Laporkan Masalah

Banjar sebagai basis pariwisata budaya :: Studi di Kabupaten Badung, Jembrana, Gianyar dan Kota Denpasar; Kajian awal Banjar-banjar kawasan wisata Kuta dan Carangsari Kab. Badung, Banjar-banjar Kota Negara, Melaya dan Mendoyo Kab. Jembrana, Banjar-banjar Sukawati, Ubud dan Blahbatuh Kab. Gianyar, Banjar-banjar kawasan wisata Sanur dan seputar Kota Denpasar

KUSUMAEDI, I Komang, Dr. Purwo Santoso, MA

2003 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Banjar sebagai Komunitas Otonom dengan Adat dan Kebudayaan Bali sebagai potensi khas dan unik, menjadi daya tarik tersendiri yang diminati para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Disatu sisi potensi Banjar sebagai Self Governing Community belum maksimal dikembangkan menjadi Basis Pariwisata Budaya, sedangkan di sisi lain bisa menjadi kunci bagi upaya pencapaian tujuan pengembangan pariwisata sekaligus pelestarian Kebudayaan Bali. Banjar kaya akan instrumen penguat budaya, kaya akan nilai- nilai tradisi Bali dan memiliki keunikan serta kekhasan tersendiri. Banjar yang menjadi sumber dan pendukung utama Kebudayaan Bali itu, seharusnya bisa berbuat banyak dalam mengelola berbagai peluang dan sumberdaya pariwisata di wilayahnya. Apalagi jika Krama Banjar meyakini bahwa Banjar adalah benteng terakhir Bali dalam ketahanan adat dan budaya sekaligus pendukung utama Pariwisata Bali. Banjar sebagai Self Governing Community mampu menjadi Basis Pariwisata Budaya berdasarkan pada 3 (tiga) hal pokok, yaitu : (1) Kemampuan Banjar dalam mengelola Obyek dan Atraksi Wisata, (2) Kemampuan Banjar dalam memanfaatkan Produk dan Tenaga Kerja Lokal, (3) Kemampuan Banjar melestarikan Adat dan Kebudayaan Bali. Sedangkan respon Krama Banjar dalam kepariwisataan merupakan partisipasi aktif Krama Banjar dalam upaya melestarikan alam dan lingkungan sebagai implikasi dari keterlibatan Banjar dalam kontrol sosial lingkungan pariwisata.

Banjar, as an autonomy community based on the custom and culture of Bali with a unique potency, becomes a specific attraction for domestic and foreign tourists. At one side, the potency of Banjar as Self Governing Community has not maximal enough to be a Basis for Culture Tourism. On the other side, the potency of Banjar could be a main key to reach the goal of tourism development and the maintenance of Balinese culture. Banjar is rich of culture instruments, tradition, values and has its own uniqueness. Banjar, as a source and main supporter af Balinese culture, suppose to do a lot of things in managing every tourism resources and chances on it’s the last castle of Bali to endure the custom and culture and also the main supporter of Bali Tourism. Banjar, as Self Governing Community, can be the Basis for Culture Tourism based on three main principals, that are ; (1) The ability of Banjar in managing Tourism Object and Attraction; (2) The ability of Banjar in empowering local product and manpower; (3) The ability of Banjar in maintaining Balinese culture and custom; where as Krama Banjar’s role in tourism constitutes and active participation of Krama Banjar itself in the maintenance of nature and environment as an implication of Banjar’s role in social control of tourism environment.

Kata Kunci : Banjar,Pariwisata Bali, Banjar, Self Governing Community, Culture Tourism, Balinese Culture and Custom

  1. S2-2003-IKomangKusumaedi-abstract.pdf  
  2. S2-2003-IKomangKusumaedi-bibliography.pdf  
  3. S2-2003-IKomangKusumaedi-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2003-IKomangKusumaedi-title.pdf