MENYELAMI PERSPEKTIF PEREMPUAN MENGENAI PERAN DAN POSISI DI WILAYAH PERKEBUNAN KAKAO DESA SAMBALIWALI, SULAWESI BARAT
MULYA FITRI, Milda Longgeita Pinem, S.Sos, M.A., Ph.D.
2021 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPerempuan di ranah domestik dan publik merupakan isu yang penting untuk diperbincangkan. Aktivitas mereka yang fokus di ranah domestik terkadang dipandang sebagai bentuk ketidakadilan gender terhadap perempuan. Kemudian muncullah berbagai kebijakan dan kondisi yang mengharuskan perempuan terlibat di ranah publik dan berbagai kerja sosial. Hal tersebut mengundang respon yang berbeda, antara beban ganda ataukah aktualisasi diri perempuan. Ketika mengamati kehidupan petani di pedesaan, khususnya rumah tangga yang berada pada kondisi ekonomi rentan, keterlibatan perempuan di ranah publik seperti pertanian, bukan dikarenakan adanya kebijakan atau kesadaran yang timbul setelah mendengar cuitan ilmuan tentang kesetaraan gender, melainkan kondisi yang menempatkan mereka tidak memiliki pilihan. Sayangnya kebanyakan topik dan kebijakan terkait perempuan muncul dari pengamatan orang luar terhadap kehidupan mereka, tanpa menghadirkan pola pikir mereka. Penelitian ini adalah studi etnografi tentang perspektif perempuan Sambaliwali yang tinggal di wilayah perkebunan kakao Desa Sambaliwali mengenai peran dan posisi mereka dalam rumah tangga dan masyarakat. Teori standpoint digunakan untuk membantu peneliti memberi ruang kepada informan dalam menyampaikan perspektif mereka sendiri berdasarkan kondisi yang sedang dialami. Lokasi penelitian di Desa Sambaliwali, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, percakapan sehari-hari, dan dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian. Beberapa temuan dalam penelitian ini diantaranya: Pertama, perspektif diri perempuan dipengaruhi oleh konstruksi sosial perempuan di Desa Sambaliwali. Mereka cenderung mereproduksi konstruksi sosial khususnya konsep perempuan ideal. Kedua, perspektif domestik juga masih dipengaruhi oleh konstruksi kultur, tetapi mereka masih memiliki ruang negosiasi. Oleh karena itu, pada wilayah domestik perempuan terlihat powerfull dan dominan khususnya pengelolaan keuangan rumah tangga, serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Ketiga, pada ranah publik, perempuan terlibat dalam berbagai pekerjaan suami, seperti berkebun, beternak, dan membuat gula merah. Adapun pada kondisi tertentu perempuan dapat mengambil alih seluruh pekerjaan, yaitu ketika suami sakit atau sedang disibukkan dengan dengan urusan dan pekerjaan lain. Mengacu pada temuan tersebut, terdapat beberapa rekomendasi untuk Kajian Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, pemangku kebijakan, serta masyarakat luas agar memahami perspektif dan kondisi perempuan. Tesis ini ditutup dengan final reflection bahwa setiap individu dan rumah tangga memiliki pemaknaan dan implementasi yang berbeda atas nilai dan norma yang berlaku.
Women in the domestic and public spheres are important issues to discuss. Their activities that focus on the domestic sphere are sometimes seen as a form of gender injustice against women. Then came various policies and conditions that required women to be involved in the public sphere and various social work. It invites different responses, between double burdens or women�s self-actualization. When observing the lives of farmers in rural areas, especially households that are in vulnerable economic conditions, the involvement of women in the public sphere such as agriculture is not due to policies or awareness that arises after hearing scientists' tweets about gender equality, but a condition that puts them without a choice. Unfortunately, most topics and policies related to women emerge from outside observations of their lives, without presenting their mindset. This research is an ethnographic study of the perspective of Sambaliwali women living in the cocoa plantation area of Sambaliwali Village regarding their roles and positions in the household and community. Standpoint theory is used to help researchers provide space for informants to convey their own perspectives based one the conditons they are experiencing. The research location is in Sambaliwali Village, Luyo District, Polewali Mandar Regency, West Sulawesi Province. The informants in this study amounted to 15 people who were obtained using purposive techniques. Data were obtained through observation, interviews, daily conversations, and documents related to the research topic. Some of the findings in this study include: First, self-perspective is still influenced by the social construction of women in Sambaliwali Village. Women tend to reproduce social constructions, especially the concept of the ideal woman. Second, the domestic perspective is also still influenced by the construction of culture, but they still have room for negotiation. Therefore, in the domestic area, women are seen as powerful and dominant in managing household finances, as well as being involved in the decision-making process. Third, in the public sphere, women are involved in various husband�s jobs, such as gardening, raising livestock, and making brown sugar. As for certain conditions, women can take over all the work, namely when the husband is sick or is busy with other matters and work. Referring to these findings, there are several recommendations for the Study of Social Development and Welfare, policy makers, and the wider community in order to understand women's perspectives and conditions. This thesis is closed with final reflection thar each individual and household has a different meaning and implementation of the prevailing values and norms.
Kata Kunci : Perempuan Sambaliwali, perspektif, peran, posisi