Laporkan Masalah

Ketika Lelaki dan Perempuan Melawan: Relasi Gender dalam Gerakan Sosial Penolakan Penambangan Pasir

ANGGI FITRIANI, Evi Lina Sutrisno, S. Psi., M.A., Ph. D

2021 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Penolakan terhadap penambangan pasir alat berat di Pakem terjadi sejak tahun 2010 sampai 2020, berakar dari rusaknya alam sungai Boyong: penunjang kemudahan hidup warga setempat. Rusaknya sungai Boyong, berikut berbagai masalah turunannya mengungkit gerakan sosial: menolak penambangan dengan menggunakan alat berat di Pakem. Gerakan ini, dipantik oleh perempuan asal Glondong, dimulai dengan aksi tunggal di Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Pakem. Setelah itu, muncul pelbagai penolakan baik dari laki-laki maupun perempuan desa Purwobinangun, Pakem. Dengan menggunakan model telaah a la De la Porta dan Diani yang mempolakan gerakan sosial berproses secara beruntun-emergence, coalescence, bureaucratization, dan decline-studi ini mengungkap tantangan dan dinamika dari gerakan sosial perempuan dan laki-laki desa Purwobinangun. Ditemukan bahwa pada tahap emergence dan coalescence, menghasilkan kelokan yang tidak terduga di mana para perempuan justru tereksklusi pada tahap selanjutnya dalam perjuangan terhadap penolakan penambangan alat berat.

The rejection of heavy equipment sand mining in Pakem occurred from 2010 to 2020, rooted in the natural destruction of the Boyong river: supporting the ease of living for local residents. The destruction of the Boyong River, along with its various problems, has raised social movements: rejecting mining using heavy equipment in Pakem. This movement, initiated by a woman from Glondong, began with a single action at the Pakem Police Sector Headquarters (Mapolsek). After that, various rejections emerged from both men and women in the Purwobinangun village, Pakem. By using a study model a la De la Porta and Diani which patterned social movements in successive processes -emergence, coalescence, bureaucratization, and decline- this study uncovers challenges and dynamics of the social movements of women and men in the village of Purwobinangun. It was found that, at the stage of emergence and coalescence, it resulted in an unexpected turn where women were excluded at a later stage in the struggle against the rejection of heavy equipment mining.

Kata Kunci : Gerakan sosial, Perempuan, Penambangan pasir alat berat, Sungai Boyong.

  1. S1-2021-409899-abstract.pdf  
  2. S1-2021-409899-bibliography.pdf  
  3. S1-2021-409899-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2021-409899-title.pdf