Analisis Rational Choice dalam Penanganan Perdagangan Satwa Dilindungi di Daerah Istimewa Yogyakarta
MILKA BELLANTY YOLANDA, Dr. RB. Abdul Gaffar Karim, S.I.P., M.A.
2021 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi kerja sama antar aktor pemerintah (BKSDA DIY dan POLDA DIY) serta aktor masyarakat (WRC, COP, AFJ dan masyarakat umum) dalam bekerja sama menangani perdagangan satwa dilindungi di Yogyakarta. Setelah diteliti lebih lanjut, keterlibatan aktor dalam sebuah relasi kerja sama didasari oleh perbedaan serta keterbatasan aktor akan sumber daya. Dengan demikian hubungan kerja sama antar aktor adalah hubungan kuasa dan kepentingan dalam mengakses sumber daya. Pemerintah sebagai lembaga tertinggi memiliki sumber daya yang menjadi basis kekuatan mereka yaitu kuasa legal formal. Sumber daya ini memberikan kekuatan bagi aktor pemerintah untuk mengakses sumber daya lain yang menjadi kepentingannya. Berbeda dengan aktor pemerintah, aktor masyarakat tidak memiliki kuasa untuk mengakses sumber daya yang dimiliki oleh aktor lain tanpa terlibat dalam relasi kerja sama. Dalam relasi kerja sama tersebut terjadi pertukaran sumber daya dan diharapkan dapat memberi keuntungan bagi setiap aktor. Relasi kerja sama antar aktor dalam penanganan perdagangan satwa dilindungi di Yogyakarta dianalisis menggunakan teori rational choice atau pilihan rasional. Penggunaan teori ini dapat menjelaskan bahwa keterlibatan aktor dalam kerja sama didasari oleh nilai atau pilihan dalam dirinya dengan dasar untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi literatur. Penelitian ini memberi kesimpulan bahwa aktor yang terlibat dalam penanganan perdagangan satwa terdiri dari aktor rasional dan aktor irasional. Aktor rasional adalah mereka yang bekerja sama dengan motif untuk memenuhi sumber daya yang menjadi kepentingannya, sehingga mereka memperoleh keuntungan dari kerja sama tersebut. Sedangkan aktor irasional adalah aktor yang tidak memperoleh timbal balik dari kerja sama ini karena kontribusi mereka berdasarkan pada kepedulian terhadap satwa tanpa adanya kepentingan di dalamnya. Meskipun tanpa adanya keuntungan, aktor tersebut tetap bersedia bekerja sama menangani perdagangan satwa.
This study aims to analyze the cooperative relationship between government actors (BKSDA DIY and POLDA DIY) as well as community actors (WRC, COP, AFJ and the general public) in working together to deal with the trade in protected animals in Yogyakarta. After further investigation, the involvement of actors in a cooperative relationship is based on differences and actors' limitations on resources. Thus the cooperative relationship between actors is a relationship of power and interest in accessing resources. The government as the highest institution has resources that become their power base, namely formal legal power. These resources provide power for government actors to access other resources that are of interest to them. In contrast to government actors, community actors do not have the power to access resources owned by other actors without being involved in cooperative relations. In this cooperative relationship there is an exchange of resources and is expected to provide benefits for each actor. Cooperation relations between actors in handling the trade in protected animals in Yogyakarta were analyzed using rational choice theory. The use of this theory can explain that the involvement of actors in cooperation is based on values ��or choices in themselves on the basis of achieving certain goals. This research is a qualitative research with case study method. Data collection in this study was done through observation, interviews and literature study. This study concludes that the actors involved in handling the wildlife trade consist of rational actors and irrational actors. Rational actors are those who work together with a motive to fulfill the resources that are in their interest, so that they benefit from the cooperation. Meanwhile, irrational actors are actors who do not get reciprocity from this collaboration because their contribution is based on caring for animals without any interest in it. Even if there is no profit, the actor is still willing to cooperate in dealing with the animal trade.
Kata Kunci : Kata kunci: Perdagangan Satwa, Aktor, Sumber Daya, Relasi Kerja Sama, Pilihan Rasional.