Kerasionalan penggunaan obat pasien rawat jalan dan pengelolaan obat di Rumah Sakit Umum Muntilan Kabupaten Magelang Tahun 2002
SUDJIATI, Asih, Dr. Imono Argo Donatus, SU.,Apt
2003 | Tesis | S2 Ilmu FarmasiPraktek penggunaan obat secara tidak rasional sering ditemukan di rumah sakit antara lain , penulisan obat non generik, banyak macam obat , antibiotik lebih dari satu, obat non formularium, serta obat yang tidak sesuai dengan indikasi. Ketidakrasionalan penggunaan obat maka secara ekonomi akan membebani pasien dengan membayar lebih mahal, dibanding bila peresepannya rasional, di samping itu akan mempengaruhi penyediaan obat dan keuangan di instalasi farmasi. Untuk itu telah dilakukan penelitian seperti apa pola penggunaan obat khususnya pasien umum rawat jalan, kerasionalan penggunaan obat di poliklinik spesialis anak khusus pasien Primer Kompleks Tuberkulose (PKTB) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) non pneumonia, dan pengelolaan obat di RSU Muntilan. Penelitian dilakukan dengan rancangan deskriptif analitik bersifat retrospektif terhadap pasien umum rawat jalan bulan Januari – Maret 2002 yang masuk ke instalasi farmasi. Sampel diambil secara acak berjumlah 703 lembar resep, wawancara mendalam dengan dokter poliklinik , petugas gudang obat dan petugas di pelayanan rawat jalan instalasi farmasi, untuk memperjelas faktor – faktor yang mempengaruhi penggunaan obat dan pengelolaan obat di RSU Muntilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penggunaan obat di poliklinik RSU Muntilan khususnya pasien umum tidak rasional, karena purata obat per resep rata – rata 2,8; obat antibiotik yang ditemui 39,3 %; penulisan resep dengan nama generik 43,67 %, 2) Pola pengobatan di poliklinik spesialis anak khusunya pasien PKTB dan ISPA non pneumonia tidak rasional, dilihat dari perbedaan antara peresepan dengan pedoman pengobatan Depkes RI., ( 2001 ) dan rata – rata biaya peresepan pada bulan Juli 2002 untuk ISPA non pneumonia Rp 24.838,- 2 X lipat bila dibanding dengan pedoman pengobatan Rp 12.575,-, dan PKTB anak sebesar Rp 30.908,- 4 X lipat bila dibanding dengan pedoman pengobatan Rp 8.948,- 3 ) pengelolaan obat di instalasi farmasi sudah efisien dapat dilihat dari indikator pendapatan bersih target tribulan I tahun 2002 sudah terpenuhi, tidak adanya hutang yang belum terbayar saat jatuh tempo, 100 % kecocokan antara stock obat dan fisik obat di gudang, obat kadaluwarsa tidak melebihi 10 % yaitu obat inpres 2,75 % dan obat swakelola 2,43 %, dan resep yang tidak terlayani 0,58 % karena obat kosong, dan 1,57 % obat diluar formularium.
Kata Kunci : Obat,Rasionalitas Pemakaian,Rawat Jalan