Toleransi Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik Kampung Kota di Kota Surakarta (Studi Kasus: Kampung Mloyokusuman, Kampung Pringgolayan, Kampung Karengan)
RAYI ANINDYA P P, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A.
2022 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAHasil evaluasi dari SDGs poin ke-11 pada tahun 2018 menyebutkan bahwa penyediaan ruang terbuka publik di perkotaan masih kurang. Khususnya, kondisi demikian sangat terlihat di kampung kota. Keterbatasan lahan di kampung kota akibat kepadatan penduduk dan bangunan menyebabkan tidak tersedianya ruang terbuka publik yang dapat dibangun secara khusus. Di sisi lain, ruang terbuka publik memiliki fungsi yang sangat beragam bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelittian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, jenis, dan pemanfaatan ruang terbuka publik di kampung kota serta melihat bentuk toleransi di dalamnya. Keterbatasan lahan tidak membuat kampung kota berhenti menyediakan ruang terbuka publik bagi warganya. Dengan begitu, tiga sampel kampung kota yang dianggap mewakili karakteristik kampung kota di Kota Surakarta ditentukan. Ketiga kampung tersebut adalah Kampung Pringgolayan, Kampung Karengan, dan Kampung Mloyokusuman. Penelitian ini menggunakan metode behavioral mapping: place centered mapping untuk mengidentifikasi pemanfaatan ruang terbuka publik di kampung kota. Selain itu, penelitian juga menggunakan kuesioner yang dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi bentuk toleransi yang terbentuk pada proses pemanfaatan ruang terbuka publik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beragam pemanfaatan yang dilakukan masyarakat. Pemanfaatan ini dapat berbeda menurut tiga pelaku kegiatan utama di ruang terbuka publik. Bahkan, pemanfaatan ruang terbuka publik yang ada di kampung kota membentuk tiga pola klasifikasi: linier, kluster, dan terpusat. Selain itu, pada setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat, karakter toleransi yang terbentuk juga terlihat. Sikap toleransi tersebut merupakan bentuk adaptasi masyarakat dalam mengatasi keterbatasan ruang yang ada sehingga segala kegiatan yang mereka butuhkan dapat terakomodasi.
The evaluation results of the 11th SDGs point in 2018 stated that the provision of public open space in urban areas was still lacking. In particular, this condition is very visible in urban villages. Limited land in urban villages due to population density and buildings causes the unavailability of public open spaces that can be specially built. On the other hand, public open space has diverse functions for the community. Therefore, this research aims to determine the form, type, and utilization of public open space in urban villages and to see the form of tolerance in it. Limited land does not stop urban villages from providing public open spaces for their citizens. In this way, three samples of urban villages considered representative of the characteristics of urban villages in Surakarta City is determined. The three villages are Pringgolayan Village, Karangan Village, and Mloyokusuman Village. This study uses a behavioral mapping method: place-centered mapping to identify the use of public open spaces in urban villages. In addition, the study also used a questionnaire that was analyzed descriptively to identify the form of tolerance formed in the process of utilizing public open spaces. The results of this study indicate that there are various uses made by the community. This utilization may differ according to the three main activity actors in public open spaces. The use of public open spaces in urban villages forms three classification patterns: linear, clustered, and centralized. In addition, in every activity carried out by the community, the character of tolerance that is formed is also visible. This attitude of tolerance is a form of community adaptation in overcoming the limitations of the existing space so that all activities that they need can be accommodated.
Kata Kunci : Ruang Terbuka Publik, Pemanfaatan, Toleransi, Kota Surakarta