa. R. C. Hardjasoebrata memasdskan unsur-unsur musik Barat ke dalam karawitan, yang menghasilkan karya “baru†gaya Hardja- soebratan dengan ciri khasnya antara lain, semua gending gereja R. C. Hardjasoebrata berlaras pelog, berbentuk sekur gending yaitu bentuk gending yang menekankan pada garapan vokal (sekcu). Selain gending yang ber-Zumpah 4 seperti gending yang sudah ada sebelumnya, terdapat pula gending-gending yang ber- Zvah 3 dan 6. Dalam hal garapan vokal terdapat aransemen dalam suara 1,2,3, dan 4 kontrapungtis dengan jalinan melodi horizontal. Inovasi baru R.C. Hardjasoebrata ternyata turut memberi warna pada peta perkembangan karawitan Jawa Salah seorang seniman karawitan yang kemudian mengembangkan inovasi R. C. Hardjasoebrata tersebut adalah Ki Nartasabda, yang mengem- bangkan garap gending lump& 3 dan garap vokal polifoni sum 1, 2 dalam jalinan melodi yang horizontal (melodis-ritmis mandiri). Hal tersebut sesuai dengan motivasi R.C. Hardjasoebrata yang bertujuan mencipta gending-gending baru, tetapi tanpa harus mengganti konvensi yang sudah ada dan tidak hanya sekedar ingin menambah jumlah, akan tetapi ingin menambah kekayaan karawitan.
This research tries to understand a kuruwitan creation, which was created during transition time hm colonial to Independence Day of time. R.C. Hdjasoebrata was one of kwuwitan composers who came up in the transition time, and he represents as a figur that changed the process of culture in kurawitan composition. One of R. C. Hardjasoebmta creations, which can represent his personality, is gending gereja (church song), that was introdused since 1926. This research uses multidisciplinary approach to understand deeply gending gereja as R.C. Hardjasoebrata creation. The approach consists of anthmpology, sociology and ethnomusicology approach. By using some approaches above, we realize that the gending gereja as R. C. Hardjasoebrata creations have a veIy impor- tant role in Javanese gending gereja transformation. R.C. Hardjasoebrata used Western music components into the kuruwiturz, which produced a new special charactek creation of Hardjasoebmtan’s style, that is that all of R.C. Hardjasoebrata gending gereja creation has pelog pattern, in sekar gending pattern, a gending pattern emphasizes in vocal creation (selcar). Beside a gending which has Zumpah 4 (four steps), there are Zamguh 3 and 6 gending. In a case with vocal creation, there is an arrangement in l., 2, 3 and 4 voice, counterpoint with horizontal melodic instruments. The innovation of R.C. Hardjasoebrata seemed to give a color in developmented map of Javanese kuruwitan. A kuruwitan artist who improved R.C. Hardjasoebrata innovation was Ki Nartasabda who developed lamp& 3 gending pattern and polyphony vocal creation of 1, 2, voice in horizontal melody (independent melodic- rhythmic). It adjusted to R.C. Hdjasoebrata motivation, which meant to create new gendings, without changed a precedence convention and it was not solely adding its quantities but to enrich the karawitan art.
Kata Kunci : Musik Gereja,Gending Gereja,RC Hardjasoebrata, The acculturation in karawitan